Home Opini Nasionalisme Korsel dan Kebangkitan Ekonominya

Nasionalisme Korsel dan Kebangkitan Ekonominya

Korea Selatan hanya beda dua hari kemerdekaannya dengan kita, 15 Agustus 1945, suatu waktu ketika Jepang sedang porak poranda akibat Bom Hiroshima Nagasaki yang membuat Jepang harus bertekuk lutut dan menyerah pada sekutu di perang dunia II. Melemahnya pengaruh Jepang dimanfaatkan dengan baik oleh negara Jajahan untuk memproklamasikan kemerdekaannya, seperti Korea Selatan dan Indonesia.

Awal kemerdekaan, Korea Selatan jauh lebih buruk kondisinya dari Indonesia. Mereka disibukkan dengan perang saudara Korea Utara yang didukung Soviet dan Korea Selatan yang didukung Amerika Serikat. Jutaan warga meninggal dan situasinya sangat memprihatinkan. Sebuah negara yang menyedihkan.

Tapi sekarang, Korea Selatan tampil sebagai salah satu kekuatan ekonomi politik dunia. Korea Selatan menduduki peringkat 15 dunia dan nomor 4 di Asia urutan PDB nya setelah China, Jepang dan India. Sebuah pencapaian yang luar biasa dari sebuh negara miskin yang porak poranda oleh perang saudara secara cepat dan mencengangkan, meninggalkan Indonesia Indonesia yang sempat lebih sejahtera dari Korea Selatan.

Chaebol (konglimerasi) Korea Selatan kini bermunculan dan semakin memperbesar market share nya, menujukkan kecanggihan, kreatifitas dan inovasi tiada henti. Itu yang membuat Samsung, LG, KIA, Hyundai, Lotte Mart dan banyak lagi Perusahaan Raksasa Korea yang menjadi simbol dunia dan kebanggan mereka.

Apa kunci keberhasilan Korea Selatan? Ada banyak tokoh yang menjelaskan tentang keberhasilan strategi pembangunan Korea Selatan, World Bank menjulukinya sebagai Asian Tiger yang memanfaatkan startegi developmentalisme dalam pengembangan Korsel, Irma Adelman menjelaskan tentang kenerhasilan strategi pembangunan melalui pemerataan, Joseph Stighlitz menjelaskan tentang kombinasi apik antara negara dan pasar, Amartyasen menjelaskan keberhasilan strategi Investasi pada manusianya.

Yang terbaru, Acemoglu yang menjelaskan perbedaan antara institusi Korea Utara yang ekstraktif dan menghasilkan kemiskinan dan institusi Korea Selaran yang lebih inklusif dan menghasilkan kesejahteraan dan banyak lagi ahli ekonomi pembangunan lain yang menjelaskan sebab kebangkitam Korea Selatan.

Sampai ahli politik juga menjelaskan hubungan antara demokrasi dan pertumbuhan yang menghasilkan stabilitas sebagai landasan bergeraknya ekonomi Korea Selatan. Begitulah kehidupan manusia dan sistem sosialnya, tidak ada aebab tunggal, ada begitu banyak sebab yang berkait kelindan dan saling mempengaruhi menghasilan kenyataan, sebab-sebab yang kompleks yang menghasikkan Korea Selatan hari ini yang besar dan membanggakan, berlari cepat dari Korea tahun 1960 an yang miskin dan perang saudara.

Dari sekian banyak faktor penting, saya hanya ingin mengangkat sedikit tentang Nasionalisme Bangsa Korea Selatan. Bukan satu2nya faktor tapi menurut saya penting untuk diulas untuk memberi sedikit perspektif yang agak berbeda. Nasionalisme bangsa Korea yang menyebabkan mereka bangkit dari keterpurukan dan besar seperti sekarang ini dan akan semakin membesar seiring menyebarnya perusahaan besar mereka ke pasar dunia dan utamanya demam Korean Pop (K-Pop) dikalangan anak muda saat ini.

Nasionalisme kalau menurut Benedict Anderson adalah imagined community, perasaan sebangsa lahir dari imajjnasi kokektif, Ernest Renan menyebutkan dua penyebab lahirnya nasionalisme, kesamaan nasib dan kesamaan visi masa depan. Bangsa Korea merasa diri mereka satu dan punya sejarah panjang, terentang jauh bahkan sebelum Masehi.

Dua ribu tahun sebelum masehi, Korea sudah terbentuk dengan terbentuknya Joseon. Yang kemudian berkembang seiring sejarah dan dinamika internalnya diringi sejarah permusuhan dan kompetisi 3 daratan besar saat itu yaitu China, Jepang dan Korea. Korea kadang menjadi satu kerjaan besar dan kadang menjadi serpihan kerajaan kecil akibat disintegrasi internal.

Begitupun hubungan ketiga daratan besar tersebut, China, Jepang dan Korea, Hanya di Seoul kota terbesar di dunia tidak ada kawan pecinannya (China Town) karena perang panjang China dan Korea Selatan. Hubungan panas ketiga daratan tersebutlah yang kemudian mendorong perasaan senasib sepenanggungan mendorong lahirnya nasionalisme Korea.

Dua ribu tahun sebelum masehi, Korea sudah terbentuk dengan terbentuknya Joseon. Yang kemudian berkembang seiring sejarah dan dinamika internalnya diringi sejarah permusuhan dan kompetisi 3 daratan besar saat itu yaitu China, Jepang dan Korea. Korea kadang menjadi satu kerjaan besar dan kadang menjadi serpihan kerajaan kecil akibat disintegrasi internal.

Begitupun hubungan ketiga daratan besar tersebut, China, Jepang dan Korea, Hanya di Seoul kota terbesar di dunia tidak ada pecinannya karena diusir oleh warga Korea. Hubungan panas ketiga daratan tersebutlah yang kemudian mendorong perasaan senasib sepenanggungan mendorong lahirnya nasionalisme Korea.

Nasionalisme Korea sebagai satu keluarga besar Korea yang terentang dari Utara sampai Selatan yang memiliki kesamaan tujuan terhindar dari ancaman dan invasi tetangganya. Walaupun Korea Utara dan Korea Selatan dianggap berseteru, tapi dibalik perseteruan tersebut ada rindu yang sangat dalam. Yang dibenci oleh warga Korea Selatan bukanlah warga Korea Utara, tapi pemerintah Korea Utara yang dianggap memanipulasi warganya.

Makanya reuni keluarga antara Korea Selatan dan Korea Utara selalu ramai, reuni keluarga yang terpisah akibat perang, tempat mereka berkeluh kesah mengungkapkan cinta, rindu dan derita. Lagu Arirang populer bukan hanya di Korea Selatan tapi di seluruh semenanjung Korea termasuk Korea Utara, lagu tentang perpisahan, cinta dan kerinduan.

Nasionalisme Korea semakin kuat akibat penjajahan Jepang selama 36 Tahun, dari 1910-1945. Mereka memiliki nasionalisme yang tinggi disebabkan dendam yang membuncah pada Jepang akibat penjajahan selama 36 tahun yang menyisahkan pedih berkelanjangan.

Nasionalisme ini yang mereka pupuk di Korea Selatan, melalui cerita turun temurun di keluarga, di lembaga pendidikan bahkan sampai ke dunia hiburan. Sebelum pemutaran film di Bioskop Korea Selatan, dimulai dengan film dokumenter sejarah penjajahan Jepang. Mereka menjadikan ancaman eksternal dalam hal ini Jepang sebagai pengikat Nasionalismenya. Mereka ingin mengalahkan Jepang secara kreatif dan cerdas, China mereka anggap bukan ancaman karena secara tekhnologi mereka lebih canggih.

Nasionalisme juga dipupuk melalui semangat bela negara di Korea Selatan. Seluruh pria di Korea Selatan usia 23 tahun wajib untuk ikut latihan militer selama dua tahun lebih. Latihan fisik sekaligus pemompa nasionalisme Korea dengan semboyan Hongik Ingan bermanfaat bagi semua.

Cinta pada bangsa sekaligus dendam pada Jepang serta ancaman dari Korea Utara menghasilkan perpaduan yang sangat unik dalam ramuan Nasionalisme Korea Selatan. Sangat jarang warga Korea yang memakai HP selain samsung sekarang, perangkat elektronik selain Samsung dan LG, kendaraan selain KIA dan Hyundai, dan berbelanja di Lotte Mart. Mereka sangat bangga dengan produknya yang membuat banyak cerita lucu tentang kecintaan yang diplesetkan sebagai kegilaan warga Korea terhadap produk Korea.

Nasionalisme yang ditumbuhkan dan difasilitasi dengan baik oleh negara sehingga menghasilkan “demam Korea” saat ini. Dulu teknologi dikuasai oleh Sony dan produk Jepang lainnya tapi sekarang Samsung rajanya, dulu kendaraan bermotor dikuasai oleh Toyota, Suzuki dan perusahaan Jepang lainnya tapi sekarang dominasi tersebut pelan2 digerus dengan kehadiran KIA dan Hyundai.

Korea tumbuh dari kemampuannya memanfaatkan Nasionalisme warganya dalam berproduksi dan berkonsumsi yang diringi dengan efisiensi juga. Dan dari dalam negeri mereka keluar sekarang, menyerbu pasar dunia. Salah satu ekspor terbesar dari Korea adalah Korean Pop yang menjadi demam seluruh dunia, trend anak muda Korea yang menjadi acuan pergaulan anak mida dunia saat ini. Penyanyi Korea, Film Korea, Fashion dan Kosmetik Korea menjadi Trend pergaulan saat ini. Dan sampailah kita pada Korea Selatan yang besar hari ini.

Dari kemiskinan yang melanda sebelumnya menjadi salah satu pusat kekuatan ekonomi dunia saat ini. Keberhasilan mengelola nasionalisme dengan baik yang kemudian menjadi landasan bagi seluruh warga korea untuk mengembangkan dirinya dan berjuang bagi bangsanya mengejar ketertinggalan, melawan bangsa lain secara cerdas dan kreatif. Bagaimana Indonesia?

Oleh : Eka Sastra
Di kereta dari Seoul ke Busan,
9 September 2016

Comment