Home Hukum KPK Kembali Didemo Untuk Tangkap Yasonna Laoly dan Ganjar Pranowo

KPK Kembali Didemo Untuk Tangkap Yasonna Laoly dan Ganjar Pranowo

516

Publik-News.com – Sikap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang belum mentapkan Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly dan Mantan pimpinan Komisi II DPR Ganjar Pranowo sebagai tersangka dugaan korupsi e-KTP membuat banyak kalangan tak habis pikir. Padahal, Yasonna beberapa kali mangkir dari panggilan KPK untuk diperiksa dalam kasus dugaan korupsi mega proyek e-KTP.

Sementara Ganjar Pranowo yang kini sebegai Gubernur Jawa Tengah, itu sudah diintrogasi oleh penyidik KPK. Namun, dia masih belum menyandang status tersangka, seperti halnya Ketua DPR RI Setya Novanto. Sebagai lembaga penegak hukum, KPK mestinya tidak tebang pilih.

Lambannya sikap KPK membongkar dugaan kasus korupsi e-KTP ini membuat banyak pihak gerah. Komando Aksi Mahasiswa dan Pemuda Anti Korupi (KOMPAK) adalah salah satu contohnya.

Massa KOMPAK kemudian mendatangi gedung KPK. Mereka mendemo lembaga adhoc pimpinan Agus Rahardjo itu untuk menetapkan dan menangkap para pihak yang diduga menerima aliaran duit korupsi dari proyek e-KTP.

Koordinator Lapangan (KOMPAK), Santoso AS, mengatakan KPK harus bersikap adil dalam menegakkan hukum. KPK jangan hanya menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka dan ditahan. Masih ada sejumlah nama yang diduga menerima duit korupsi e-KTP masih berkeliaran di luar tahanan.

“KPK segea tangkap dan adili para penikmat korupsi e-KTP tanpa pandang bulu. Rakyat dukung KPK, hebat. Untuk Yasonna Laoly segera dahulukan bisa abuse of power,” kata Santoso saat manyampaikan orasinya.

Selain Yasonna dan Ganjar Pranowo, massa KOMPAK juga meminta agar KPK segera mengeluarkan menggelar gelar perkara untuk kemudian mengeluarkan surat perintah penyidikan (sprindik) kepada nama-nama yang disebut menerima duit haram dari mega proyek yang merugikan keuangan negara senilai Rp 2,3 trilun itu.

“Gamawan Fauzi, Tamsil Linrung, Teguh Juwarno, Oli Dondokambey, Ade Komaruddin, Jafar Hafsah, Mekeng dan lain-lain harus dijadikan tersangka dan ditangkap,” sebut Santoso. (TK/PN)

Comment