Kombes Rikwanto: Beragama Islam Itu Harus Berilmu

Kombes Rikwanto: Beragama Islam Itu Harus Berilmu

SHARE

Publik-News.com – Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto menjadi salah satu narasumber diskusi bertajuk “Menangkal Radikalisme Membumikan Pancasila”. Diksusi ini diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Nasiona (DPN) Gerakan Mahasiswa Kosgoro (Gema Kosgoro) di Wisma Mas Isman, Jl. Teuku Cik Di Tiro, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).

Di hadapan peserta diskusi, Rikwanto memaparkan soal asal-muasal dan pekembangan kolompok teroris ISIS sampai ke Indonesia dan ingin merubah ideologi Pancasila. Pancasila bukan hanya sebagai landasan bagi penyelenggara negara dan pelaksaan sistem pemerintahan, tapi juga Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara, baik dalam berpikir maupun berperilaku. Namun, kolompok teroris ISIS ingin merubah dengan sistem pemerintahan khilafah Islamiyah

Menurut Rikwanto, kolompok teroris ISIS sengaja mempropgandakan tentang Khilafah Islamiyah karena dengan isu itu mereka dapat mendatangkan dan mengumpulkan seluruh umat yang tidak berilmu dari berbagai negara. Setelah berkumpul, mereka yang datang ke ISIS kemudian dikoktrin soal Islam Kaffah (Islam murni), khususnya tentang surga dan neraka.

“ISIS kan ingin membangun khilafah Islamiyah. khilafah islamiyah itu adalah raturba. Jadi orang Islam mendambakan terwujudnya khilafah Islamiyah, kekhalifaan Islam. itu ratunya. prajuruitnya-prajurit2 siapa? para ekstremis-ekstremis radikal di seluruh dunia. Kalau radikal, itu pasti datang. Kalau mu ngundang radikal-radikal itu kasih ratu di situ. Ratunya siapa? Khilafah Islamiyah,” katanya.

Menurut dia, mereka yang beragama tapi tidak berilmu yang datang ke untuk bergabung dengan kolompok teroris kemudian terdeteksi. Misalnya, ada yang datang dari Malyasia, Indonesia dan lain sebagainya. “Setelah kumpul didoktrim, diberikan pelajaran-pelajaran agam yang kaffah, Islam murni,” sebutnya.

Agar tidak terpengaruh dengan kolompok teroris ISIS, Rikwanto kemudian meminta agar umat Islam tidak hanya terpaku pada sebuah teks, tapi juga harus berpikir logis ketika menafsirkan sebuah teks kitab suci.

“Jadi Islam, atau agama apapun, beragama itu harus berilmu. Kalau beribadah, beragama full tidak adanya ilmunya gampang sekali dilumpuhkan dengan asumsi alasan, ditakuti-takuti masuk neraka atau surga. Beragama herus berilmu. Kalau ada majelis agama, pilih majelis agama atau majelis ilmu, diutamakan yang mana? yang ilmu, karena mengutamakan berpikir. ini kunci-kuncinyanya. Kalaua adik-adik tidak ada ilmunya, siap-siap terbawa,” sebut da sambari mencontohkan bahwa Imam Syafi’i memiliki banyak guru sehingga menjadi ulama besar. (PN)

SHARE