Ms Kaban: Pendemo Ahok Usahakan Berdzikir Kepada Allah Setiap Melangkah

Ms Kaban: Pendemo Ahok Usahakan Berdzikir Kepada Allah Setiap Melangkah

SHARE

Publik-News.com – Jika dihitung mulai berita ini dinaikkan, aksi unjuk rasa ratusan ribu umat Islam, pada Jumat 4 November 2016 besok, terkait penistaan agama yang diguna dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, masih tersisa kurang lebih 22 jam.

Ketua Majelis Syura DPP Partai Bulan Bintang (PBB), MS Kaban menyarankan agar para demonstran menjaga stamina dan kesehatan untuk menyampaikan aspirasinya kepada Presiden Jokowi dan Kapolri Jendral Tito Karnavian sebagai kepala negara dan pemerintahan.

“Semoga hati nurani yang paling dalam masih ada tersisa kepekaan Presiden Jokowi dan Kapolri atas tuntutan rakyat untuk mengadili siapapun menista agama,” tulis Kaban melalui akun twitter @hmskaban, Kamis (3/11/2016).

Menurut Kaban, umat Islam yang ikut unjuk rasa harus ikhlas dan berzikir kepada Allah SWT dengan harapan tuntutan mereka yang sampaikan kepada Presiden Jokowi dan Kapolri ditindaklanjuti.

“Saran untuk pendemo untuk penista agama Islam luruskan niat dengan Ridla Allah, usahakan tetap dalam berwudlu, berdzikir kepada Allah setiap melangkah,” tulisnya lagi.

Kaban juga menyinggung soal dipanggilnya tiga pimpinan ormas keagamaan ke Istana oleh Presiden Jokowi. Kendati demikian, kata Kaban, tidak ada pernyataan Presiden dalam pertemuan denga tiga pimpinan ormas keagamaan tersebut tidak menunjukkan adanya apresiasi Presiden Jokowi.

“Ulama dan pimpinan ormas islam serta tokoh ummat bertemu Presiden Jokowi meminta agar Ahok nista agama islam dihukum, artinya presiden perlu intervensi. Jawaban Presiden Jokowi tidak intervensi bermakna suara ulama suara tokoh dan pimpinan ormas tidak diapresiasi, mudah-mudahan tidak ada kata kecewa bagi para ulama,” katanya.

Padahal, Menurut Kaban, intervensi Presiden Jokowi dalam penegakan hukum sangat penting untuk menegakkan keadilan, persatuan Indonesia serta menjaga toleransi umat beragama.

“Harapan perlu intervensi Presiden RI untuk case nista agama karena Kapolri dan Bareskrim ragu dan ewuh pakewuh,” ucapnya.

Tak sampai di situ, Kaban juga mengomentari soal diusirnya Ahok oleh warga Rawa Belong. Menurutnya, tindakan warga Rawa Belong tersebut menunjukkan bahwa warga Jakarta sudah marah terhadap Ahok.

“Rakyat DKI mulai unjuk marah, usir Cagub DKI No 2, Ahok saat sosialisasi diri rakyat mulai dengan hukumnya sendiri ini preseden tidak sehat untuk demokrasi. Berjuta kecaman pendemo tertuju pada Presiden Jokowi dan Kapolri akan berubah jadi kagum jika penista agama ditahan, diperiksa dan diadili,” pungkasnya.

Selain itu, Kaban membandingkan kesigapan Presiden Jokowi, Panglima TNI dan Kapolri antara kemarahan rakyat dengan kebakaran hutan di Sumatera. Menurutnya, dalam mengatasi asap kebakaran hutan, pemarintah langsung sigap. Sementara, saat rakyat menuntut Ahok diproses secara hukum, Presiden, Panglima TNI dan Kapolri tak bisa melakukan intervensi.

“Begitu tegas Presiden Jokowi. Panglima TNI dan KapolriI mengintervensi ketika asap kebakaran lahan dan hutan dengan penegakan hukum, kenapa yang nista agama ??? Apakah bahaya kebakaran hutan dan lahan lebih serius dari pada api amarah ummat islam terhadap penista agama. Asap gak pilih Presiden Jokowi lho,” demikian cuitan Kaban yang juga mantan Menteri Kehutanan ini.
(Taufik)

Comment