Mengenal lelebih Jauh Imam Shamsi Ali, Putra Bangsa Yang Menginspirasi

Mengenal lelebih Jauh Imam Shamsi Ali, Putra Bangsa Yang Menginspirasi

SHARE

Imam Shamsi Ali adalah Ulama Islam dan Imam terkenal di New York City, Amerika Serikat. Beliau adalah seorang Ulama Tafsir (a revered Qur’an scholar) dan Ilmu Perbandingan Agama, fasih berbicara Indonesia, Inggris, Arab dan Urdu.

Saat ini Imam Shamsi Ali menjabat sebagai Direktur dan Imam Jamaica Muslim Center New York, komunitas Muslim terbesar di kota New York, Presiden dan Pendiri Nusantara Foundation (yayasan yang didirikannya tiga tahun lalu. Shamsi Ali juga terpilih sebagai Presiden Muslim Foundation of America, sebuah yayasan dakwah di Amerika Serikat.

Sejak peristiwa serangan teror di Amerika 2001 lalu Imam Shamsi Ali semakin populer di kota New York dan Amerika. Menjadi wakil komunitas Muslim dalam berbagai pertemuan dengan pejabat negara maupun pimpinan agama-agama di Amerika. Maka tahun itu juga Ketua Dewan Pengurus Islamic Center of New York secara khusus memintanya untuk menjadi salah seorang Imam di masjid besar New York itu.

Di saat menjadi Imam di Islamic Center itulah beliau mempelopori berbagai kegiatan untuk menangkal kesalah pahaman terhadap Islam di Amerika. Tiga kegiatan utama beliau adalah membangun komunikasi dan kerjasama dengan pemerintah setempat, mengintensifkan dialog antar pemeluk agama, dan yang terpenting membuka kegiatan khusus dengan nama Islamic Forum for non Muslims. Di kegiatan terakhir inilah banyak masyarakat Amerika kemudian tertari belajar Islam, minimal untuk mendapatkan klarifikasi dari berbagai kesalah pahaman tentang Islam.

Sebelum berkiprah lebih jauh Shamsi Ali sesungguhnya memang datang ke Amerika untuk menjadi Imam (pemimpin) sebuah masjid kecil milik warga Indonesia di kota New York. Masjid inilah yang kemudian lebih dikenal dengan nama masjid Al-Hikmah. Di sinilah Shamsi Ali memulai kiprahnya, termasuk merintis kegiatan dialog antar agama. Dan kiprahnya inilah yang menjadikannya terpilih untuk mewakili komunitas Muslim dalam berbagai perhelatan besar pasca serangan 9/11 di kota New York.

Di masjid Al-Hikmah ini Shamsi Ali tidak pernah secara formal digaji sebagai Imam. Karena memang menyadari akan keterbatasan kemampuan komunitasnya saat itu. Oleh karenanya, untuk menghidupi keluarga besarnya, Shamsi Ali diangkat menjadi pegawai di Perwakilan RI untuk PBB New York. Penempatan beliau di PTRI ini sesungguhnya adalah bagian dari sumbangsih pemerintah RI untuk masjid Indonesia di kota New York itu.

Sejak kadatangannya di kota New York juga Shamsi Ali juga melibatkan diri dengan berbagai kegiatan komunitas Muslim lintas etnik. Salah satunya adaah menjadi Ketua Parade Islam Internasional New York di tahun 1998. Sekaligus menjadi anggota Dewan Pengurus dari Muslim Foundation of America, induk organisasi dari Parade Islam Internasional tersebut. Dan sejak tahun 2016 lalu, Shamsi Ali terpilih menjadi presiden dari organisasi bergengsi tersebut.

Kiprahnya di berbagai organisasi antar agama internasioanl sangat banyak, di antaranya sebagai anggota Dewan Penasehat untuk Pusat Tanenbaum, sebuah organisasi antar agama yang elit dan besar di Amerika. Shamsi Ali juga adalah penasehat keagamaan untuk Federasi Perdamaian Timur Tengah, organisasi yang berafiliasi dengan PBB New York dalam bidang rekonsiliasi dan perdamaian Timur Tengah. Imam Shamsi Ali juga menjadi Dewan Pembina untuk Asean Federation of Muslim Amerika Utara, anggota Dewan untuk Kemitraan Imam di NY, pendiri-bersama (co-founder) UNCC (Rohaniwan Universal Koalisi-International).
– Presiden dan anggota Dewan Yayasan Muslim Amerika, Inc., Ketua Parade tahunan Muslim di NYC., Wakil Presiden Koalisi Asia di Amerika (AAC-USA) dan Perwakilannya di PBB, anggota Dewan Pengurus NYC Partnership of Faith, dan banyak lagi.

Di kalangan komunitas Muslim Indonesia di Amerika Utara Imam Ali adalah Dewan Penasehat IMSA (Indonesian Muslim Society di Amerika), juga Dewan Penasehat ICMI (Indonesian Muslim Society Intelektual di Amerika). Shamsi Ali kerap berkeliling ke seluruh negara bagian Amerika untuk memberikan ceramah agama kepada warga Muslim dan Indonesia secara khusus. Nama Shamsi Ali sangat populer di kalangan masyarakat Muslim Amerika dan Indonesia di Amerika Serikat.

Aktifitas dialog antar agama Shamsi Ali menjadikannya begitu sangat populer di kalangan warga non Muslim juga. Beliau kerap kali memberikan ceramah-ceramah atau presentasi Islam di berbagai gereja maupun sinagog Yahudi. Dan kepopuleran nama itulah yang menjadikannya secara khusus diminta menjadi anggota Dewan Muslim-Yahudi (Muslim-Jewish Council), sebuah organisasi dua komunitas untuk melobbi para pengambil kebijakan di Amerika Serikat.

Kembali ke tahun 2001 silam, Imam Ali satu dari dua Imam yang diundang untuk menemani Presiden George W. Bush di saat mengunjungi Ground Zero beberapa hari setelah 11 September. Di saat pertemuan dengan Bush itulah Shamsi Ali menyampaikan kepada Bush bahwa serangan terror 9/11 itu tidak ada kaitannya dengan agama Islam dan komunitas Muslim. Shamsi Ali juga meminta kepada Bush agar memberikan pernyataan publik kalau Islam dan Muslim tidak ada hubungannya dengan serangan itu. Ternyata Presiden Bush mendegarkan masukan itu dan memberikan konferensi pers seperti yang Shamsi Ali minta.

Beberapa hari setelah peristiwa 9/11 Shamsi Ali mewakili komunitas Muslim dalam acara “prayer for America” sebuah acara nasional pasca terjadinya serangan 9/11 di kota New York. Acara ini dihadiri oleh pemimpin nasional Amerika, termasuk Presiden Bill Clinton.

Shamsi Ali juga sudah berkali-kali diundang ke Gedung Putih sebagai wakil komunitas Muslim dalam diskusi-diskusi keagamaan dan urusan sosial, termasuk di saat Presiden Bush masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.
Imam Shamsi Ali telah menghadiri berbagai seminar atau konferensi internasional, antara lain Konferensi Internasional Imam dan Rabi untuk Perdamaian di Seville Spanyol 2006 dan National Summit pertama Imam dan Rabi Amerika Utara 2007, mewakili komunitas Muslim pada diskusi antar-agama dalam acara dialog Agama dan Pembangunan Berkelanjutan di Gedung Putih pada tahun 2007. Imam Ali juga berpartisipasi dalam Dialog Antar Agama Transatlantic 2008 di Frankfurt, Jerman.

Imam Shamsi dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh tokoh agama yang paling berpengaruh di New York City oleh New York Magazine (2006). Juga diangkat “Duta Perdamaian” oleh Federasi Internasional Agama Penghargaan Interfaith ICLI 2008. Dan dianugerahi sebagai salah satu dari 100 penerima the 2009 Ellis Island Medal of Honor Award. Ini medali emas bergengsi non militer adalah pengakuan tertinggi yang diberikan kepada imigran dengan kontribusi luar biasa kepada masyarakat Amerika dan dunia dan baginya, itu karena dedikasi tanpa henti dalam membangun jembatan antara komunitas agama. Pada tahun 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, dan 2014, Imam Ali terpilih sebagai salah satu dari 500 Muslim paling berpengaruh di dunia oleh Studi Islam Royal Center Strategis di Yordania dan Universitas Georgetown.

Menyelesaikan pendidikan dasar di kampung halamannya, Kajang, Sulawesi Selatan. Lalu melanjutkan studi Islamnya di Pesantren “Darul-Arqam” Makassar. Shamsi Ali kemudian kuliah di luar negeri dan berhasil memperoleh gelar BA di bidang ilmu tafsir dari Universitas Islam Internasional Islamabad-Pakistan pada tahun 1991 dan gelar MA dalam Studi perbandingan Agama dari universitas yang sama pada tahun 1994.

Imam Ali memiliki kesempatan untuk bertemu dengan berbagai tokoh, seperti mantan Presiden GW Bush, Bill Clinton, Presiden Erdogan, Hillary Clinton, Shimon Peres, Michel Bloomberg, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan mantan Presiden RI Prof BJ Habibie dan KH Abdurrahman, dan tentunya presiden terpilih Amerika saat ini Donald Trump.
Imam Shamsi Ali juga adalah penulis produktif. Pemikiran-pemikiran tajam dan kritisnya dapat dibaca di berbagai media massa maupun media sosial. Bahkan dalam 4 yahun terakhir Shamsi Ali telah menerbitkan sembilan buku, di antaranya Dai Muda di NYC (GIP, 2008), True Love in America (GIP 2010), Sons of Abraham (Beacon Press, 2013 USA), Menebar Damai di Bumi Barat (Mizan 2014) dan Anak-Anak Ibrahim (Mizan 2014), 7 Tokoh Dunia (Gramedia 2016), Telling Islam to the World (Gramedia 2017) dan Kuketuk jiwa dari kota judi (Mizan 2017).

Sebelum menginjakkan kaki di Amerika Serikat, Setamat dari Universitas Islam antar Bangsa Islamabad, Shamsi Ali sempat menjadi staf pengajar di Islamic Education Foundation Jeddah Saudi Arabia. Di sanalah dia dipertemukan dengan Dubes Indonesia untuk PBB, Nugroho Wisnumurti, di saat beliau memberikan ceramah manasik haji kepada kelompok jamaah haji luar negeri.

Atas undangan Dubes Nugroho itulah Shamsi Ali berangkat ke Amerika untuk menjadi Imam di masjid Al-Hikmah New York, masjid satu-satunya milik warga di Amerika Serikat. Dari sinilah sejak tragedi 9/11 Imam Shamsi Ali melebarkan sayap dan membangun relasi dengan semua komunitas agama. Semua ini dilakukan untuk menangkal kesalah pahaman dan kemarahan warga Amerika kepada komunitas Islam akibat serangan terror 2001 lalu.

Dan sejak itu pula Shamsi Ali dikenal luas oleh warga Amerika, termasuk presiden Amerika saat itu. Tidak mengherankan jika Shamsi Ali sangat dekat dengan walikota New York, Michael Bloomberg. Bahkan Imam shamsi Ali dijuluki oleh khalayak ramai dan media sebagai “the face of moderate Islam” (wajah Islam moderat).

Kini sebagai bentuk kepeduliannya dengan tanah airnya, Indonesia, sejak 3 tahun terakhir mendirikan yayasan bernama Nusantara Foundation. Yayasan ini banyak bergerak di bidang keagamaan, pendidikan dan sosial. Tapi lebih khusus lagi menjadi kendaraan bagi Shamsi Ali untuk menjembatani antara dunia Islam, Amerika dan dunia barat. Dan ini pula impiannya sejak awal tiba di Amerika. Menjadi jembatan kesepahaman (understanding) antara dunia Islam dan Barat.

Shamsi Ali terlahir di sebuah kampung terpencil di Kecamatan Kajang, Sul-Sel. Di sanalah dia memulai hidupnya yang cukup keras. Dan itu pulalah yang membawanya hingga menjelajah dunia. Hingga saat ini Shamsi Ali masih menetap di kota dunia, New York, bersama isteri dan enam orang anaknya.

Sunggu sebuah perjalanan panjang, penuh liku, riak dan pahit manisnya. Tapi satu hal yang harusnya dicatat, bahwa nun jauh seberang sana ada seorang putra bangsa yang membanggakan dan menginspirasi.

SHARE
Comment