Home Pendidikan “Mediatasi Facebook” Kata Afi Nihaya Faradisa

“Mediatasi Facebook” Kata Afi Nihaya Faradisa

Publik-News.com – Tulisan Afi Nihaya Faradisa, di laman facebooknya mejadi viral. Dia adalah remaja putri siswi SMA Negeri 1 Gambiran Banyuwangi. Tulisa dia laman facebooknya membuat banyak orang cukup tercengang dan dipuji.

Betap tidak, hal-hal yang remeh temeh dan persoalan situasi nasional ia ulas dan mewarnai laman facebooknya. Dia kemudian menjadi terkenal dan sempat di cari wartawan untuk diwawancarai.

Salah satu tulisan Afi adalah Bertajuk “meditasi facebook”. Tulisan ini dicantumkan pada 3 Desember 2016 lalu. Berikut ulasan Afi selengkapnya.
MEDITASI FACEBOOK
Inti dari meditasi adalah menjadi tuan atas pikiran dan perasaan diri sendiri.
Bukankah inti meditasi akan lebih maksimal tercapai ketika dilakukan di tempat yang ramai gangguan sehingga ada sebuah tantangan? Facebook dan semua perniknya menjadi tempat sempurna untuk mengendalikan segala bentuk lintasan pikiran di dalam semrawutnya dunia maya. Bukankah kata filsuf Lao Tzu pikiran adalah awal dari tindakan dan tindakan adalah awal dari kebiasaan yang akan menentukan karakter kita?

Beranda FB yang panas tidak bisa kita kendalikan. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah diri sendiri. Daripada berandai-andai ombak tidak datang, lebih baik belajar berselancar di atasnya.

Kita tidak bisa memastikan bahwa “lingkungan” selalu bersahabat. Jika kita tidak punya cukup amunisi untuk mengendalikan diri, ketika kita selalu ingin mengomentari segala hal yang terjadi, FB yang tadinya diciptakan sebagai sarana hiburan justru akan jadi sebab kita mati muda.

Ini adalah tentang memanjangkan sumbu pikiran, agar tidak mudah meledak seperti petasan.

Ini bukan tentang menahan, karena jika kau hanya menahan maka begitu ada kesempatan, kau akan lebih gila dalam melampiaskannya.

Ini adalah tentang MEMAHAMI.
Memahami bahwa semua orang dibesarkan dengan didikan dan doktrin yang berbeda-beda.Memahami bahwa semua orang mengalami dan melihat kehidupan yang tidak sama.

Memahami bahwa semua itu berpengaruh besar terhadap cara pandang dan perilaku seseorang dalam merespon sebuah peristiwa.

Memahami bahwa pribadi seseorang di FB belum tentu sama dengan pribadinya di dunia nyata. Memahami bahwa pelaku (yang tetap) tidak identik dengan perilaku (yang berubah-ubah). Memahami bahwa Tuhan sendiri yang telah menciptakan perbedaan yang selalu kita pertengkarkan.

Pahami, teruslah memahami tanpa henti. Seperti kata Wilson Kanadi, “Mereka yang menghakimi takkan memahami dan mereka yang memahami takkan menghakimi”.

Memahami itu susah. Menghakimi itu mudah. Itulah kenapa beberapa orang lebih memilih untuk menghakimi daripada memahami.

Menurutku, Debat tidak mencari APA yang benar melainkan SIAPA yang benar. Debat hanya akan semakin menguatkan keyakinan yang lebih dulu ada, bukan malah merubahnya.

Persis seperti cahaya matahari yang dibiaskan butir-butir air hujan ke dalam berbagai warna pelangi, keterbatasan pikiran kitalah yang membiaskan peristiwa yang sama ke dalam warna yang berbeda pada benak masing-masing orang.

Bukankah Buddha dengan sangat bijak mengatakan, “Saya bukanlah apa yang kamu pikirkan tentang saya, dirimu adalah apa yang kamu pikirkan tentang saya.”
– Afi, sebuah pengingat untuk diri sendiri.

Comment