In Memoriam Djohan Effendi: Islam Yang Sangat Modern dan Pro- Hak Asasi...

In Memoriam Djohan Effendi: Islam Yang Sangat Modern dan Pro- Hak Asasi Manusia

SHARE

Jika saja sudah ada hadiah nobel di abad ke 11, sangatlah mungkin setiap tahun hadiah itu jatuh kepada ilmuwan dari dunia Islam. Pada abad 11, Islam menjadi pusat peradaban, yang melahirkan ilmu pengetahuan baru. Inilah dunia Islam yang seharusnya.

Kisah di atas sering diulang-ulang pak Djohan Effendi. Saat itu di tahun 1983-1986, saya masih mahasiswa usia sekitar 20-23 tahun. Bersama teman teman yang senang diskusi, setiap hari minggu sore kami berkumpul di rumahnya. Kelompok inipun kami beri nama Kelompok Studi Proklamasi (KSP). Di tahun 1980-an, KSP cukup mewarnai gerakan mahasiswa era itu.

Kisah ini kembali terkenang ketika mendengar berita wafatnya pak Djohan hari ini, Jumat 17 November 2017. Satu persatu pemikir Islam Indonesia terkemuka generasi pembaharuan Islam wafat, menyusul Nurcholish Madjid, dan Abdurahman Wahid

-000-

Pak Djohan Effendi sudah saya anggap sebagai ayah saya yang kedua. Sejak 1982- sampai 1990, sebelum saya pergi sekolah ke Amerika Serikat, hubungan saya dengannya sangatlah intens.

Pak Djohan lalu menjadi menteri Sekneg di bawah Presiden Gus Dur. Setelah itu ia banyak tinggal di Australia. Sejak kepergiannya ke Australia, Saya sudah jarang berkomunikasi dengannya.

Tahun 2015-2016 pak Djohan datang kembali ke Indonesia, menetap di Jakarta. Tapi kondisinya sudah sakit.

Kepada pak Djohan sempat saya tanya apa yang sangat ingin ia peroleh di usia senja? Saya dan teman teman sangat ingin membuatnya senang. Ketika mahasiswa, kami sangatlah kere. Tapi di usia 50an, lumayan sudah ada perkembangan.

Pak Djohan hanya ingin dibuatkan diskusi mingguan saja. Ia tak ingin pemberian lain. Ia hanya ingin forum diskusi. Ia rindu dengan suasana diskusi dan tukar menukar ilmu pengetahuan.

Kamipun terkejut dengan permintaan pak Djohan. Tapi karena memang itu yang diinginkan dari lubuk hatinya, kami membuatkan pertemuan rabuan, diskusi setiap rabu.

Teman teman mahasiswa di tahun 80an yang dulu berkumpul setiap minggu di rumahnya, kumpul kembali. Namun saat itu usia kami sudah lima puluhan.

Pak Djohan memaksakan hadir dalam diskusi mingguan itu. Ia sangat semangat berbicara walau bicaranya sudah terbata- bata, dan banyak yang tak lagi jelas bunyinya.

Namun itu justru mengharukan. Dalam kondisi fisik yang tak lagi prima, spiritnya pada diskusi dan bertukar gagasan masih menyala.

Tradisi diskusi reboan ini terhenti ketika justru istri pak Djohan sakit keras dan akhirnya wafat. Sungguh senang hati saya sempat menyediakan makam untuk istri pak Djohan di San Diego, dekat dengan makam ayah saya.

Kepada teman dan keluarga pak Djohan juga saya sampaikan pesan. Tanah di sebelah makam ibu pak Djohan di San Diego, juga sudah siapkan jika saja pak Djohan berpulang dan ingin dimakamkan di sebelah istrinya.

Namun setelah istrinya wafat, pak Djohan dan keluarga memilih tinggal di Australia. Ada dokter dan terapi di sana yang lebih sesuai untuk pengobatan pak Djohan. Jumat 17 November 2017 pak Djohan wafat dan dimakamkam di Australia.

-000-

Lama saya terdiam mendengar wafatnya pak Djohan. Suasana yang sama saya rasakan ketika mendengar wafatnya ayah kandung saya sendiri di tahun 1997.

Ia yang wafat tetap hidup dalam memori kolektif mereka yang masih hidup. Tak lama lagi, jasad pak Djohan dimakamkan. Tapi spiritnya yang merindukan Islam yang sangat modern, yang pro hak asasi manusia, dan Indonesia yang memelihara keberagaman terus hidup.

Selamat jalan pak Djohan. Selamat jalan jiwa yang berjuang.

Oleh: Denny JA

SHARE
Comment