Home Agama Menag Lukman Hakim Hadiri Peringatan Asadha Mahapuja di Candi Borubudur

Menag Lukman Hakim Hadiri Peringatan Asadha Mahapuja di Candi Borubudur

16

Publik-News.com – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menghadiri acara Peringatan Asadha Mahapuja 2562 BE tahun 2018 di pelataran candi Borobudur, Magelang, Minggu (22/7/2018). Menag menyampaikan sambutan pada acara tersebut.

Menag Lukman menyampaikan bahwa kitab suci adalah sumber gagasan dan inspirasi bagi umat beragama, untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dikatakan Menag Lukman, setiap manusia harus dapat menjadi umat terbaik di hadapan Tuhan. Sebab, setiap orang dianjurkan untuk melaksanakan kebenaran sejati dan memiliki keyakinan yang baik kepada Tuhan.

“Kita akan berhasil menggapai masa depan yang gemilang untuk memimpin peradaban, jika kita mampu memelihara persatuan dan tidak mudah digoyahkan oleh jeratan “Mara” penggoda (iri hati, kebencian, ketamakan, kebodohan),” kata Menag seperti dilansir laman resmi kemenag.

Menag Lukman juga menyampaikan bahwa semua umat Buddha meyakini kitab suci Tripitaka adalah sumber utama ajaran Buddha, dan sumber ilmu pengetahuan yang tak habis-habisnya untuk digali dan dikaji.

“Tripitaka menyajikan substansi hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam semesta,” tambah Menag.

Dalam sejarah perkembangan peradaban, lanjut Menag Lukman, bahwa Tripitaka merupakan naskah tertulis sebagai hasil konsili atau pertemuan para siswa utama Buddha, yang sangat berjasa mendorong kemajuan dan mencerahkan peradaban umat manusia.

Untuk itu, kata Menag Lukman, umat Buddha, harus selalu ingat bahwa pikiran adalah karunia yang sangat penting yang dimiliki oleh manusia. Namun pikiran semata, tidak akan pernah bisa membawa manusia kepada kesejahteraan dan kebahagiaan yang hakiki. Oleh karena itu, manusia hendaklah senantiasa melatih dan mengendalikan pikirannya dengan baik, sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupannya di muka bumi.

“Dengan mengandalkan kemampuan pikiran semata, tetapi mengabaikan Dhamma kebenaran sejati, hanya akan melahirkan manusia yang pintar, tapi berakhlak rendah dan tidak memberikan manfaat bagi sesama,” kata Menag.

Hal ini tertuang, papar Menag, dalam ajaran Buddha bahwa “Pikiran itu sangat sulit untuk diawasi dan sangat halus, bergerak kemana ia mau pergi. Orang bijaksana seharusnya mengendalikan pikirannya; pikiran yang terkendali seiring dengan kebenaran sejati, akan membawa kebahagiaan yang hakiki”.

Disampaikan Menag Lukman, setiap peringatan Asadha, umat Buddha diingatkan bahwa mempercayai dan menerima eksistensi kitab suci sebagai keberan yang tidak bisa diragukan. Berawal dari itu, setiap umat Buddha dapat membina kehidupan dan perilakunya di atas ajaran-ajaran Buddha yang diyakini kebenarannya.

“Setiap kali hari Asadha diperingati, selalu diingatkan bahwa sebagai umat Buddha, saudara mempercayai dan menerima eksistensi Tripitaka sebagai kebenaran yang tidak bisa diragukan,” kata Menag. (Red)

Comment