Kongres HMI Ambon, Bung Hatta dan Iuran Anggota

Kongres HMI Ambon, Bung Hatta dan Iuran Anggota

SHARE

Mohammad Hatta atau Bung Hatta selain Proklamator Kemerdekaan Indonesia, juga merupakan Ketua Panitia Perencana Sekolah Tinggi Islam (STI) yang diresmikan di Jakarta pada 8 Juli 1945.

Setelah di Jakarta STI dibuka di Yogyakarta pada 10 April 1946, dihadiri Presiden Soekarno dan Wapres Mohammad Hatta. Kemudian pada 14 Desember 1947, Panitia Perbaikan STI mengubah STI menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) yang berkedudukan di Yogyakarta dengan Fakultas perintis di antaranya Fakultas Agama, Hukum, Pendidikan, dan Ekonomi (uii.ac.id).

Nah, di kampus STI Yogyakarta inilah “Himpunan Mahasiwa Islam” berdiri pada 5 Februari 1947 dengan tujuan *mempertahankan* Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembang ajaran agama Islam. Pendirinya utamanya Lafran Pane seorang mahasiswa STI asal Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

STI bukan didirikan oleh Muhammadiyah maupun Nahdhatul Ulama (NU), bukan juga oleh organisasi Persatoen Oemat Islam maupun Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII), tetapi oleh tokoh-tokoh dari keempat organisasi tersebut dan organisasi islam lainnya. Inilah sebabnya STI disebut anak kandung umat Islam.

Sedangkan intelektual muslim yang tidak tergabung dalam organisasi juga banyak sekali berkontribusi. Dalam sejarah pendirian STI mereka disebut kalangan sarjana (intelektual) islam dan ulama perseorangan.

Mohon maaf nama-nama beliau tidak dituliskan disini karena banyak sekali, anda bisa membaca sejarah berdirinya Universitas Islam Indonesia. HMI itu “anaknya” STI, kurang lebih sama dengan “ortunya”, bukan underbow ormas atau partai politik manapun hingga saat ini.

*Kembali ke Bung Hatta dan STI.* Dari mana dana pendirian STI pada 8 Juli 1945 itu?. APBN jelas mustahil, bahkan Indonesia belum merdeka saat itu, ya iuran. Jika membaca riwayat Bung Hatta, kita akan menemukan bahwa iuran anggota dan ideologisasi adalah ciri khas Bung Hatta dalam mendirikan, mengelola organisasi, ia bahkan digelari Bapak Koperasi Indonesia. Begini kisah singkat Bung Hatta dan iuran anggota yang perlu kita resapi

Pada usia 16 tahun, Bung Hatta disepakati rekan sejawatnya menjadi bendahara Jong Sumatera Bond (JSB) cabang Padang (1918-1919). Kecakapan administrasi Hatta terlihat ketika ia berhasil merapikan pembukuan JSB. Hatta lalu hijrah ke Jakarta, ia kembali dipercaya menjadi bendahara JSB merangkap penulis majalah Pedoman Besar milik JSB. Tidak sekedar bendahara, Hatta juga berperan sebagai ideolog yang menjelaskan nilai-nilai dibalik “iuran anggota”.

Hatta tidak membentak mereka yang malas membayar iuran anggota, tapi Hatta mengeluarkan “daftar hitam”berisi nama-nama anggota JSB yang menunggak. Hanya setahun ia sukses menertibkan administrasi organisasi, hasilnya JSB mampu melunasi hutang sebesar f 1000 pada percetakan, bahkan menyisakan saldo f 1200 pada akhir kepengurusan (1920). (Deliar Noer.1990:44).

Rekam jejak Hatta menjadikannya didaulat sebagai bendahara Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda (1922-1925). Ia juga dipercaya sebagai Dewan Redaksi Majalah PI bernama”Indonesia Merdeka”. Setelah itu barulah Hatta dipercaya menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia 1925-1930. Apa pelajaran dari Hatta sepanjang 1918-1930?,

Pertama, kejujuran pengelolaan uang organisasi menjadikan anggota tidak ragu membayar iuran meski di masa sulit. Hatta tidak makan, beli buku, hidup dari uang organisasi.

Kedua, Ketua, sekretaris dan bendahara, ketiganya adalah pemimpin organisasi, hanya beda peran. Meski bukan ketua, Hatta memperlihatkan aksinya melalui kepemimpinan administratif yang melegenda.

Ketiga, Iuran anggota meningkat militansi dan gotong royong anggota organisasi, menumbuhkan kecintaan dan semangat kontrol terhadap pengeluaran organisasi.

Inilah salah satu yang perlu diperbaiki dari cara kita berorganisasi, lihat betapa organisasi mahasiswa, pemuda, ormas, parpol mempraktekkan demokrasi mahal dalam momentum kongres, muktamar, dll. Ini terjadi karena organisasi terlalu sering disiram uang dalam jumlah banyak oleh beberapa orang saja. Sehingga lahir anggapan “kan bukan uang kita”. Hatta juga meminta sumbangan untuk JSB dari para tetua Sumatera di Jakarta, namun itu dilakukan setelah iuran anggota menjadi tradisi.

Keempat, produksi. Majalah dan bulletin merupakan produk wajib organisasi di masa itu. Sejak di JSB, Perhimpunan Indonesia kemudian di PNI, Hatta dan kawan-kawannya menggunakan sebagian iuran anggota untuk produksi majalah. Terbitnya majalah adalah kebahagiaan anggota, mereka merasa bagian yang dilibatkan dalam proses produksi. Majalah itu kemudian dijual untuk menambah pemasukan organisasi.

Hal ini terdokumentasikan dalam buku Daulat Rakyat jilid 1 dan 2. Pada halaman pertama majalah Daulat Rakyat edisi 20 September 1931 tertulis “terbit 10 hari sekali, pengarang di europa: Hatta, Sjarir dan Suparman, harga langganan 1 tahoen f6.–; 3 boelan f 1.50. pembajaran lebih dahoeloe. Advertentie 20 sen satoe baris. Berlangganan lebih moerah dan boleh berdamai. (Yayasan Hatta.2002: 1)

Demikian pelajaran dari Bung Hatta bagi segenap organisasi dan perkumpulan. Kita berharap iuran anggota, kejujuran organisasi, kemandirian organisasi menjadi hal yang juga dibicarakan serius di Kongres Himpunan Mahasiswa Islam yang akan berlangsung di Ambon, pada 9-13 Februari 2018.

Pilihlah bendahara organisasi yang jujur, bendahara yang sungkan meminta uang kepada Pemerintah dan senior sebelum iuran anggota berjalan. Bendahara yang jujur akan menyelamatkan ketua, pengurus serta organisasi itu sendiri. Sebaliknya organisasi akan hancur jika memilih bendahara yang hanya bermodalkan loyalitas pada ketua.

Kita tunggu, siapa bendahara yang dipilih oleh formatur terpilih di Kongres HMI Ambon nanti. Selamat Berkongres dan tolong jangan bikin ricuh seperti di Pekanbaru. Malu kita sama Lafran Pane yang sudah ditetapkan jadi Pahlawan Nasional.

Oleh: Hariqo Wibawa Satria

(Penulis adalah Direktur Eksekutif Komunikonten, Penulis Buku Lafran Pane)

 

Comment