Home Politik Mengintip Bedahan “Viral Branding” Fahri Hamzah

Mengintip Bedahan “Viral Branding” Fahri Hamzah

Publik-News.com – Salah seorang konsultan membedah “viral Branding” Fahri Hamzah, sang Wakil Ketua DPR RI yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik perihal pernyataan-pernyataannya yang kerap kontroversial, baik di depan publik maupun lewat media sosial.

Yang membedah “Viral Branding” Fahri Hamzah tersebur adalah Endy Kuraniawan. Ada beberapa hal yang divariabelkan Endy dalam membedah viralitas baranding Fahri tersebut. Beberapa variabel tersebut ditulis Endy melalui artikel berjudul “
Berbeda dan Rela Sendirian, Membedah ‘Viral Branding’ Fahri Hamzah”.

Artikel Endy yang juga Praktisi Komunikasi Digital dan Penulis Buku, itu dimuat di website pribadi Fahrihamzah. Berikut ulasan Endy soal viral Branding Fahri tersebut selengkapnya yang dikutip Publik-News, Kamis (22/2/2018).

Berbeda dan Rela Sendirian, Membedah ‘Viral Branding’ Fahri Hamzah.

“To define yourself, divide the public.” –Helfert.

BENAK konsumen politik maupun konsumen produk komersial, lebih mudah mengenali dan mengingat barang berbeda di antara yang sama.

Kita bedah soal branding sebagai awal dari penciptaan viral ini dengan studi pada Fahri Hamzah. Di linimasa dunia maya, politisi ini jadi bulan-bulanan sekaligus banjir pujian. Hal yang kemudian terbawa-bawa ketika publik bertatap muka, langsung dengannya.

Sebagai pemilik branding otentik kritikus pemerintah, anti kemapanan, pelawan oligarki yang penuh kontroversi, Fahri Hamzah sudah memulainya sejak lama. Pemberontak khas aktivis jalanan, satu ciri yang belum hilang.

Mengapa uniqueness kita bahas di depan, karena apa yang dilakukan di sini akan menentukan keseluruhan produksi dan distribusi media yang akan menjadi pemicu viral yang menjadi tema utama tulisan ini. Sempatkan juga membaca tulisan sebelumnya.

Kredibilitas yang dibangun melalui posisi yang jelas beda–berhadapan langsung dengan kekuasaan–menemukan momentumnya ketika terjadi gelombang ketidakpuasan di masyarakat. Politisi punya pilihan posisi ketika bertemu fakta: pemerintah berencana akan mengangkat jenderal polisi menjadi penjabat gubernur – yaitu : (1) mendukung pemerintah agar situasi keamanan kondusif, (2) mempersilakan pemerintah memutuskan karena lebih paham situasi, atau (3) pemerintah kurang kerjaan, ribuan birokrat lebih pantas daripada jenderal polri. Fahri memilih yang ke-3. Posisinya jelas di persespi publik. Satu kata: Lawan!

Bekal posisi yang jelas itu menjadi modal yang kuat untuk memproduksi konten yang sejalan dengan kredibilitasnya, sekaligus seirama dengan social mood yang sedang mekar di hati publik. Maka distribusi menjadi mudah, konten menjadi viral dan menjalar. Menjangkiti batin publik merambat melalui jempol yang tertambat di layar gawai atau sisanya melalui layar kaca dan media cetak.

Dalam kasus Fahri Hamzah, tidak perlu memproduksi konten yang halus-halus, kecuali dirasa publik–berdasar riset–nanti membutuhkannya. Produksi konten multimedia adalah artikulasi brand-nya. Haters mungkin bermunculan, tapi lovers dan new voters lebih banyak lagi berdatangan. Yang jelas, narasi yang dibawa dan digulirkan kemana-mana jelas dan tegas, karena cara itu membuat publik mengenali sosok seorang figur dengan cepat dan melekat.

Meski memang, menjadi berbeda tidak pula mudah. Seorang politisi yang unggul dalam komunikasi harus menggunakan riset yang mendalam untuk mendeteksi kelemahan pesannya dan mencari tahu potensi masalah yang mungkin muncul sebagai antisipasi. Tapi andai itu tak tercapai, ia harus mengetahui masalah apa yang terjadi (dan menjangkiti lawan politiknya) dan menggunakannya sebagai framing dalam bertarung. Seperti kata Daly, “whoever defines the problem wins.”

Comment