Mencari Sosok Bung Karno di Tengah Kekalutan

Mencari Sosok Bung Karno di Tengah Kekalutan

SHARE

“Setiap melihat situasi yang krusial, Bung Karno tidak gumunan dan kagetan lalu bengong blangkemen. Demi negara dan bangsa Indonesia, Bung Karno selalu tampil sebagai negarawan yang patriotik, heroik bagaikan singa. Bung Karno : Amerika…. Go to hell with your aid !!! “

Laki-laki itu sudah tua, namun segar dan semangat. Usianya sudah dapat bonus di atas usia umumnya. Patriotismenya nyaris utuh tidak hanyut larut hiruk pikuk berebut sesuatu yang membuat dirinya nista jadi omongan rakyat. Bersenandung untuk membangun jiwa patriotisme dan kejuangannya masih sering dia lakukan, agar dirinya terjaga.

“Biar badan hancur lebur, kita kan bertempur, membela keadilan suci, kebenaran murni. Di bawah Dwi Warna Panji, kita kan berbhakti, mengorbankan jiwa dan raga, membela ibu pertiwi. Demi Allah Maha Esa, kami nan bersumpah, setia membela nusa dan bangsa tanah tumpah darah”.

Itulah lirik Hymne Taruna yang paling dia senangi, dan sering dia senandungkan. Hymne Taruna adalah ikrar atau sumpah. Sumpah yang tetap melekat. Dia belum pernah mencabut sumpahnya. Sumpah yang akan dia bawa mati. Dia juga berharap, kiranya para alumni Tidar Magelang selalu ingat sumpahnya, tidak luntur, dan tidak memalukan almamater.

Kini, dirinya mencermati situasi dan kondisi negeri saat ini. Pikiran dan perasaannya masuk ke alam keprihatinan. Persatuan dan kesatuan yang dirajut susah payah oleh para pejuang kemerdekaan berada diujung tanduk. Keprihatinan dia bukan karena ‘paranoid’. Berbagai peristiwa dan fakta menguatkan keprihatinannya. Dia tercenung, ingat dan mendambakan sosok kenegarawanan dan patriotisme seperti Bung Karno.

Cuplikan Sosok Bung Karno

Kenegarawanan dan patriotisme Bung Karno tidak diragukan. Bung Karno tidak pernah berfoto selfie dan wefie untuk pencitraannya. Foto-foto Bung Karno diambil secara natural, tatkala Bung Karno pidato dan acara lainnya. Hampir tidak ada yang bernilai feminim. Ekspresi teriakan, tangan dikepal, dua tangan dan jari yang digerakkan, membangkitkan semangat nasionalise, itulah ciri foto Bung Karno.

Bung Karno sangat rasional, tidak pernah ‘gumunan’ atau heran melihat sesuatu. Beliau tidak pernah ‘kagetan’, atau terkejut lalu membuat langkah tak terkontrol, jika ada dinamika. Beliau tidak pernah ‘bengong’ atau diam melamun, dan tidak ‘blangkemen’ atau diam tidak mampu bicara ketika ada sesuatu yang harus dilakukan. Reaksi spontan Bung Karno sangat bernilai tinggi.

Bung Karno dalam membuat keputusan selalu tepat sasaran. Ibaratnya, tidak pernah mengobati kanker hati dengan mengamputasi tangan. Kegagalan Badan Konstituante dalam menetapkan UUD baru sebagai pengganti UUDS 1950, Bung Karno mengeluarkan Dekret Presiden pada 5 Juli 1959. Keputusan yang berani, membubarkan Badan Konstituante hasil Pemilu 1955 dan penggantian UUD dari UUDS 1950 ke UUD 1945.

Kekesalan Bung Karno kepada Amerika Serikat tercetus : “Amerika… go to hell with your aid !!” gara-gara Bung Karno merasa AS menganggap Indonesia sebagai negara yang melarat dan perlu diberi bantuan. Bung Karno berpendirian lain. Apa yang diberikan Amerika adalah hutang yang harus dibayar berikut bunganya. Jadi bukan bantuan sebagaimana orang kaya membantu orang miskin.

Ketika Indonesia konflik dengan Malaysia, Bung Karno : “Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malayan itu. Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malysian keparat itu !!”. Suara Bung Karno menggelegar mengejutkan dunia. Walau Indonesia baru merdeka, itulah reaksi Bung Karno ketika harga diri negara dan bangsa terusik.

Akibat ketidakmampuan PBB menyelesaikan konflik Indonesia dengan Malaysia, 20 Januari 1965 Bung Karno menarik keanggotaan Indonesia di PBB. Dalam menghadapi Nekolim (neo-kolonialisme dan neo-imperialisme) Bung Karno berani berkonfrontasi dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC) dengan mencabut sementara dari keanggotaan. Bung Karno mempelopori berdiri dan diselenggarakannya “Games of New Emerging Forces” (Ganefo) tahun 1963. Pesta olah raga yang bergengsi.

Sosok negarawan yang patriotik seperti Bung Karno sangat diperlukan untuk situasi Indonesia saat ini. Ada sederetan peristiwa yang menunjukan adanya gejala yang bisa menjurus kepada konflik yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan peristiwa tersebut sudah menyentuh harga diri sebagai bangsa besar dan merdeka, karena keikutcampuran asing.

Peristiwa dan Harapan

Nitizen mencatat dan berpendapat, suka tidak suka, saat ini Indonesia dapat dikatakan sedang kalut. Sebagai negara merdeka, besar dan kaya raya, diberitakan ada kelompok makar. Ada kelompok radikal, kelompok intoleran yang anti sesanti bangsa Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan ada kelompok yang anti Pancasila. Padahal Pancasila sebagai falsafah bangsa pun ada yang menentang.

Terbukti atau tidak, stigma adanya kelompok brengsek tersebut sudah menyebar luas sampai mancanegara. Adanya kelompok brengsek tersebut jelas membikin malu rakyat Indonesia umumnya, khususnya para pengelola negara. Mengapa, secara rasional dan teori, menculnya kelompok brengsek menunjukkan kegagalan dalam mengelola negara tentunya.

Kekalutan berawal saat proses Pilkada DKI 2017. Rangkaian peristiwa pokok mulai adanya kasus dugaan penistaan agama, Aksi Bela Islam, muncul kelompok yang mengaku lawan kelompok intoleran dan anti Pancasila, banjir sembako di saat minggu tenang, banjir bunga untuk Ahok yang kalah di Pilkada, banjir bunga untuk persidangan kasus Ahok, banjir bunga dan sejuta lilin untuk pembebasan Ahok, terus bergulir ke peristiwa yang lebih memprihatinkan secara meluas.

Ketika putusan Majelis Hakim menyatakan Ahok melanggar pasal 156a Hukum Pidana, gelombang kekisruhan menunjukkan eskalasi yang tajam. Demo dari pendukung Ahok meluas, melanggar aturan waktu demo dan yang sangat tidak sehat adanya video dari orator saat demo yang mengatakan kurang lebih pemerintahan Jokowi lebih buruk daripada era SBY.

Tuntutan pembebasan Ahok disertai dengan ancaman akan memisahkan dari NKRI jika tuntutannya tidak dipenuhi. Tidak saja tuntutan pembebasan Ahok, tetapi mengkritisi proses persidangan pun terjadi. Tidak hanya di dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. Konon HAM PBB dan Belanda dan beberapa negara lain juga ikut campur urusan dalam negeri Indonesia.

Jika ada warga negara Indonesia yang tidak merasa tersinggung atas keikutcampuran asing terhadap negeri ini, patut diduga dia adalah pengkhianat. Kekalutan negeri ini tidak cukup dengan pernyataan hormati putusan hakim, hormati upaya banding dan saya tidak mencampuri pengadilan. Di tengah kekalutan negeri ini, rakyat berharap adanya sosok seperti Bung Karno untuk mengatakan “right or wrong is my country”.

Kekalutan yang menunjukkan adanya gejala pecahnya persatuan bangsa dan bisa berujung perang saudara, juga diperlukan sosok seperti Bung Karno yang mampu meredam perpecahan. Rakyat berharap statemen dan upaya pencegahan perpecahan tersebut tidak hanya dari pemangku kepentingan saja, tetapi juga oleh pera penyelenggara negara di negeri ini.

Upaya yang telah dilakukan di media sosial oleh beberapa tokoh seperti Letjen TNI Purn Johannes Suryo Prabowo, Jaya Suprana, Wawat Kurniawan, Kho Seng Seng, Zeng Wei Jian, Taufiequrahman Ruki, Samuel Lengkey, Edwin Sukowati, Liues Sungkarisma, Djokoedhi Abdurahman, Bastian Simanjuntak, Dr. La Ode dan banyak tokoh-tokoh muda lainnya yang sangat majemuk baik etnis dan agamanya, patut diacungi jempol.

Umumnya para tokoh di atas memiliki pandangan yang konstruktif. Pernyataan yang berisi muatan ajakan untuk memelihara persatuan kurang lebih sebagai berikut :
“Kasus Ahok itu kasus pidana. Bukan kasus minoritas versus mayoritas. Bukan kasus konflik antar agama. Juga bukan konflik antar etnis. Jadi Ahok itu tidak mewakili perilaku minoritas dan non muslim. Dia kriminal yang tidak perlu dibela atas nama persamaan agama dan status minoritas. Dia juga tidak pantas dijadikan simbol Bhinneka Tunggal Ika” (J.Suryo Prabowo).

Apabila semua memiliki persepsi yang sama seperti di atas, karena memang tidak ada kepentingan yang lebih penting dari pada terjaganya persatuan dan kesatuan bangsa, dan itu semua digelorakan sehingga membahana, tentu bisa mencegah konflik. Apabila ada penyelenggara negara yang berbicara seperti di atas, apalagi yang berbicara adalah Presiden, tentu persepsi yang keliru dari orang-orang asing tidak akan terjadi.

Apabila Presiden sudah menyampaikan seperti itu, tetapi asing masih juga ikut campur urusan dalam negeri kita, maka patut kita waspada. Patut diduga memang ada kekuatan tertentu yang menginginkan kita pecah dan hancur. Ada kepentingan asing terhadap Indonesia. Di sinilah rakyat mendambakan sosok seperti Bung Karno yang berani mengatakan : “Haii asing… Go to hell….”

Oleh: Prijanto
(Penulis adalah Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta)

SHARE