Menjadi Penyair

Menjadi Penyair

SHARE

Epilog atas buku puisi “Sepanjang Kayuh” karya Syarif WB

Ada seribu satu alasan untuk tidak menjadi penyair. Yang paling utama adalah kitab suci yang mencap mereka sebagai orang yang pergi ke lembah hayal dan mengatakan sesuatu yang mereka sendiri tidak kerjakan. Ada seribu satu alasan untuk tidak menjadi penyair. Meski Adonis mati-matian membela kedudukan mereka, pada kenyataannya sabda Adonis tetap tidak memiliki kekuatan di bawah kuasa mutlak kitab suci. Karenanya, penyair bukanlah nabi, dan puisi bukanlah wahyu yang jatuh dari kemurahan langit. Lalu bagaimana dengan mereka yang tetap ngotot menjadi penyair? Mari kita lihat.

Halim Hade, seorang yang menamakan dirinya sebagai Networker Kebudayaan menulis olok-olok yang mengandung sinisme di status facebook-nya pada 21 Januari 2017. “Ada dua puluh satu ribu tujuh ratus delapan puluh sembilan penyair di negeri ini”, kata Halim. Penyair dalam jumlah sefantastis itu, jikapun benar, tentu bukan dalam pengertian ketat. Artinya, baru sebatas mereka yang berupaya menulis puisi – belum bisa dikatakan sebagai penyair.

Puisi memiliki undang-undang, kaidah-kaidah, dan hukumnya sendiri. Artinya, meski diniatkan sebagai puisi, ketika undang-undang, kaidah-kaidah, dan hukum yang mengikatnya tidak dipahami dan dijadikan landasan dalam perosesnya, ia tertolak sebagai puisi. Ibarat seseorang yang ingin membuat soto, ia harus tahu bumbu apa saja yang diperlukan dan memahami bagaimana cara membuatnya agar apa yang ia buat memang benar-benar soto – bukan pseudo soto. Inilah yang dinamakan puitika – sebuah keniscayaan dalam puisi.

Hari ini, kawan baik saya, Syarif Wadja Bae, telah menolak seribu satu alasan untuk tidak menjadi penyair. Keputusan Syarif tentu saja tidak salah, meski belum tentu benar. Akan tetapi setelah membaca sekian tulisannya, kekhawatiran saya kiranya tidak beralasan. Syarif ternyata tidak main-main. Hal itu bisa kita lihat betapa dalam teks-teks yang diproduksinya, upaya serius untuk sampai kepada apa yang dinamakan sebagai ‘puisi’, terlihat dengan jelas.

Ada seribu satu alasan untuk tidak menjadi penyair. Untungnya, kitab suci bukanlah traktat buatan manusia yang seringkali menipulatif bahkan kadang semena-mena. Walaupun ia memberikan cap kepada penyair sebagai orang yang pergi ke lembah hayal dan mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan, ia juga memberikan pengecualian. Dan semoga pengecualian yang dikatakan sebagai ‘kecuali mereka yang percaya dan mengerjakan kebaikan’ itu, Syarif termasuk salah satunya.

Oleh: Fahmi Faqih
(Penulis adalah penyair, tinggal di Bandung)

SHARE
Comment