Home Opini Memperbaiki Ketimpangan Ekonomi

Memperbaiki Ketimpangan Ekonomi

Struktur anatomi ekonomi usaha sudah lama timpang. Pelaku ekonomi usaha berskala mikro dan kecil berjumlah bagaikan manusia dari alas kaki hingga pinggang saja, bagaikan manusia cacat tanpa anatomi atas pinggang hingga kepala. Sebaliknya dalam pemerataan kue hasil-hasil pembangunan, produktivitas, dan kepadatan modal investasi menunjukkan struktur anatomi bagaikan manusia berkepala hingga pinggang namun tanpa bawah pinggang hingga ke alas kaki.

Dengan struktur anatomi perekonomian yang seperti itu, maka tidak mengherankan apabila hubungan kemitraan usaha yang dibangun terasa sebagai kegiatan eksploitasi manusia atas manusia. Bagaikan setitik nila dalam belanga. Ini disebabkan adanya jurang yang tajam, mendalam dan meluas. Sementara dualitas perekonomian seperti itu dalam realita dunia terdapat hubungan simbiosis yang saling menguntungkan.

Misalnya, pekerja kantoran memerlukan sektor informal untuk memasok makanan dan minuman yang bergizi di tengah upah yang layak hanya untuk pekerja tanpa menikah. Hanya mereka yang membawa ransum makanan dari rumah yang mampu bertahan tanpa kemitraan dualisma sektor informal. Sektor yang dibutuhkan, namun mereka diminta sembunyi ke persembunyian tempat tinggal jauh, ketika agenda internasional kunjungan pemimpin bangsa-bangsa datang berkunjung bertamu ke segala penjuru nusantara Indonesia.

Itu laksana pengarahan Panglima Perang Sumantri Bambang Brojonegoro, sekalipun raksasa kerdil Sukrosono yang merupakan saudara kandung dari Sumantri. Ini terjadi sekalipun Sukrosono yang berjasa membangun Tamansari. Taman tempat bercengkerama 1000 selir dari Maharaja. Inilah dualisme sektor informal, yang bukan saja terjadi pada permukiman kumuh di perkotaan Indonesia, juga terjadi di permukiman bercat warna-warni dalam perjalanan dari ibukota negara Mexico ke piramida bangsa Aztec, maupun di sekitar kemegahan kejayaan kota Puebla.

Legenda pelaku ekonomi mikro dan kecil yang seperti itu merupakan fenomena di beberapa belahan dunia. Misalnya terjadi pada bangsa Palestina pada periode kepemimpinan Ibrahim alaihi salam ketika Raja Namrud berkuasa. Juga terjadi pada bangsa Israel pada periode kepemimpinan Musa alaihi salam ketika Ramses berkuasa. Terjadi pada bangsa Yahudi yang dijadikan mesin penggerak perang oleh Jenderal Adolf Hitler.

Untuk memperbaiki ketimpangan ekonomi itu perlu membesarkan kepemimpinan kelas menengah dan besar. Mereka dikenal sebagai Dogol, Dahnyang, Sing Mbaurekso, Panembahan, atau nama lain sebagai agen perubahan pembangunan. Mereka adalah pemimpin perubahan sosial dan ekonomi sebagai orang yang memandu memperbaiki ketidakmauan dan keputusasaan untuk berhasil berubah. Pemimpin yang membantu mengatasi ketidaklancaran berkomunikasi secara efektif, ketidakmauan mendengarkan kreativitas baru dan perubahan sosial ekonomi, serta kegagalan membaca tanda-tanda perubahan zaman. Memperbaiki ketidakcerdasan, kekhiyanatan, ketidaktransparansian, dan ketidakpublikasian tahapan pembesaran rahasia usaha menengah dan besar.

Oleh: Sugiyono Medelan

(Penulis adalah peneliti INDEF, dosen pascasarjana Universitas Mercu Buana, dan tenaga ahli anggota DPR RI)

Comment