Ma;rifat Pagi

Ma;rifat Pagi

SHARE

Saudaraku, kanvas kesalahan itu adalah warna dasar kita semua. Bila diri tak berlumur noda, mana mungkin kita tunjukan keasyikan luar biasa dalam menyaksikan noda orang lain.

Noda diri juga cenderung hanya berani mengungkap kesalahan-korupsi ringan untuk menutupi kesalahan-korupsi besar.

Kesenangan melihat orang lain bersalah atau menutupi kejahatan besar adalah proyeksi dari cahaya kegelapan di langit jiwa kita sendiri. Dalam warna dasar kegelapan itu, pepohonan tua berbuah hampa; sedangkan tunas-tunas   muda   layu  sebelum   berkembang. Bagai  menegakkan   batang   terendam, setiap percobaan kebangunan, jatuh kembali ke kemunduran.

Kita ingin sarapan pagi dengan harapan, tapi tak banyak orang yang menyalakan cahaya jiwa. Bagaimana bisa mengubah dunia, jika tidak bisa mengubah diri sendiri? Jalaluddin   Rumi   berkata,   “Kemarin   aku   merasa   pintar,   karenanya   aku   ingin mengubah dunia. Sekarang aku lebih bijaksana, maka aku mulai mengubah diriku sendiri.”

Dikatakan   oleh   Ali  bin   Abi   Thalib  kepada   Malik   al-Asytar,   walinya   di   Mesir, ”Barangsiapa  diangkat  atau  mengangkat  dirinya  sebagai  pemimpin, hendaklah  ia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya dengan cara memperbaiki tingkah lakukanya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lidahnya. Orang yang menjadi pendidik dirinya sendiri lebih patut dihormati daripada yang mengajari orang lain.”

Setelah   pemimpin   bermawas diri,   bolehlah   ia   mengembangkan   harmoni   keluar dengan menjaga  keseimbangan antara  hak  dan kewajiban,  antara kebebasan  dan tanggung   jawab.   Pemimpin   bukan   hanya   mengikuti   kemauan   rakyat,   tapi   juga mendidik rakyat meraih kematangan pribadi.

Dalam istilah Bung Karno, pemimpin harus dapat ”mengaktivir kepada perbuatan”: mengaktivir bangsa yang ia pimpin kepada perbuatan. Kalau cuma menyerukan perbuatan, tetapi dalam kenyataan tak mampu mengaktivir rakyat kepada perbuatan, buat apa bermimpi jadi pemimpin.

Pengalaman   bangsa-bangsa menunjukkan, hanya pemimpin politik yang memiliki ketangguhan “modal moral” yang bisa membawa komunitas politik keluar dari kubangan krisis. Moral dalam arti ini adalah kekuatan dan kualitas komitmen aktor/institusi politik dalam   memperjuangkan   nilai-nilai,   tujuan,   dan   kepentingan   politik   yang dikehendaki   oleh   ideologi   negara   dan   konstitusi.   Kapital   di   sini   bukan   sekadar potensi   kebajikan   yang   dimiliki   seseorang,   melainkan   potensi   yang   bisa menggerakkan   (roda   politik).

Dengan   begitu,   yang   dikehendaki   bukan   sekadar kualitas moral individual, namun juga kemampuan politik untuk menginvestasikan potensi   kebajikan   perseorangan   ini   ke   dalam   mekanisme   politik   yang   bisa memengaruhi tingkah laku masyarakat.

Setidaknya,   ada   empat   sumber   utama   bagi   seorang   pemimpin   untuk mengembangkan, menjaga, dan memobilisasi “modal moral” secara politik. Pertama, dasaran moralitas  (moral ground);  menyangkut nilai-nilai,  tujuan serta orientasi politik   yang   menjadi   komitmen   dan   dijanjikan   pemimpin   politik   kepada konstituennya. Kedua, tindakan politik; berupa kinerja pemimpin politik dalam menerjemahkan   nilai-nilai   moralitasnya   ke   dalam   ukuran-ukuran   perilaku, kebijakan, dan keputusan politiknya. Ketiga, keteladanan; menunjukan contoh-contoh perilaku moral yang konkret dan efektif, yang  menularkan  kesan  otentik dan  keyakinan  kepada  komunitas  politik. Keempat,   keefektifan   komunikasi   politik;   kemampuan   seorang pemimpin untuk mengomunikasikan gagasan serta nilai-nilai moralitasnya dalam bentuk bahasa politik yang efektif, yang mampu memengaruhi dan memperkuat moralitas rakyat.

Paceklik  modal   moral   pemimpin   seperti   itulah  yang   mencekik  kehidupan   politik dalam kemurungan. Pertanda negeri yang tidak bahagia, ujar Galileo, adalah negeri yang terus menunggu kedatangan pemimimpin penyelamat (pahlawan).

Jika sang “juru selamat” tak kunjung datang, mengapa pemimpin yang ada tidak berusaha memperkokoh “modal moral” politiknya. Bukankah seperti bentuk-bentuk kapital lainnya, modal moral pun bisa berkurang, bisa bertambah, atau bisa dicari cara untuk melengkapinya.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk perbaikan dan pertobatan.
Bagi para pemimpin yang ada, sebaikya menirukan  do’a St. Francis Asisi, “Tuhanku, jadikan  aku  instrumen  kedamaian-Mu.   Tatkala  ada  kebencian,  kutaburkan  cinta; tatkala ada luka, maaf; tatkala ada keraguan, keyakinan; tatkala ada keputusasaan, harapan; tatkala ada kegepalan, cahaya; tatkala ada kesedihan, keceriaan.

Yudi Latif Ph.D, Cendekiawan

SHARE
Comment