Manusia, Serigala dan Ibu Kota

Manusia, Serigala dan Ibu Kota

SHARE

Sulit menemukan akal sehat, ketika kita terjebak macet total di tengah teriknya matahari ibu kota. Semua pengendara tenggelam dalam emosi dan nestapa, siap untuk menghajar siapapun yang memotong jalannya. Jalan sepanjang 3 km harus ditempuh dalam waktu satu jam, karena irasionalitas pembangunan kota yang tak punya visi. Orang bisa berubah kepribadiannya, setelah melalui pengalaman tersebut.

Kota, Uang dan Agama

Kelembutan diganti keberingasan. Motor dan mobil saling menghajar. Ketika tersenggol, makian dan bahkan pukulan sudah menanti di depan mata. Homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi sesamanya, begitu kata diktum Latin klasik tentang keadaan alamiah (Naturzustand) manusia yang saling berperang satu sama lain.

Peraturan lalu lintas hanya menjadi hiasan semata. Ketika ada kesempatan, orang pun tak ragu untuk melanggar. Tancap gas sekencangnya untuk melanggar lampu merah, sehingga polisi dengan motor besar pun tak mampu mengejarnya. Jiwa pencuri bercokol di dalam diri orang-orang ini.

Di sisi lain, orang-orang kaya memilih berlindung di balik dinginnya mobil-mobil mewah. Mereka tak peduli, bahwa dunia di sekitar mereka sudah kacau oleh keberingasan dan kebiadaban. Di tengah jalan yang macet total, mereka memilih duduk nyaman sendiri di dalam mobil raksasa, kadang ditemani supir. Kebutaan dan kedunguan adalah buah dari kekayaan mereka.

Yang ada di otaknya hanya satu, yakni menumpuk uang sebanyak-banyaknya. Jika perlu, cara curang dan biadab digunakan, guna meraih uang lebih banyak lagi. Hidup manusia yang luas dan kaya dipersempit semata ke unsur ekonominya, yakni pencarian dan penumpukan harta tanpa batas. Segala nilai lain, yang membuat hidup manusia mendalam, kaya dan bermakna, dianggap tiada.

Agama juga menjadi pelestari kebusukan ini. Nilai-nilai luhur agama dipelintir untuk membenarkan kerakusan dan pemenuhan kepentingan dangkal semata. Agama tidak lagi menjadi pencerah, tetapi justru menenggelamkan masyarakat ke dalam kemunafikan akut. Tandanya adalah kehidupan yang agamis, namun dibarengi dengan korupsi, penipuan, penindasan, dan kerakusan yang tanpa batas.

Mengapa?

Ketika sistem tidak memiliki kekokohan dan kepastian, orang akan gelisah. Itulah yang terjadi di Indonesia. Sistem raksasa dibangun, baik di bidang kesehatan, politik, pendidikan sampai dengan lalu lintas. Namun, kadar kepastiannya rendah, sehingga keadaan tetap kacau dan orang tetap gelisah, walaupun sistem sudah ada.

Ketidakpastian sistem ini terjadi, karena para pelaksananya hidup dalam kekacauan berpikir. Para pemimpin negara, mulai dari Dewan Perwakilan Rakyat, birokrat-birokrat institusi milik negara, para menteri sampai dengan presiden, tidak bisa memberi teladan kepada rakyatnya. Rakyat Indonesia, banyak yang masih hidup dalam kemiskinan dan kebodohan, pun bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Mereka tidak memiliki teladan yang baik untuk diikuti.

Ketika segalanya menjadi amat tidak pasti, ketakutan pun muncul. Ketakutan adalah ibu dari semua bentuk kekerasan. Ketika orang takut, mereka akan menyerang dan menghancurkan. Akal sehat dan sikap beradab lenyap digantikan keberingasan dan kebiadaban.

Manusia pun lalu menjadi serigala bagi sesamanya. Ibu kota melahirkan sikap biadab yang tak pas untuk tata hidup bersama. Hanya ada dua hal yang bisa memperbaikinya. Perubahan kesadaran pribadi lalu saling mengorganisir diri untuk mendorong perubahan bersama. Tidak ada jalan lain. Tunggu apa lagi?

Oleh : Reza A.A Wattimena
(Penulis adaah Peneliti dan Doktor dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman)

SHARE
Comment