Luhut Panjaitan: Pilihlah Istri Yang Paten Juga Seperti Pilihan Saya

Luhut Panjaitan: Pilihlah Istri Yang Paten Juga Seperti Pilihan Saya

SHARE

Publik-News.com – Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (jabatan baru) tidak hanya pandai dalam berpolitik, tapi juga pintar mencari istri. Sejak melepas masa lajangnya dan menikah dengan Devi Boru Simatupang, Luhut menjalankan keluarga yang harmonis sampai dikaruniai empat orang anak.

Keempat Nama anak pasangan Luhut-Devi ini adalah Paulina Panjaitan, David Panjaitan, Paulus Panjaitan, Karri Panjaitan. Sebagai tokoh militer, Luhut ingin berbagi trik bagaimana cara mendapatkan pasangan istri yang selalu mengerti situasi dan keadaan. Berikut saran Luhut sebagaimana dipoting di akun facebook pribadinya, Luhut Binsar Panjaitan:

Kalau sudah saatnya kau menikah nanti, pilihlah istri yang paten juga seperti pilihan saya. Saya tidak bisa berada pada posisi sekarang tanpa istri yang selalu mendukung, mengingatkan, dan bahkan menegur saya.

Peran istri itu penting. Carilah istrimu yang baik, yang bisa mendukung kinerjamu.

Tapi kau masih muda, maka saya beri tahu kau supaya jangan cepat cinta-cintaan.

Fokuslah belajar dan bekerja karena dalam waktu 10 tahun ke depan, Indonesia akan masuk ke zaman keemasan. Itu adalah eramu, karena saya sudah terlalu tua untuk ambil bagian pada saat itu.

Saya senang menyampaikan bermacam-macam nasehat, motivasi, dan inspirasi seperti itu kepada anak-anak didik saya di SMA Unggul Del di Desa Laguboti, Sumatera Utara. Saya mengikuti acara pengukuhan dan wisuda siswa Sabtu kemarin.

Saya juga mengundang Menteri Pertanian Pak Andi Amran Sulaiman untuk ikut memberikan pencerahan kepada mereka.

Dari kisah hidup Beliau, kita belajar bahwa tak peduli dari mana saja kita berasal, dari kampung dengan rumah beralaskan tanah sekalipun, kita tetap bisa membangun Negeri ini. Syaratnya, kita harus punya hati yang baik, intelektual yang bagus, kemauan untuk bekerja keras dan disiplin.

Tidak perlu merasa malu kalau kita berasal dari keluarga kurang mampu. Justru kita harus malu kalau kita mencuri, tidak disiplin, tidak mau bekerja keras, atau tidak jujur. Selain daripada itu, untuk apa kita malu?

(Hurri Rauf)

SHARE
Comment