Melihat Indonesia dari Sosok Ibu Shinta Wahid

Melihat Indonesia dari Sosok Ibu Shinta Wahid

SHARE
http://dekandidat.com/cms/wp-content/uploads/2014/07/gus.jpg

 

Oleh Sidratahta Mukhtar

 

Sudah menjadi kenyataan bahwa Indonesia merupakan bangsa dengan visi bhinneka tunggal ika, dengan suku, agama, ras, golongan dan adat istiadat. Beragamnya warna masyarakat bangsa ini, mengakibatkan kita sebagai bangsa yang rentan terjadi konflik kekerasan, konflik sosial, politik dan konflik berlatarbelakang agama. Menguatnya trend kekerasan dalam masyarakat belakangan ini dipicu oleh pola pikir penyeragaman (baca: homogen), sebagai warisan dari cara represif pemerintahan otoriter Orde Baru.

 

Menarik mencermati isu penolakan FPI Jawa Tengah terhadap safari ramadhan ibu negara RI ke 4, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Safari yang diisi dengan melakukan dialog bersama lintas agama di Gereja Yacobus Pudak Payung Semarang dan dilanjutkan acara buka puasa di aula kelurahan setempat pada 16 juni 2016 lalu.

 

Mari kita lihat kejadian itu dalam perspektif peran sosok Shinta Wahid dalam menjaga marwah dan kohesi keIndonesiaan. Di tengah arus eksklusivisme dan primordianisme masyarakat kita yang begitu mengkhawatirkan, keberanian dan keteladanan ibu Shinta Wahid patut direnungkan sebagai ihtiar merawat Indonesia. Sebagai istri dari mendiang Gus Dur, apa yang ditunjukkan dengan melakukan kegiatan keagamaan yang insklusif seperti ramadhan di berbagai  tempat dan area publik, termasuk di tempat ibadah umat Kristiani. dilakukan dengan semangat merawat nilai-nilai toleransi, pluralisme dan cita Islam yang memberikan manfaat bagi semua sebagaimana visi Islam rahmatallilalamin. Sejak menjadi murid Gus Dur diusia 16 tahun di pesantren, Shinta Nuryah sudah menunjukkan kapasitas sebagai seorang ibu bagi negeri. Selanjutnya ketika di usianya yang ke 21 Gus Dur mengungkapkan kekagumannya atas sikap dan sosok Shinta remaja yang kelak menjadi mitra ideal Gus Dur dalam memperjuangkan nilai-nilai universalisme islam; toleransi, keadilan, HAM, dan kohesi kebangsaan.

 

Dalam konteks demokrasi dan Islam, seperti yang menjadi tesis Huntington dan Mujani, bahwa sikap keimanan, kenegarawanan dan penghargaan atas kemanusiaan dapat dilihat dalam konteks toleransinya atas penganut agama lainnya. Mujani (2008) mengatakan, “semakin tinggi peran dan fungsinya dalam organisasi keagamaan, seperti NU, Muhammadyah, Persis dan lainnya, maka semakin tinggi toleransi keagamaannya.” Teorisasi toleransi ini diwakili secara jelas dan nyata dalam sosok Shinta Wahid ketika dalam sisa hidupnya didarmakan untuk melanjutkan etos kebangsaan dan universalitas Gus Dur. Hal yang sama misalnya ketika Obama, Presiden AS itu mengungkapkan secara terang benderang tentang konstribusi Islam bagi bangsa Amerika. Meskipun pandangan inklusivisme Obama mendapat serangan yang tajam dari kubu konservatis Amerika.

 

Bila merujuk pada masa kehidupan Nabi Muhammad S.,A.W. dalam era Madinah, maka proses dan pola interaksi dengan suku, agama dan golongan lainnya dalam melaksanakan tugas-tugas profetik adalah bukti bahwa Islam agama damai dan agama yang rahmatallilalamin. Piagam Madinah (Mitsa Madinah) merupakan produk perjanjian dan konstitusi tertulis terlengkap yang menurut Robert N. Belah, Madinah yang dibangun Rasulullah, adalah model pembangunan masyarakat demokratis di dalamnya. Pluralisme di Madinah dibangun dari sumbangan berbagai latar belakang agama: Islam, Yahudi, Kristen dan sistem kepercayaan lokal di kota Madinah. (Sidratahta: Dinamika Politik Islam Dalam Dunia Yang Berubah, Aynat Press, 2014).

 

Sebagai seorang santri yang pernah menjadi Ibu Negara Republik Indonesia, tentu saja Shinta Wahid sadar betul akan pentingnya kita merawat nilai-nilai kebangsaan, menjaga toleransi dan membangun kebersamaan seperti yang dibuktikan dalam sejarah masa keemasan Islam (golden ages of Islamic civilization) itu.

 

Upaya Shinta Nuriyah Wahid harus dilihat secara jernih dalam pandangan yang komprehensif tentang hakekat kita berbangsa sesuai semangat para pendiri bangsa dan negara berdasarkan Pancasila.

 

Kembali ke acara dialog di gereja dan buka puasa di kelurahan di Semarang itu, secara substansial PUASA dapat digunakan sebagai sarana membangun kohesi dan kebersamaan anak-anak bangsa lintas agama. Ibu Shinta Wahid dalam kiprahnya termasuk dalam hubungan antar umat beragama di Indonesia adalah menyerukan dimensi sosial (Khauniyah) dari Islam. Masyarakat Muslim Indonesia di Amerika melalui kegiatan organisasi sosial mereka, Indonesian Muslim Assiciation in America (IMMAM) secara rutin menyewa Gereja di kawasan Maryland sebagai tempat kegiatan pasantren kilat, pengajian dan buka bersama. Dikalangan masyarakat Amerika Serikat yang pluralis, sebagaimana halnya Indonesia, tempat ibadah, seperti Gereja, adalah pusat kegiatan masyarakat warga di mana Gereja dan Masjid dapat digunakan sebagai sarana sosial keagamaan.

 

Kenyataan ini mengkonfirmasi arti penting dan strategis bagi generasi penerus bangsa ini untuk tetap membangun kohesi pluralisme dan inklusifisme sebagai keniscayaan dalam membangun bangsa. Sebagai warga mayoritas dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia saat ini, dengan segala prestasinya dalam mendamaikan masyarakat-negara di berbagai belahan bumi; memainkan peran diplomasi perdamaian di negara-negara konflik atau perang, mendamaikan bangsa Moro dengan negara Filipina, dan peranan kita dalam perdamaian Israel-Palestina. Semakin kuatnya peran internasional Indonesia menunjukkan kedewasaan dan peradaban bangsa ini. Oleh karena itu, kita sepatutnya memberikan apresiasi dan respek atas spirit kejuangan Ibu Shinta Wahid dalam menghadirkan toleransi, inskusivisme dan juga yang sejalan dengan nilai-nilai dasar negara Pancasila.

 

Sementara itu, pandangan-pandangan yang kaku dan homogeny seperti yang dilakukan oleh pihak-pihak yang sengaja menghentikan pikiran dan tindakan “out of the box” dari Ibu Shinta Wahid perlu di waspadai. Pandangan sempit, kaku, homogeny itu dapat menyeret anak-anak bangsa ini berpikiran anti dialog dan bahkan anti demokrasi. Bukankah dialog, demokrasi dan penghormatan atas hak asasi manusia sudah inheren dengan cara hidup kita di Indonesia, dan etika Islam yang rahmatallilalamin.

 

Shinta Wahid menyadari hakekat dari esensi Islam yakni dakwah sebagai sesuatu yang melekat dalam kehidupan setiap muslim (tawashaw) untuk mencapai jalan kebenaran dan keadilan. Namun, hadirnya Islam konservatif dan fundamentalis menjadi problematika tersendiri dalam konteks Islam keIndonesiaan. Profesor Yusril Ihza Mahendra menulis tesis penting mengenai masalah fundamentalisme Indonesia,”fundamentalisme cenderung memandang negative dan pesimis terhadap pluralisme, mereka hanya melihat ‘hitam-putih’ yakni masyarakat yang menyakini dan mengamalkan Islam secara kaffah (menyeluruh) dengan masyarakat jahiliyah. Fundamentalisme tertutup, dan sulit beradaptasi, dan berakulturasi.” (Yusril Ihza Mahendra, Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam, Paramadina,1999:32-33).

 

Pandangan Yusril Ihza pada masa awal reformasi nasional itu, masih relevan kini mengingat aksi penolakan FPI terhadap kegiatan Ibu Shinta Wahid yang tengah memperjuangkan penghormatan terhadap kebhinekaan dan kebersamaan  serta toleransi dalam rangka merawat semangat kebangsaan kita.[]

 

Sidratahta Mukhtar adalah Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIPOL UKI dan Mantan Ketua Bidang Hubungan Internasional Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam – PB HMI

 

SHARE
Comment