Home Opini Nawacita dan Revolusi Mental Versi GNPF MUI

Nawacita dan Revolusi Mental Versi GNPF MUI

Istilah Revolusi Mental selama ini dipopulerkan oleh Presiden Jokowi. Menjadi inti dari spirit Nawacita yang merupakan kumpulan rumusan visi-misi pemerintahan Jokowi-JK yang telah digulirkan semenjak proses pemilihan Presiden/Wakil Presiden periode 2014-2019. Dengan segala hormat kepada jerih payah yang telah dilakukan selama kurun waktu dua tahun berjalan, nampaknya revolusi mental itu tidak banyak memberi arti bagi perubahan sikap dan prilaku dalam berkehidupan kebangsaan. Alih-alih nampak terbaca bahwa kritik yang disampaikan publik terhadap situasi sosial politik, maupun ekonomi makin substantib. Demikian halnya dalam hal penegakan hukum, terutama dalam agenda pemberantasan korupsi.

Pasca aksi 212 yang kemudian disusul dengan aksi 1212 berupa gerakan sholat subuh berjamaah, istilah revolusi mental kembali muncul. Kali ini tidak disampaikan oleh pemerintah, tapi oleh Uts Bahtiar Nasir yang belakangan muncul sebagai salah sosok figur sentral karena posisinya sebagai Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia. (GNPF-MUI). Dilansir oleh Republika, Bahtiar Nasir menyebut aksi umat Islam pasca 212 yang dikenal sebagai aksi belas Islam III adalah revolusi. Terminology revolusi ini disampaikan saat menghadiri pengajian di Masjid Pindok Indah Jakarta Selatan.

Istilah revolusi versi GNPF-MUI ini disampaikan juga oleh Pembina GNPF MUI Habib Rizieq Syihab dalam sejumlah kesempatan.

Revolusi Mental dikemukan oleh Bahtiar Nasir menjawab fenomena besarnya respons masyarakat mengikuti himbauan dan ajakan untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah sebagai momentum memperingati Maulid Rasulullah SAW.

Islam dan Revolusi

Apakah Islam mengenal ajaran tentang revolusi ? Masalah ini sesungguhnya debatable. Dalam banyak hal, Islam yang berarti damai itu, justru menganjurkan umat Islam menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dengan cara-cara yang baik (khasanah), dilakukan dengan penuh hikmah kebijaksanaan. Bukan dengan cara yang buruk apalagi disertai dengan pertumpahan darah seperti yang kita sering saksikan dalam sejarah perebutan kekuasaan. Karena itu istilah revolusi Islam nampaknya tidak bisa disamakan dengan revolusi sosial Prancis atau Arab Spring, misalnya.

Meski demikian, perubahan dengan cara evolutif, bi al hasanah dan bi al hikmah bukan berarti harus berlama-lama. Atau dengan kata lain tidak menutup kemungkinan bahwa prosesnya bisa dipercepat sehingga bisa dikategorikan revolusioner. Kedua, perubahan yang diinginkan Islam adalah perubahan dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik lagi.

Dari kedua dimensi revolusi itu, islam senantiasa menjadikan tauhid sebagai kekuatan utama dalam melakukan revolusi. Itulah kenapa kita sering membaca karya tulis yang menyebut Tauhid sebagai doktrin kemerdekaan atau teologi pembebasan. Bertumpuh kepada tauhid membuat gerakan Islam menjadi massif, karena tidak dibatasi oleh perbedaan perbedaan mazhab atau terkendala oleh masalah furuqiyah. Seluruh mazhab dalam Islam bertemu dalam suatu titik simpul ini. Tauhid karena itu sering juga disebut sebagai al kalimah al zamha, atau kalimat pemersatu.

Tauhid Pembebasan dan Gerakan Sholat Subuh Berjamaah.

Bagi ummat Islam, shalat subuh memiliki sejumlah keutamaan. Shalat subuh yang dilaksanakan saat fajar akan menyingsing itu diyakini sebagai pembuka pintu rezeki. Karena itu Rasulullah Muhammad SAW senantiasa membangunkan seluruh isi keluarganya agar bangun mengerjakan sholat subuh. Bahkan Rasulullah tanpa sungkan membalikkan putrinya dan mengatakan. Bangunlah, saksikan rezeki dari Rabbmu, Allah SWT membagikan rezeki ke semua hamba-Nya antara subuh dan terbitnya matahari.

Kedua, umat Islam meyakini bahwa dengan menegakkan shalat subuh tepat waktu Allah akan menjaganya dari segala gangguan hingga masuknya waktu dhuhur.
Dengan begitu ada suatu energi besar dalam diri umat Islam bahwa Allah senantiasa melindunginya. Semangat seperti itu amat penting dalam menjaga stamina serta membangkitkan keberanian dalam menegakkan amar ma,ruf nahy mungkar.
Ketiha, shalat subuh menjadi salah satu variable pembeda antara orang beriman dengan orang-orang munafiq. Shalat yang paling berat bagi orang munafiq adalah sholat isya dan sholat subuh. Seandainya mereka mengetahui begitu besar pahalanya, mereka akan mengerjakan atau menghadiri meskipun merangkak.

Keempat, Shalat subuh mendatangkan nikmat paling besar yaitu nikmat melihat wajah Allah di Surga nanti.
Rasulullah SAW bersabda jika penghuni surga telah memasuki surge, kemudian Allah berfirman. Apakah kalian ingin aku beri tambahan, mereka menjawab, bukankah engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, bukankah engkau telah masukkan kami kedalam surga dan engkau selamatkan kami dari neraka.

Kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya. Kemudian dibukalah tabit, maka tidak ada lagi nikmat yang sangat besar daripada nikmat bisa melihat langsung Rabb mereka (Allah SWT). Inilah nikmat yang paling besar yang dirasakan manusia di Surga.

Mengingat arti penting dari Sholat subuh itu, dapat dimengerti jika upaya menggalakkan sholat subuh secara berjamaah adalah bagian dari revolusi mental umat yang tidak bisa disepelekan.

Agenda Revolusi

Menumbuhkan kesadaran revolusioner umat Islam untuk melakukan gerakan bersama dalam rangka amar ma, ruf nahy mungkar tidak bisa tidak untuk memperhatikan pentingnya sebuah agenda atau beberapa agenda yang ingin dijadikan sebagai target gerakan. Merupakan keniscayaan bagi GNPF MUI untuk merumuskan agenda tersebut. Upaya mendesakkan tegaknya keadilan dalam spektrum yang luas meliputi seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara tentu saja memerlukan pemikiran, konsep yang baik. Oleh sebab itu silaturrahmi para pimpinan Gerakan dengan komponen umat Islam mesti lebih diintesifkan.

Tuntutan keadilan ekonomi menurut hemat penulis, sangat substantif dan penting untuk menjadi salah satu agenda. Keadilan distributif ini tidak hanya penting untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. Namun juga merupakan ananat Pancasila yang menghendaki keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian keadilan distributif itu akan memperkuat NKRI dalam jangka waktu yang panjang. Tentu saja pemberantasan korupsi, sebagai agenda dalam menegakkan keadilan hukum juga tidak kalah pentingnya.

Sekalipun revolusi sering dikaitkan dengan pergantian rezim pemerintahan dalam suatu negara, penulis menilai agenda itu tidak mendesak. Tentu saja, pemerintah harus mampu merespons dengan baik, memberikan treatment yang tepat, bahkan menyambut baik gerakan revolusi mental yang digelorakan umat Islam. Toh itu sesugguhnya sejalan dengan revolusi mental yang termaktub dalam nawacita. Mestibya bisa sinergi seperti yang sering disampaikan Presiden Jokowi. Wallahu a,lam bi al-shawab.

Oleh: Hasanuddin
(Penulis adalah Penggiat di The Wisdom Institute)

Comment