Noer Fajrieansyah Kritik “Generasi Milenial” Yang Berlindung di Ketiak Organiasi

Noer Fajrieansyah Kritik “Generasi Milenial” Yang Berlindung di Ketiak Organiasi

SHARE

Publik-News.com – Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2010-2012 Noer Fajriensyah menjadi pembicara diskusi bertajuk “Startup Politik: Membaca Arah Baru Generasi Politik Milenial”. Dihadapan peserta diskusi, Fajrie mengkritik adanya pihak-pihak yang usianya sebenarnya tidak masuk katagori milenial tapi mereka berlindung di ketiak organisasi yang oreintasinya hanya untuk meminta bantuan dana kepada pemerintah.

“Ini tentu menjadi perhatian dan bahan introspeksi kita bersama. Ada memang minoritas kelompok muda yang dari segi usia sudah tidak muda lagi, tapi terjebak pada zona nyaman aktivisme, sehingga kesulitan untuk move on dan kerap berlindung di bawah nama besar organisasi,” ujar Fajrie.

Fajri mengaku kecewa kepada pihak-pihak yang usianya tidak masuk katagori milenial tapi tetap mengaku masih muda tersebut. Menurut Fajri, jika hal ini terus terjadi dan mereka tidak mau move on maka yang terancam adalah generasi milenial yang sesungguhnya.

“Bagi saya, ini justru berbahaya bagi regenerasi dan pembangunan kepemudaan negara ini. Karena selain tidak relevan lagi, justru cenderung mematikan kesempatan generasi yang lebih muda untuk terlibat berpartisipasi dalam lembaga kepemudaan,” ujar Fajri.

Dalam kesempatan itu, Fajrie yang juga Direksi PT. POS Indonesia menambahkan bahwa potret kepemudaan di era milenial menjadi pertanyaan penting yang wajib didiskusikan pada momentum Sumpah Pemuda kali ini. Terlebih, jika hal itu dikorelasikan dengan peluang bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia di tahun 2035-2045, maka generasi milenial Indonesia hari ini memainkan peran yang sangat strategis. Disebutkan, karakteristik generasi milenial, yang berbeda dengan corak generasi sebelumnya, menyimpan potensi yang sangat besar

“Generasi milenial memiliki karakteristik khusus, rata-rata memilik prestasi yang baik di dunia akademis, profesional, dan punya passion besar untuk terlibat pada dunia bisnis dan inovasi. Menariknya, hal itu terbangun dengan umur relatif masih muda. Banyak di antaranya bergelar S3 atau sedang menempuh jenjang doktor di usia 23-27 tahun. Kelebihannya, language skill mereka di atas rata-rata, menguasai bahasa asing dengan sangat baik, sehingga memudahkan mereka membangun relasi dan jejaring internasional,” tukas Fajrie.

Menurut dia, generasi milenial tidak punya rekam jejak panjang di beragam organisasi kemahasiswaaan. Untuk menutupi itu, mereka mengakselerasi lewat pengalaman di dunia profesional. Fajri menjelaskan, dunia kampus bagi generasi milenial adalah wadah penempaan profesionalitas. Karena itu, mereka memaksimalkan dengan baik bangku kuliah untuk pengembangan akademik dan inovasi bisnis.

“Coba lihat meledaknya fenomena bisnis online hari ini. Mayoritas dikuasai oleh anak muda yang berusia 19-30 tahun dengan omzet berkisar Rp50 juta sampai Rp1 miliar. Mereka bahkan saat ini menjadi pelaku bisnis produk tekstil, kerajinan tangan, pakaian, dll. Jika potensi ini dimaksimalkan, bisa berkontribusi sangat besar bagi perekonomian bangsa,” terang Fajri.

Di samping itu, Fajri menambahkan, pelaku bisnis dari generasi milenial hari ini datang dari beragam latar belakang.

“Mereka itu ada yang mulai dari nol dengan modal sendiri, ada pula yang menjadi pelaku bisnis karena lahir dan besar dalam lingkungan keluarga pengusaha. Tapi menurut saya itu soal lain, yang terpenting adalah semangat inovasi generasi milenial ini, terlepas dari mana ia berasal, menjadi hal yang patut digarisbawahi dan diapresiasi,” katanya. (HR/PN)

 

SHARE
Comment