Mengaji pada Kearifan Kabbalah

Mengaji pada Kearifan Kabbalah

SHARE
http://i0.wp.com/olivetjournal.com/wp-content/uploads/2014/07/TreeofLife.kabalachart44555.jpg?resize=600%2C457

 

Oleh Mohd. Sabri AR

 

God: quasi ignotus cognoscitur-“Tuhan:  dikenal sebagai Dia yang tak dikenal”

(St. Thomas Aquinas)

 

Dari abad ke-12 yang dingin, sebuah tradisi arkhaik kuna mengalir riuh dalam percakapan paling senyap dalam kehidupan: Tuhan. Setidaknya ada dua dalil “percakapan” tentang Tuhan, yang pertama secara esoteris-mistis dan kedua dengan menggunakan penalaran logis-filosofis. Kabbalah, sebagai salah satu sekte terpenting dalam tradisi Yudaik, memilih jalur pertama.

Kaum Kabbalist mendaku, tidak ada “pengetahuan religius” yang mungkin tentang Tuhan, betapapun tinggi dan agungnya pengetahuan tersebut. Bagi mereka, Tuhan tak dapat dipercakapkan dengan kerangka pengetahuan dalam pemahaman manusia. Untuk menerobos misterium yang berkabut itu, kaum Kabbalist—setidaknya yang ditulis Gershom Scholem, Kabbalah (New York: Meridian, 1978)—menyodorkan  satu term unik dalam menyebut Tuhan, Ein Sof. Term ini, dapat disepadankan dengan “Yang Nirbatas atau Yang Tak Terbatas (Infinite)”, tapi para Kabbalist, lebih suka tidak mendefinisikan term tersebut dan membiarkannya tidak diterjemahkan. Ein-Sof tidak memiliki kembaran kata dalam bahasa Arab atau Latin. Kata Arkhaik ini tumbuh dari bahasa Yudaik Kuno  le ein sof  atau ad le-ein sof, yang bermakna “membentang tanpa batas”, melukiskan bahwa Tuhan adalah yang tak terbatas dalam eksistensi dan kekuasaan-Nya.

Ein-Sof, karena itu,  dilukiskan para Kabbalist  sebagai kesempurnaan mutlak, dimana tidak ada distingsi dalam dirinya: ia adalah yang unik, tapi keunikannya tak dapat dirumuskan oleh pengetahuan manusiawi. Sebab, setiap pengetahuan akan membeda-bedakan objeknya, sementara Ein-Sof  tidak terbedakan dalam dirinya. Dari titik ini, kaum Kabbalah kemudian menyebut Ein-Sof dalam sejumlah pengungkapan: mah she-ein ha-mahshavah massaget (“yang tak terhalau oleh pikiran”), ha-or ha-mit’allem (“cahaya tersembunyi”), seter ha-ta’allumah (“rahasia yang terselubung”), ha-ahdut ha-shavah (“kesatuan yang tak terpisahkan”), dan seterusnya kian meneguhkan betapa gelap pengetahuan manusia tentang Tuhan.

Selubung misteri Tuhan kian tebal, ketika kaum Kabbalah menegaskan jika bahasa, juga  bahasa yang dipilih Tuhan, tidak memuat sedikit pun tentang hakikat Ein-Sof. Tidak ada petunjuk atau isyarat apa pun tentang Ein-Sof itu sendiri. Yang ada hanyalah petunjuk atas petunjuk tentang Ein-Sof,  dan bukan tentang “diri” Ein-Sof. Dengan kata lain, penyebutan Ein-Sof  hanyalah semacam alegorisme tentang “hakikat Ein-Sof.”

Tak kurang dari Baruch Kosover (w. 1770), salah seorang Kabbalist menulis: “Ein-Sof  bukanlah nama diri-Nya, melainkan hanyalah kata yang menandakan ketersembunyian-Nya yang absolut, dan bahasa suci kita tidak memiliki kata seperti dua kata itu untuk menandakan ketersembunyian-Nya. Dan tidak boleh seorang berkata, ‘Ein-Sof,  semoga kita dirahmati oleh-Nya’ atau ‘semoga Dia merahmati’, karena Dia tak dapat dipuji dengan bibir kita.”

Para Kabbalah lebih jauh mengembuskan kearifannya, bahwa Ein-Sof, menajallikan asal-mula diri sebagai “ketiadaan” atau “kekosongan”. Tradisi Kabbalah, lagi-lagi, di titik senyap mengenai Tuhan, mengenalkan satu istilah yang juga tak dimiliki tradisi religius apa pun yakni ayin. Istilah ini mirip dengan ‘ayn (Arab) yang berarti “esensi”, namun uniknya, ayin dapat dimaknai kurang lebih sebagai “ketiadaan”, justu berseberangan arti dengan “ada” yang terkandung dalam ‘ayn.

Ein-sof, memanifestasikan diri—dalam kaji kaum Kabbalah—pertama-tama sebagai ayin (“ketiadaan”), ayin ha-gamur (“ketiadaan yang mutlak”). Karena ia “tiada”, maka setiap sesuatu yang ada muncul darinya. Para Kabbalah  berkeyakinan bahwa segala yang ada bersumber dari dan berakhir pada “ketiadaan azali” atau Ein-Sof.

Karena “ketiadaannya”, karena ketiadaannya yang absolut—demikian  sebilah keyakinan kukuh yang terbungkus pualam mistik kaum Kabbalah—maka Ein-Sof tidak dapat dikonsepsikan dengan pengetahuan kategoris. Cara terbaik, meski belum tentu memadai,  adalah dengan menegasikan pernyataan tentang Ein-Sof itu sendiri. Karena itu, ayin musti dipahami sebagai “Dia Yang Bukan” atau “Dia Yang Adalah Bukan”. Dengan ungkapan lain: Dia yang menegasikan dirinya, atau menampakkan dirinya sebagai “Negativitas Sublim” (sublime negativity). Konsekuensinya, Tuhan bukanlah ini atau itu, bukan ada atau tidak ada, bukan apa-apa dan bukan bukan apa-apa,  ia tidak dapat disebut dengan apapun yang mungkin untuk disebut. Mungkin itu sebab, tradisi Al-Quran menyebut Tuhan dalam nafas yang negasi: lam yakun lahu kufuwan ahad (“Tak satu apapun yang setara Dia”) atau laysa kamistlihi syai’ (“Tak satu apapun yang dapat dimisalkan Dia”).

Pengajian tentang Tuhan—setidaknya  dalam haluan mistis kaum Kabbalah—mengandaikan  jika ia tak terjangkau, tak tercakapkan, tak terumuskan: sebuah kesunyian mutlak yang maha senyap, tapi juga Maha Lain Penuh Cinta. Jangan-jangan, Tuhan dalam kearifan Kabbalah adalah episentrum: misterium yang menyedot setiap rindu yang membuncah untuk “melebur” dengan-Nya, di setiap penggal waktu. Itu sebab, jalan menemui-Nya, membentang sebanyak nafas para pencaharinya.[]

SHARE
Comment