Menag: Perubahan Akan Semakin Cepat 5-10 Tahun ke Depan

Menag: Perubahan Akan Semakin Cepat 5-10 Tahun ke Depan

SHARE

Publik-News.com – Kemajuan teknologi mengantarkan manusia pada kemudahan untuk saling berkomunikasi dan bertukar informasi. Media sosial berkembang demikian pesat membongkar sekat komunikasi umat.

“Di era globalisasi, tiada lagi batasan dalam berkomunikasi. Tanpa adanya filter konten, ini berpotensi memicu masalah baru,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam diskusi publik Umat Beragama Mencegah Konflik SARA pada Media Sosial dan Informasi Transaksi EElektronik, Medan (18/11/2016).

Di depan 152 orang peserta gelaran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumatera Utara itu, Lukman mengajak pemuka agama dan umat beragama agar memiliki filter dalam menyikapi konten yang beredar di media sosial.

Menurutnya melalui media sosial, banyak konten negatif dan ujaran kebencian beredar bahkan dibagikan tanpa lagi filter atau pun verifikasi kebenarannya. Hal itu diperlukan kearifan dan sikap bijak sebelum menjadi bagian yang ikut menyebarluaskan.

Menag berharap umat beragama dapat menyaring (filter) informasi di media sosial yang diterimanya, sebelum ikut menyebarluaskan. Hal itu penting dalam rangka meminimalisir potensi terjadinya konflik SARA yang bersumber dari informasi yang berkembang di media sosial.

“Perubahan akan semakin cepat lima sepuluh tahun ke depan. Ini jadi tantangan para pemuka agama dalam memberikan pemahaman keagamaan pada umat,” tutur Lukman.

Menag menjelaskan paling tidak ada dua tantangan yang dihadapi pemuka agama dan umat beragama saat ini. Pertama, bagaimana mereka tetap menjaga hakikat misi agama itu sendiri, yakni mengembalikan esensi agama yang memanusiakan manusia.

Banyak konflik yang terjadi saat ini, menjadikan agama sebagai alat pembenaran bagi pihak yang sedang berkonflik. Maka umat beragama haruslah jadi pihak yang ikut menyejukan dan meredam konflik itu sendiri.

Kedua, terkait soal agama. Seringkali nilai agama dijadikan sebagai parameter atau tolok ukur perilaku orang lain berdasarkan agama yang kita anut atau yang kita yakini. Hal ini sering menghakimi orang lain yang tidak sepaham dengan kita.

Lebih baik jadikan Agama sebagai alat ukur perilaku diri kita sendiri terhadap orang lain. Hal ini tentunya akan meminimalkan kesalahfahaman yang ada.

“Pada masyarakat yang sangat religius di Indonesia, agama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Makanya agama menempati posisi yang luar biasa dalam tatanan sosial kehidupan,” tandas Lukman

Comment