Membaca Situasi Politik di Istana Merdeka

Membaca Situasi Politik di Istana Merdeka

SHARE

Situasi di Istana merdeka pun tak ubah situasi yang kini terjadi di media sosial. Saling curiga, saling menghitung dan saling mematai layaknya drama Korea. Ketika sang pemimpin tak lagi percaya kepada kepala BIN, beberapa menteri serta panglima TNI, paranoid pun mulai menjangkiti.

Itulah akibat sang pemimpin yang terlalu cenderung mendengar bisikan paranoid. Semua bermula dari vonis 2 tahun Basuki Tjahja Purnama alias Ahok penjara. Akibatnya mulai berbeda sikap dan memilih posisi mana. Sang pemimpin sudah mulai merasa kehilangan kendali.

Sudah banyak pihak yang saling berbisik dibelakang punggungnya hingga akhirnya sang pemimpin merasa perlu memindahkan koordinasi dengan wakilnya di Arab Saudi karena khawatir situasi di Istana merdeka. Sang pemimpin mencoba membangun lagi kongsi dengan wakilnya karena tidak ada opsi lain.

Sang pemimpin memilih opsi bersama kekuatan sang wakil lakukan rapat terbatas tanpa perlu khawatir bisik-bisik dibelakang tembok istana merdeka karena aslinya sang pemimpin mulai sadar situasi diri ditengah para brutus yang bisa menyingkirkannya akibat Ahok dan reklamasi.

Demi 2019 Sang pemimpin dan wakilnya bertemu di Arab Saudi bicara tentang si A, si B dan si C dan mulai siap menerima pilihan sang wakil untuk 2019. Sang pemimpin paham, sang wakil hanya ingin penyelamatan dan pasti sudah memiliki pilihan. Bisa jadi besok wakil dari golongan angkatan.

Tinggal 2 tahun lagi, sang pemimpin paham sang wakil memiliki kekuatan kongsi Amerika Serikat dengan Freeport dan itu dibutuhkan demi suksesi 2019. Pertemuan mendesak pun harus dilakukan, walau aslinya rencana yang menghadiri KTT Islam Arab dan Amerika adalah sang wakil.

Semua berubah. Sang pemimpin harus bertemu dan rapat dengan sang wakil. Ada salah satu menteri memberi pesan tentang jasanya, kalau tanpa dirinya tak mungkin sang pemimpin jadi pemimpin di negeri ini. Arogansi atas klaim hingga sampai pada tindakan diluar batas karena merasa dirinya lah presiden aslinya dinegeri ini. Sang pemimpin terancam karena sang menteri merasa memiliki semua jalur komando dan jalur jaringan untuk bisa membuat diri sang pemimpin hancur tak terpilih lagi

Jaringan kami telah dapatkan informasi valid bahwa sang pemimpin dan wakil akan ratas di Arab Saudi dalam rangka membahas semua situasi dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Istana tak lagi aman. Tembok dan mulut kini telah berbisik dibelakang punggung sang pemimpin.

Tak ada lagi kawan yang bisa dipercaya, maka sang pemimpin harus dengan cepat memilih opsi bersama siapa nanti di 2019, dan bersama kekuatan sang wakil adalah opsi terbaik yg dimiliki. Sang pemimpin tak akan lama pergi tinggalkan negeri, karena Senin sudah tiba lagi di tanah air. Sang pemimpin hanya ingin bertemu dgn wakil tanpa ada gangguan dari pembisik, mata-mata hingga penguping di istana merdeka. Ini karena suksesi membawa karma.

Oleh : Dahlan Watihellu

SHARE
Comment