Tanpa syarat, tanpa pertanyaan

Tanpa syarat, tanpa pertanyaan

SHARE

Oleh Mariska Lubis

Ketika banyak yang merasa berbeda dan ingin diperlakukan berbeda, pada saat itu jugalah nampak jelas persamaan dan tidak ada yang istimewa. Ketika fakta dan logika menjadi keagungan, pada saat itu jugalah ada jiwa dan rasa yang terhapus. Ketika kebenaran itu adalah yang dapat diterima, di sana jugalah Allah menjadi tanda tanya.

 

Topik perbincangan masyarakat Indonesia di mana-mana hampir serupa dan sama. Tak jauh dan tak lepas dari seputar para pesohor dengan segala macam bumbu-bumbu sinetron yang menegangkan dan memicu emosi. Kaya miskin, pintar bodoh, di warung kopi di bintang lima, sama saja. Walaupun tidak mau disamakan, tetapi jelas memiliki sebuah kesamaan, yaitu terseret arus kekinian. Diakui tak diakui, tak ada yang istimewa bila semua sama saja. Alasan perbedaan tidak lagi menjadi berguna, karena hanya akan menyakiti diri yang terus beralasan.

 

Begitu asyiknya semua itu hingga menjadi ketakutan tersendiri untuk mau meninggalkan dan melepaskannya. Bak orang aneh dan tidak normal bila menyingkir dan tidak mau terbawa arus, sementara untuk merasa sama dan tidak meminta diistimewakan pun tak mau. Fakta dan logika menjadi kebingungan ketika berbenturan dengan fakta dan logika dari sisi yang lain. Kebenaran yang dimaksud pun menjadi rancu sebab selalu ada yang menjadi garis pembatas yang menjadi sangkar kurungan diri.

 

Allah pun kemudian dipertanyakan, padahal Allah dibawa-bawa juga di banyak kesempatan. Mudah bila Allah menjadi objek, tapi memang tidak semudah itu bila Allah menjadi Subjek dari segalanya. Pada saat Allah sudah menjadi subjek inilah sesungguhnya kebenaran itu ada dengan segala kearifan, keadilan, dan kebijaksanaannya tanpa perlu lagi terkurung fakta dan logika yang membatasi. Akan ada banyak sekali topik perbincangan yang jauh lebih menarik untuk dibicarakan, sebab semua yang diciptakan Allah adalah indah di mataNya dan semua yang terjadi adalah karenaNya.

 

Sudah sangat jelas disebutkan bahwa Allah membutuhkan orang yang mengerti. Mengerti bukan hanya pintar sebab orang pintar bisa keminter. Mengerti bukan hanya terbatas fakta dan logika sebab Allah memberikan hati dan semua indera untuk merasakan. Mengerti bahwa untuk mengubah keadaan sebuah negeri adalah dengan mengubah diri sendiri dulu. Paling tidak, mengubah pola pikir dengan tidak lagi menjadikan Allah sebagai objek, tetapi benar-benar sebagai subjek. Maukah melakukannya untuk Allah tanpa ada alasan, tanpa ada syarat, dan tanpa ada pertanyaan?!

Comment