Mencari Lawan Tangguh Jokowi

Mencari Lawan Tangguh Jokowi

SHARE

Akhir tahun ini, pendaftaran capres dan cawapres dibuka. Hanya tinggal beberapa bulan. Para bakal calon sudah bersiap-siap, terutama incumbent.

Di antara nama yang terjaring elektabilitas, hanya incumbent yang sudah siap untuk maju. Bahkan langkahnya massif. Pertama, konsolidasi massa secara rutin dilakukan. Per-hari ini incumbent terhitung sudah 493 kali blusukan. 75 kali di Jabar. Ke Jabar, rata-rata 4 kali dalam sebulan. Wajar, mengingat Jabar adalah kantong pemilih terbesar: 32,8 juta. Jabar dapat prioritas.

Kedua, konsolidasi partai pengusung. Golkar berpotensi menjadi dirijen partai-partai koalisi pendukung incumbent. Hubungan kurang harmonis incumbent dengan PDIP menguntungkan Golkar. Apalagi resistensi banyak pihak kepada partai banteng akhir-akhir ini terus meningkat membuat incumbentsemakin kuat untuk pasang kuda-kuda dan waspada.

Ketiga, tahun 2018 pilkada serentak digelar. Ini peluang merebut suara. Incumbentmemasang para colon kepala daerah sebagai persiapan pilpres. Di Jabar ada Ridwan Kamil, di Jateng ada Ganjar Pranowo dan di Jatim ada Khofifah Indar Parawangsa. Jika mereka sukses, diharapkan bisa menjadi duta atau agen yang bekerja menggiring suara para pendukung untuk memilih Jokowi. Apalagi, gubernur punya akses dan fasilitas.

Keempat, penjajagan calon wapres. Lalu, siapa yang sudah dilirik bakal menjadi calon pasangan incumbent?

Soal wakil, biasa yang dijadikan pertimbangan adalah pertama, formasi Jawa-luar Jawa. Ini formasi sosiologis berbasis demografi. Kedua, elektabilitas personal. Ketiga, kekuatan rekomendasi dari partai. Makin kuat partai, makin berpeluang menyiapkan calon wakil untuk incumbent.

Posisi sebagai calon wapres incumbent sedang diperebutkan. Kenapa? Pertama, incumbent pasti maju lagi di pilpres 2019. Kedua, peluru cukup, bahkan berlebih. Tak perlu lagi cari dana. Bila mujur bisa surplus buat partai pengusung. Ketiga, elektabilitasnya untuk sementara tertinggi, 35-38%. Meski ini terlalu kecil bagi seorang incumbent. Posisi Jokowi dengan elektabilitas dibawah 40% sangat rawan. Rentan dikalahkan.

Beberapa kandidat kabarnya sudah mulai dijajagi. Diantara mereka ada Yusuf Kalla. Atau yang kita kenal dengan JK. Mau duet lagi? Tidak menutup kemungkinan. Apakah tidak terlalu tua? Usia tua itu soal kesadaran, bukan jabatan, apalagi jabatan politik. Setidaknya, jika JK tidak maju, ada orang JK yang bisa ditawarkan.

Sepak terjang JK akhir-akhir ini terlihat sangat kompromis dan akomodatif kepada Jokowi. Diawali dengan penyerahan Golkar, merekrut sejumlah petinggi aktif polri dan BIN ke pengurus DMI, dan bahkan publikasi apresiasi positif JK soal keuangan dan ekonomi pemerintahan Jokowi. Padahal rakyat tahu ekonomi negeri ini sedang dihantam masalah. Publik membaca ini adalah bagian dari skenario JK untuk merapat ke Jokowi, terutama menyiapkan pasangan untuk mendampingi Jokowi di pilpres 2019. Bagi JK, tiket Golkar bisa dimainkan dan menjadi instrumen negosiasi.

Sikap semacam ini tidak biasa dan agak ganjil jika dilakukan JK. Sebab, JK adalah sosok ceplas ceplos dan tidak mudah berkompromi, apalagi menyerah. Kali ini JK menjadi tampak lebih kalem dan nurut sama Jokowi.

Di luar JK, ada Gatot Nurmantyo. Mantan Pangab yang sekarang non job setelah diberhentikan oleh presiden nampaknya masih berharap untuk menjadi orang nomor dua Jokowi. Rumornya sudah pernah dipinang. Apakah masih ada peluang? Sepertinya sulit. Jokowi yang selama ini didukung total oleh Polri, BIN, PDIP dan sejumlah senior TNI pasti berhitung jika mau mengambil Gatot. Pasalnya, keempat pihak tersebut selama ini tampak berseberangan, bahkan bersaing dengan Gatot.

Akan jauh lebih potensial jika Gatot menyatakan pensiun dini, lalu deklarasi maju di pilpres untuk melawan Jokowi. Posisi Gatot akan mendapat simpati banyak pihak, terutama kelompok rakyat yang selama ini berseberangan dengan Jokowi. Gatot akan tampil menjadi antitesa terhadap Jokowi. Kesan nasionalis dan islamis akan muncul kembali ketika Gatot tampil berhadap-hadapan dengan Jokowi yang dikesankan publik “pro Aseng” dan “lawan Umat Islam”. Beranikah Gatot? Kecil kemungkinan.

Jika Gatot, dengan elektabilitas yang sudah muncul di sejumlah survey, tidak punya nyali untuk pensiun dini, besar kemungkinan pamornya akan meredup.

Di luar Gatot, ada Budi Gunawan (BG), Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan AHY. Belakangan muncul nama Zulkifli Hasan. BG menggunakan kendaraan PDIP. Cak Imin bisa pakai tiket PKB dan klaim mewakili massa Islam tradisional NU. Sementara AHY mengandalkan jaringan sang ayah dan Demokrat. Dan Zulkifli Hasan mewakili PAN dan Muhammadiyah.

Hasil pilkada dari empat partai ini akan ikut menentukan siapa yang paling kuat dan potensial dipilih menjadi pendamping Jokowi. Karenanya, keempat partai ini, ditambah Golkar, akan berlomba untuk menang di pilkada 2018.

Jika kelima partai tak ada yang menonjol kemenangannya di pilkada 2018 ini, maka Jokowi bisa mengambil cawapres dari tokoh di luar partai, seperti Sri Mulyani misalnya. Kabar yang juga santer, Jokowi sangat berminat meminang Prabowo jadi cawapresnya. Situasi ini sangat mungkin terjadi terutama saat kelima partai sama-sama kuat/lemah dan ngotot mengajukan wakil. Prabowo mau? Kabarnya, Prabowo sangat tersinggung.

Di sisi lain, jika kompetisi partai-partai koalisi penguasa ini tidak terkonsolidasi dengan baik, maka nasib Jokowi sebagai incumbentterancam. Apalagi jika eskalasi konflik antarpartai tidak mampu dikontrol dan didamaikan, ini akan sangat berpotensi memporakporandakan suara Jokowi di pilpres 2019.

Jika Jokowi dipastikan maju di pilpres 2019, lalu siapa lawan tangguh Jokowi? Ada dua nama potensial yaitu Prabowo Subianto dan Anies Rasyid Baswedan (Gubernur DKI). Gatot masuk nominasi jika berani keluar dari fatsun Jokowi.

Hingga saat ini, Prabowo belum menyatakan akan maju. Hal ini ditengarai karena pertama, elektabilitasnya terus turun. Kedua, kalkulasi surveinya semakin berat menjadi lawan tanding incumbent. Ketiga, tidak cukup dana untuk melakukan perlawanan.

Untuk menjadi capres mesti punya dana cukup. Tidak milyaran, tapi puluhan hingga ratusan triliyun. Bagi Prabowo, menjadi “King Maker” adalah pilihan yang lebih tepat. Terbukti, kiprah Prabowo sebagai “King Maker” telah mensukseskan sejumlah kepala daerah. Di antara mereka yang sukses atas desain politik Prabowo adalah Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wagub DKI 2014, Ridwan Kamil sebagai walikota Bandung 2015, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wagub DKI 2017. Tapi, Prabowo gagal mendesign dirinya di pilpres 2009 dan 2014.

Track records ini mesti menyadarkan potensi kekuatan dan kelebihan yang dimiliki Prabowo sebagai “King Maker”, bukan sebagai pemain.

Siapa yang potensial bisa dimainkan Prabowo? Ada nama Anies Rasyid Baswedan. Sebagai mantan menteri yang berprestasi dan bersih, serta Gubernur DKI yang berani, Anies punya peluang besar untuk bertanding melawan Jokowi di pilpres 2019.

Posisi berhadap-hadapan Anies sebagai Gubernur DKI dengan Jokowi sebagai presiden di kasus proyek reklamasi seolah mempertegas pembelahan dukungan massa siapa pro dan kontra Aseng. Kekalahan Ahok dianggap banyak pihak sebagai bagian dari kekalahan Jokowi. Sebab, kesan publik bahwa Jokowi berada di belakang Ahok di pigub DKI agak sulit dibantah.

Pemberhentian Anies dari posisi mendikbud ditengarai sebagai pergeseran “kabinet kerja” ke “kabinat koalisi” justru menjadi poin positif buat Anies, tapi defisit buat Jokowi.

Faktor rivalitas, keberanian dan pembelahan dukungan menjadi modal besar buat Anies untuk menjadi lawan tanding Jokowi. Disamping kecerdasan konseptual dan oral Anies menjadi faktor keunggulannya atas Jokowi. Kedua faktor ini terbukti telah berhasil menghijrahkan suara dan dukungan AHY ke Anies di pilgub DKI tahun lalu. Komampuan konseptual dan oral Anies berpotensi menjadi ancaman serius bagi Jokowi terutama terkait janji-janji politik yang tak tertunaikan dan sejumlah kegagalan pengelolaan negara. Siaran televisi untuk tiga kali debat capres-cawapres di musim kampanye akan besar pengaruhnya, bahkan bisa menjadi faktor penentu kemenangan.

Lalu, siapa yang cocok mendampingi Anies? Nama Gatot Nurmantyo punya nominasi selama ada nyali untuk keluar dari fatsun politik Jokowi. Jika kedua tokoh ini dipasangkan, maka akan menegaskan posisi antitesanya terhadap Jokowi. Namun, ini agak sulit direalisasikan mengingat keduanya tidak punya partai.

Selain Gatot, ada Ahmad Heryawan (Kang Aher), Gubernur Jabar. Anies-Heryawan akan menjadi pasangan yang lebih realistik mengingat Kang Aher dinominasikan PKS untuk maju di pilpres 2019. Juga ideal karena Kang Aher menguasai Jabar. Jika Prabowo legowo mengusung Anies dan PKS mendampingkannya dengan Aher, ini akan menjadi kekuatan oposisi yang sangat berpeluang.

Di luar dua sosok itu, ada Zulkifli Hasan, Cak Imin, AHY. Meski tidak terlalu ideal, tetapi tetap ada kemungkinan mengingat ketiganya punya partai kelas menengah yang bisa saja bergabung. Hanya saja, isu “sandera politik” membuat langkah ketiganya tidak mudah.

Selain Prabowo, Anies Rasyid Baswedan adalah lawan paling tangguh bagi incumbent. Apalagi jika dipasangkan dengan Aher atau Gatot.

Oleh: Tony Rosyid

(Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

SHARE
Comment