Mempertentangkan Perbedaan di Ruang Publik Bukan Tanpa Ganda

Mempertentangkan Perbedaan di Ruang Publik Bukan Tanpa Ganda

SHARE

Akhir-akhir ini, di berbagai sosial media maupun di group WA acapkali muncul wacana mempertentangkan perbedaan yang bisa berujung pada pandangan yang saling berseberangan dan sangat berpotensi mengkonstruksi timbulnya eksklusivitas antara satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya.

Tentu wacana semacam itu bukan tanpa agenda dan sangat tidak produktif dalam berbangsa dan bernegara di negeri ini. Sebab, tidak ada pesan komunikasi yang tak bertujuan.

Dari aspek komunikasi, memperuncing perbedaan dalam suatu wacana publik, cepat atau lambat dapat mengganggu keberagaman dan persatuan negara kita.

Untuk itulah, aktor sosial (politik) yang selalu “meluncurkan” perbedaan yang berpotensi menimpulkan polarisasi yang saling “berhadap-hadapan” dalam tatanan berbangsa dan bernegara di negeri ini harus kita tiadakan secara bersama-sama dengan mengeksternalisasi ide dan pandangan di ruang publik tentang hakekat keberagamaan dalam kebersamaan dan persatuan yang sesuai dengan ideologi kita, yaitu lima sila dalam Pancasila yang juga mengandung nilai hakekat kemanusiaan yang memang berbeda, namun dalam persatuan yang beradab.

Karena itu, aktor sosial (politik) yang mengangkat perbedaan sebagai sesuatu yang bisa menimbulkan kegaduhan di ruang publik, sesungguhnya yang bersangkutan kurang memahami hakekat perbedaan itu sendiri. Atau memang aktor tersebut punya agenda politik tertentu yang bisa jadi berseberangan dengan pluralisme kebangsaan kita.

Untuk itu, perlu kita melihat perbedaan dalam persamaan. Demikian juga kita harus memahami persamaan dalam perbedaan sebagai hakekat alam semesta.

Segala sesuatu, apapun itu, ada perbedaan dan persamaan, tergantung dari sudut mana melihatnya.

Di dalam persamaan itu ada perbedaan. Misalnya sama-sama manusia, namun ada perbedaan yaitu ada Perempuan dan ada Laki-Laki dan seterusnya.

Di dalam perbedaan, ada persamaan. Misalnya, laki-laki berbeda dengan perempuan. Namun ada persamaan, yaitu antara lain sama-sama memiliki sistem pencernaan, dan seterusnya.

Ada perempuan dan ada laki-laki, sebagai suatu perbedaan. Namun, kita semua mengakui bahwa perbedaan itu sebagai anugrah luar biasa.

Contoh lain beberapa hari berselang, ketika suatu penganut agama tertentu melakukan ibadah, penganut agama lain membantunya dengan menyediakan lahan parkir di pekarangan rumah ibadahnya. Ini salah satu wujud kebersamaan dalam perbedaan.

Karena itu, mari kita wacanakan perbedaan, tentu yang positif bagi keberagaman di negeri tercinta ini, sebagai sesuatu yang indah dan baik sesuai dengan keberadaan alam semesta. Dengan demikian, perbedaan itu sebagai persatuan. Salam NKRI.

Oleh: Emrus Sihombing
(Penulis adalah Direkrur Eksekutif EmrusCorner)

SHARE
Comment