Manusia Bunglon

Manusia Bunglon

SHARE

Ada manusia tipe bunglon-penjilat. Dia survive di segala era. Di masa Sukarno, dia nyatakan diri paling kiri. Di era Orde Baru, dia klaim sebagai loyalis pemerintah. Di zaman reformasi, dia kutuki Orde Baru.

Salah satu kutukannya, Orde Baru rasis Anti Tionghoa. Di sisi lain, dia bilang Orde Baru yang membesarkan gurita konglomerasi Tionghoa.

Bunglon masuk kategori Old World lizard. Hewan ini punya ‘superficial layer skin’ yang mengandung pigmen warna. Sel-sel kristal guanine ada di bawah lapisan kulit palsu itu. Keduanya berfungsi sebagai alat kamuflase. Bisa nyaru, ganti warna, ganti muka, sesuai situasi dan kondisi.

Penulis Tedi Setiawan, sedikit-banyak fit kategori Chameleon-like personality. Dia bilang salahkan Orde Baru karena membesarkan “Kelompok Jimbaran”. Lucu, dia juga bisa nulis, “Nah Ahok ini yang dipakai Jokowi untuk “ngatur” para Konglomerat Cina itu”.

Ahok sendiri pernah bilang bahwa Jokowi ngga bakal bisa jadi presiden tanpa dukungan para pengembang. Kok si Tedi bisa bilang Ahok ngatur konglomerat.

Lebih parah, si Tedi bisa-bisanya nulis, “Politisi-politisi Orde Baru itu ngeroyok Ahok dengan segala cara agar kalah di Pilkada dan masuk penjara.”

Entah di mana si Tedi ini tinggal. Sampe-sampe dia ngga tau kalo AHY, Anies, Sandiaga Uno itu bukan “politisi Orde Baru”. Malah, Silviana Murni adalah ex anak-buah Ahok di Pemda DKI. Mereka ini rival Ahok di Pilgub Jakarta.

“Politisi-politisi Orde Baru” sudah lama pensiun. Banyak di antara mereka sudah meninggal dunia. Yang bikin Ahok masuk penjara adalah kasus penodaan agama Pasal 156A KUHP.

Jika pun ada “Politisi-politisi Orde Baru” generasi terakhir macam Agum Gumelar, Wiranto, Setya Novanto, Surya Paloh dan sebagainya justru Pro Ahok.

Di paragraf-paragraf akhir, Tedi Setiawan minta tulisannya dicopas. Biar viral. Cie ciee…pengen ngetop ya, minimal sebeken Tsamara Amini kali ya.

Oleh: Zeng Wei Jian

SHARE
Comment