LGBT dan Bayang-Bayang Petaka Sodom

LGBT dan Bayang-Bayang Petaka Sodom

SHARE

“Benarkah MK Melegalkan Zina dan LGBT?” Itulah tema diskusi Indonesia Lawyers Club (ILC) di salah satu televisi pada 19/12/2017. Acara itu –mudah diduga- adalah respon atas ditolaknya Judicial Review KUHP pasal 284, 285 dan 292 yang diajukan Aliansi Cinta Keluarga (AILA).

Jangan Ulang
Judicial Review yang diajukan AILA: Mahkamah Konstitusi (MK) diminta mengubah pasal 284 KUHP agar juga berlaku bagi semua umur, khususnya terkait homoseksualitas. Intinya, AILA ingin memperluas pengertian, sebab “Kita menyaksikan kemerosotan moral terus terjadi,” kata Rita Soebagio, Ketua AILA (www.bbc.com 04/08/2016).

Atas penolakan MK, “Putusan ini akan berdampak pada semakin rentannya masyarakat terhadap kejahatan kesusilaan seperti seks bebas, perkosaan dan perilaku LGBT. Putusan ini juga akan menyuburkan gerakan dan pemikiran anti-moral dan agama yang berusaha menjauhkan masyarakat dari jatidiri bangsa yang berketuhanan dan berkemanusiaan yang adil dan beradab,” kata Rita Soebagio (www.wartapilihan.com 14/12/2017).

Keprihatinan AILA sangat bisa kita fahami. Praktik LGBT, kecuali bisa mendatangkan kesengsaraan di dunia antara lain lewat berbagai penyakit yang ditimbulkannya, juga menjadi faktor kuat pengundang adzab Allah.

Dalam hal penyakit, Dewi Inong Irana -Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin- menyebutkan bahwa banyak macam Infeksi Menular Seksual (IMS) yang ditimbulkan LGBT. Resiko tertinggi tertular IMS dan HIV/AIDS berasal dari LGBT.

Mengambil data dari Kementerian Kesehatan Amerika, Inong menyebutkan, 55 persen penderita AIDS di Amerika adalah pelaku LGBT. Sementara, tambah dia, 1 dari 4 Lelaki Seks Lelaki (LSL) terkena HIV/AIDS (www.hidayatullah.com 20/12/2017).

Lalu, bagaimana dengan adzab Allah? Apa yang menimpa warga Sodom dan Pompei bisa dijadikan contoh abadi. Kita buka lagi kisahnya.

Kaum Nabi Luth As mempraktikkan perilaku seks menyimpang dan belum dikenal sebelumnya, yaitu homoseksual. Homoseksual itu perilaku keji antara lain karena merusak jalan keturunan.

Ketika Luth As menyeru untuk menghentikan penyimpangan itu, mereka bukan saja mengabaikannya, tapi malah menantang. “Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: ’Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemunkaran di tempat-tempat pertemuanmu?’. Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ‘Datangkanlah kepada kami adzab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar’. Luth berdoa: ‘Yaa Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan adzab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu’.” (QS Al-Ankabuut [29]: 28-30).

Lalu, datanglah adzab Allah. “Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi” (QS Huud [11]: 82). “Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu” (QS Asy-Syu’araa’ [26]: 173). “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia)” (QS Al-Hijr [15]: 73-76).

Ada catatan, Sodom adalah nama kota yang dihancurkan itu dan terletak di dekat pantai Laut Tengah. Di “Ensilopedia Al-Qur’an” karya Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dan kawan-kawan, ada penjelasan bahwa kota tempat tinggal kaum Luth itu benar-benar sering dilewati orang-orang Quraisy yang pergi ke Syam. Mereka bisa melihat bekas-bekasnya.

Jika Sodom adalah contoh pertama, maka Pompei adalah semacam pengulangan Sodom. Tentang Pompei, berikut ini petikan agak panjang dari www.harunyahya.com.

Pompei, sebuah simbol kemerosotan Kekaisaran Romawi. Warganya juga melakukan perilaku seks menyimpang dan dengan kesudahan yang serupa yaitu dihancurkan oleh letusan gunung Vesuvius.

Lava dan debu dari letusan vulkanis dahsyat (pada tahun 79 M, pen.) memerangkap warga kota tersebut. Bencana itu terjadi begitu tiba-tiba, sehingga segala sesuatu di kota itu terperangkap di tengah kehidupan sehari-hari dan hingga kini tetap seperti apa adanya. Seolah-olah waktu telah dibekukan.

Pemusnahan Pompei dari muka bumi dengan bencana dahsyat bukan tanpa alasan. Catatan historis menunjukkan bahwa kota tersebut adalah sarang foya-foya dan perilaku menyimpang. Kota ini dikenal dengan perkembangan pelacurannya yang pesat sampai-sampai jumlah rumah bordil tidak terhitung lagi. Tiruan alat kelamin dalam ukuran aslinya digantungkan di depan pintu-pintu rumah bordil.

Lava Vesuvius telah menyapu bersih seluruh kota dari peta dengan seketika. Segi yang paling menarik dari peristiwa ini adalah bahwa tidak ada seorangpun yang (sempat) melarikan diri walau sedemikian hebohnya letusan Vesuvius. Sepertinya mereka sama sekali tidak menyadari akan datangnya bencana tersebut. Mereka tertegun seolah-olah sedang terkena mantra. Misal, sebuah keluarga yang sedang menyantap makanan membatu saat itu juga. Banyak pasangan ditemukan membatu dalam keadaan sedang berhubungan badan. Dalam kaitan ini, hal yang paling menarik adalah bahwa terdapat pasangan berjenis kelamin sama dan pasangan muda-mudi yang masih kecil. Wajah dari beberapa jasad membatu yang digali dari Pompei tidak rusak. Ekspresi dari wajah-wajah tersebut pada umumnya menunjukkan kebingungan.

Terus Kritisi

Alhasil, kita harus terus memberikan kontrol sosial atas perkembangan yang ada di sekitar kita. Teruslah bersikap kritis terhadap berbagai konsep terkait perempuan, anak, dan keluarga yang bertentangan dengan agama dan nilai-nilai moral seperti yang terkandung dalam falsafah hidup bangsa Indonesia. Sungguh, jangan nodai negeri ber-“Ketuhanan yang Maha Esa” ini.

Oleh: M. Anwar Djaelani

 

SHARE
Comment