Mar’ie ‘Lugas’ Muhammad

Mar’ie ‘Lugas’ Muhammad

SHARE

Seorang pengusaha besar dari Indonesia Timur, Pak Kaje, menelepon Dirjen Pajak Mar’ie Muhammad, mengabarkan ia sedang di Jakarta dan ingin silaturahmi ke kantornya. Mereka bersahabat sejak tahun 1960an, sesama aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Mereka bertemu di kantor Dirjen Pajak, dan setelah mengobrol ke sana ke mari, Pak Kaje menyatakan terima kasih kepada Mar’ie karena berkat intervensinya pajak perusahaannya bisa dikurangi hingga separuhnya.

Mar’ie kaget mendengar ucapan terima kasih sahabatnya itu. ‘Intervensi apa?’ tanyanya. ‘Saya tidak pernah ikut campur soal urusan wajib pajak.’

Setelah dijelaskan duduk perkaranya oleh Pak Kaje, Mar’ie langsung menelepon pejabat perpajakan yang menangani pajak perusahaan Kaje.

Instruksi Mar’ie singkat dan lugas: kewajiban pajak perusahaan Kaje harus dibayar sesuai aturan, tidak boleh ada pengistimewaan apapun, dan Dirjen Pajak tidak sedikit pun mencampuri urusannya. Persahabatan Dirjen Pajak dengan Pak Kaje tidak boleh mempengaruhi kewajibannya membayar pajak sesuai hukum yang berlaku. Titik.

Pak Kaje melongo, kemudian pulang dengan menggerutu. Ia menyesal telah memberitahu hal itu kepada Mar’ie. Ia bermaksud baik; ia sekadar ingin berterima kasih dengan tulus atas apa yang dianggapnya sebagai bantuan Dirjen Mar’ie dalam mengurangi kewajiban pajak perusahaannya.

Seandainya ia tak menginfokan hal itu, tentu Dirjen Mar’ie tidak tahu menahu urusan pajak dia, di tengah ribuan perusahaan yang sebagian jauh lebih besar dibanding perusahaan miliknya yang berbasis di Indonesia Timur.

Meski ia tahu sejak lama Mar’ie adalah orang yang jujur, tapi ia tak menyangka ketegaran dan sikap tak kompromi Mar’ie bisa sejauh itu, sanggup melampaui persahabatan puluhan tahun — sampai memerintahkan bawahannya untuk mengembalikan nilai pajak sesuai aturan dengan ‘merugikan’ Kaje sebagai wajib pajak.

Kini Kaje tahu: ia berhadapan dengan tonggak raksasa antikorupsi, yang tidak mungkin dipengaruhi dengan cara apapun untuk melunakkan, apalagi membengkokkan aturan.

Pak Kaje jengkel karena perusahaannya harus membayar pajak dua kali lebih besar daripada angka yang sudah disepakati dengan bawahan Mar’ie. Tapi Kaje, sebagaimana banyak orang lain yang pernah bersentuhan dengan Mar’ie, menaruh hormat tinggi kepada sahabatnya itu karena kejujuran optimalnya.

Kaje dan semua orang tahu: Mar’ie Muhammad memang Mr. Clean sejati, seorang yang bersedia mengorbankan apa saja demi menegakkan kejujuran.

Bang Mar’ie, maaf ya, saya merasa perlu menceritakan kesan riya’ yang kurang Anda sukai ini.

Oleh: Hamid Basyaib

SHARE