Membangun Gerakan Koperasi

Membangun Gerakan Koperasi

SHARE

Beberapa hari yang lalu sempat bertemu dengan Menteri Koperasi dan UKM, Drs. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, dalam suatu acara peresmian Koperasi Penyandang Disabilitas di Jakarta, suatu gebrakan yang memihak keluarga yang memiliki kekurangan mental atau fisik.

Gagasan membentuk koperasi bagi Saudara kita penyandang disabilitas didasari keyataan bahwa banyak penyandang disabilitas sesungguhnya mampu berproduksi tetapi tidak memiliki fasilitas pemasaran karena harus bersaing dengan Saudaranya yang memiliki fasililitas dan berhasil merebut arena pemasaran yang mampu menyedot pembeli yang banyak. Saudara kita yang disalibitas tidak memiliki kelincahan seperti itu sehingga sukar bersaing dan selalu kalah atau dikalahkan dengan kekuatan di luar kemampuannya.

Pembentukan Koperasi Disabilitas ini diprakarsai oleh Menteri Koperasi dan UKM dengan dukungan Ibu Dr Dewi Motik Pramono, MSi dari DNIKS yang memang selalu menaruh perhatian terhadap usaha kecil, menengah dan koperasi.

Oleh karena itu dengan terbentuknya koperasi itu diharapkan produk kaum disabilitas langsung dapat dipasarkan di ruang publik yang cukup mewah dan diyakini bakal mendapat perhatian yang tinggi dari pembelinya.

Lebih dari itu melalui koperasi dapat dibeli bahan baku dengan harga yang lebih murah karena para pengrajin dapat membeli bahan baku bersama-sama untuk keperluan produksi yang prospeknya lebih besar. Begitu juga dalam falsafah gotong royong, koperasi dapat bersama-sama menentukan harga jual yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak tergabung dalam koperasi.

Namun kita tahu bahwa pembentukan koperasi yang peresmiannya dihadiri oleh Menteri Koperasi dan UKM itu bukan jaminan bahwa kegiatan ekonomi penyandang disabilitas akan laris manis dan menghasilkan pruduk dengan nilai jual yang tinggi dan menguntungkan.

Masih diperlukan dukungan dari masyarakat luas dengan sikap yang ikhlas mau membuka diri dan mengembangkan tingkah laku positif untuk berbagi dan membeli produk atau jasa yang diberikan oleh saudara kita yang disabilitas.

Sikap positif masyarakat itu perlu diimbangi dengan sikap positif yang sungguh-sungguh dari kaum disabilitas dengan bertahan pada penyajian produk bermutu tinggi yang menghargai sikap masyarakat yang positif.

Makin kuat dan makin bermutu produk yang ditawarkan, dikelak kemudian hari makin timbul kepercayaan publik terhadap produk yang ditawarkan oleh produsen yang disabilitas, sehingga makin sayang dan menghargai dan peercaya pada produk disabilitas.

Ada beberapa syarat penting dalam hidup berkoperasi dari kaum disabilitas tersebut yang perlu dipegang teguh, yaitu bahwa kepercayaan terhadap produknya tinggi karena dihasilkan dengan tekun dan dikembangkan dengan mutu yang tinggi.

Yang kedua, diperlukan sikap usaha sesama disabilitas untuk saling mencela produk rekannya agar sesama produsen tidak ada saling menjelekkan, sehingga mereka akan mampu berdampingan secara wajar dan saling memperkuat kualitas produk yang ditawarkan.

Produk sesama disabilitas saling naik menjadi produk berkualitas dan ditawarkan dengan harga wajar. Berikutnya lagi perlu ada kebersamaan agar sesama produk disabilitas dapat dikembangkan suatu moto produk berkualitas tinggi dan harga wajar, syukur-syukur dengan harga murah tetapi tidak rugi.

Dan produk itu membuat para pemakainya bangga karena termasuk manusia luhur yang nebghargai oleh produsen disabilitas yang berjuang secara wajar dan terhormat. Dan akhirnya akan tumbuh budaya sayang dan cinta pada produk yang ditawarkan oleh disabilitas.

Langkah-langkah pendekatan positif itu harus menjadi pedoman bagi koperasi yang mengusung anggota disabilitas yang sungguh-sungguh karena selalu saja ada anggapan dari masyarakat bahwa kaum disabilitas tidak sempurna, sehingga ada praduga negatif bahwa produk yang dihasilkannya pasti tidak sempurna.

Kecurigaan ini tidak perlu dibantah dalam suatu perdebatan, tetapi harus diimbangi bukti nyata bahwa produk yang dihasilkan adalah produk unggul yang tidak kalah dengan produk hasil tangan-tangan dari manusia sempurna.

Produk unggul mereka malah justru lebih baik karena digarap dengan kasih sayang dan rasa terima kasih kepada konsumen yang membelinya dengan cinta.

Karena sudah ada koperasi maka dianjurkan kepada para penyandang disabilitas untuk segera bergabung agar kekuatan para disabilitas dapat disinergikan sehingga dengan mantab menempati posisi yang makin mudah menentukan tempat atau sarana yang dipergunakan untuk menyajikan produk atau jasanya.

Penempatan posisi yang baik dengan penampilan yang makin sempurna akan menggugah selera, sehingga konsumen akan makin percaya terhadap kredibilitas dari produk yang ditawarkan tersebut.

Sebelum dapat memperoleh tempat jual yang sempurna diharapkan para penyandang disabiltas yang tergabung dalam koperasi tidak segan tampil dan menampilkan produknya pada sahabat yang simpati dan memiliki tempat yang terhormat dalam rangka kerja sama saling menguntungkan, tidak semata-mata ingin maju sendiri secara mandiri tetapi dalam keadaan masih sederhana tetapi karena dana yang belum mencukupi untuk tampil dengan wadah yang terhormat.

Garapan yang ditampilkan dalam kerja sama itu tidak mengecilkan kemandirian sepanjang kerja sama itu saling menguntungkan dan tetap mengetengahkan jati diri masing-masing yang terlibat. Kerja sama yang menguntungkan akan mengantarkan semua pihak yang terlibat maju bersama dalam kerangka gotong-royong yang menjadi prinsip utama koperasi.

Peresmian koperasi penyandang disabilitas oleh Meneri Koperasi dan UKM secara pribadi akan mengantar upaya ganda untuk menghargai lembaga koperasi sebagai lembaga pengembangan budaya gotong royong yang tidak membedakan satu dengan lainnya, kecuali kerja cerdas dan keras untuk tujuan bersama dengan sistem gorong-royong dan perhatian yang tinggi terhadap mereka yang tertinggal.

Bukan perhatian yang tinggi untuk mendukung yang kaya makin kaya, tetapi mendukung yang miskin makin kaya agar perbedaan satu keluarga atau satu anggota dengan anggota lainnya makin menipis sehingga tumbuh rasa solidaritas yang tinggi antar sesama anggota untuk saling menolong, saling berbagi agar anggota lainnya segera mengejar dengan mudah kebersamaan yang adil dan makin merata. Suatu proses ganda yang tujuannya sangat luhur.

Mengelola koperasi penyandang disabilitas ini tidak mudah. Diperlukan uluran tangan yang ikhlas agar tujuan ganda itu tercapai dengan baik. Karena itu, dengan penuh hormat, De Mono yang mengulurkan tangan dengan ikhlas, tidak dipandang sebagai satu-satunya lembaga yang dapat memberi dukungan, Pengurus Koperasi harus berani mengundang mitra kerja yang banyak dan ikhlas berbagi agar kemajuan tidak perlu tergantung semata pada satu pendukung dengan luasan pasar terbatas, tetapi makin banyak pendukung dengan pasar yang makin lebar dan menjanjikan.

Oleh karena itu diserukan agar pengurus tetap terbuka dan membuka tangan dengan kerja sama yang luas dan saling menguntungkan. Fasilitasi Kantor Menteri Koperasi dan UKM kiranya menjadi salah satu pendukung yang diharapkan mampu menjemput bola dan bertindak dinamis.

Oleh: Prof. Dr. Haryono Suyono
(Penulis adalah Pembina Yayasan Anugerah)

SHARE
Comment