Media Online Seabrek dan Wartawan Disebut Tak Bisa Nulis Berita

Media Online Seabrek dan Wartawan Disebut Tak Bisa Nulis Berita

SHARE

Publik-News.com – Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Ihsanuddin Noorsy kembali melontarkan kritik terhadap menjamurnya media online akhir-akhir ini. Menurutnya, media online hadir bak jamur di musim hujan.

“Tapi ini memunculkan masalah,” ujar Noorsy saat memberikan sambutan seminar bertajuk Noorsy setelah memberikan sambutan acara seminar bertajuk “Implementasi revolusi mental dalam pembentukan keluarga sejahtera” di Grand Hotel Cempaka, Jakarta Pusat, Selasa (26/7/2017).

Menurut Noorsy, masalah yang seringkali dihadapi oleh pekerja jurnalistik adalah adanya ketidak seimbangan pemberitaan. Hal itu terlihat dari bagaimana misalnya media televisi yang masih menerapkan sistem peberitaan bad news.

“Katanya cover both side story bagi media televisi. Saya tidak mau menyebut nama (televisinya). Cover both side story media TV hanya untuk dikatakan kesimbangan Formalitas bad newsnya seabrek. Mereka masih memberlakukan bad news. Situasi ini berlanjut dalam kemampuan bahasa,” katanya.

Menurut Noorsy, jangan salahkan jika banyak orang mengeluh terkait penulisan berita media online di Indonesia. Selain isu yang diuraikan tidak fokus hingga peletakan kata, kalimat, titik dan koma dalam penulisan media online membuat banyak orang kebingungan

“Sudah jelek kalimatnya dan enggak karuan lagi. Hampir rata-rata wartawan media online tidak membaca kode etik jurnalistik. Harga pada berita itu bukan terjebak pada peristiwanya. Misalnya, Kasus Isnaeni (pemilik warung nasi di Tangerang Banten) yang ditutup oleh satpol PP. Itu menyebabkan ribuan perda dibatalkan,” pungkasnya.

Noorsy mengatakan bahwa mestinya pemberitaan yang disajikan para jurnalis meningkatkan harkat dan martabat manusia. Kritis tak boleh lepas dari para wartawan ketika berperang atau mencari dan memberitakan sebuah peristiwa. Menurutnya, harus ada solusi yang ditawarkan ketika mengkritik dalam bentuk pemberitaan.

“Jangan hilangakan solusinya untuk menunjuk bahwa sesungguhnya tidak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Akurasi bisa terjadi kalau konsisten, memahami, mengukur sesuatu. Modal akurasi apa yang anda miliki,” katanya.

(Hurri Rauf)

SHARE
Comment