Mahfud MD Jadi Pembicara “Sprit Ramadhan” Panglima Institute

Mahfud MD Jadi Pembicara “Sprit Ramadhan” Panglima Institute

SHARE

Publik-News.com – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Moh. Mahfud MD menjadi penceramah pada acara buka bersama Ramadhan yang digelar Panglima Institute. Acara ini bertajuk “Sprit Ramadhan dan Buka Puasa Bersama” digelar di Manara Batavia Jalan KH. Mansyur, Jakarta Pusat, Jumat (2/6/2017).

Hadir pada kesempatan itu, Dewan Pembina Panglima Institute,SD Darmono, Syahrin Hamid, para advokat, akademisi dan lain sebagainya. Dalam sambutannya, Mahfud memaparkan tentang banyak hal, seperti hubungan agama dan negara, keadilan dan puasa. Mahfud menguarakan satu persatu masalah dan dilandasi dengan kitab suci Al-Quran dan hadis. Ketika berbicara tentang negara dan keadilan, Mahfud mengutip pernyataan Al-Ghazali.

“Anda harus menegakkan nilai agama dan keadilan sosial tapi juga harus punya negara karena nilai agama itu tidak ada gunanya kalau tidak dilindungi oleh negara. itu algazali mengatakan di dalam kitab Al-Ihya Al-Ulumuddin,” papar Mahfud.

Menurut Mahfud, manusia harus memiliki semangat dalam memperjuangkan nilai-nilai nagama. Keadilan sosial hanya dapat ditegakkan dalam sebuah negara dan dilandasi dengan spirit keagamaan. Tanpa spirit keagamaan, penguasa akan memperlakukan rakyatnya sewenang-wenang.

Mahfud juga berbicara tentang konsep khilafah yang selalu didengungkan oleh ormas keagamaan seperti Hizbut Tahrir Indonesia. Sebagai sebuah organisasi keagamaan, HTI, kata Mahfud ingin menerapkan sistem pemerintahan khilafah di Indonesia.

“Agenda utamanya itu membangun khilafah, menolak demokrasi. Itu clear manifestonya begitu. HTI itu dimana-mana pada konferensi HTI Internasional pada tanggal 12/8/2007 di Jakarta, deklarasinya jelas 1, menganggap demokrasi itu haram 2, membangun khilafah dari Tailand Asia tenggara sampai ke Australia sebagai suatu kekhilafahan. Artinya negara yang ada itu harus dilebur menjadi negara transnasional yang disebut khilafah,” katanya.

Namun Mahfud sendiri mengaku tidak setuju dengan gagasan yang diperjuangkan HTI tersebut. Baginya, tidak ada penjelasan di dalam Al-Quran maupun Hadist soal pemerintahan yang menggunakan sistem khilafah tersebut. Bahkan, guru besar Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, ini menantang semua ulama yang menemukan ayat Al-quran maupun hadist Nabib tentang khilafah.

“Saya tantang siapapun ulamanya. Di Al-Quran dimana ada kata khilafah. Saya tantang mana nabi pernah mengatakan hadis ada kata khilafah. Di Al quran saja ada kata kholifah. Itu artinya wakil. Justru kholifah itu kita semua masing-masing karena kholifah disebutkan di Al Quran itu disebutkan itu ketik Allah berfirman kepada para Malaikat sebagai informasi Waidqala Rabbuka lil malaikati inni ja ilun fil ardi khalifah,” tegas Mahfud. (PN)

Comment