Paras Perempuan dan Wajah Tuhan

Paras Perempuan dan Wajah Tuhan

SHARE

Oleh Mohd. Sabri AR

 

Saat misterium menjalar dalam senyap, selalu ada yang tekun menanti isyarat: Ibn ‘Arabi. Ia yang terjaga di dua pertiga malam, merengkuh cahaya dan mewartakan visi transenden: jejak, lalu tanda, kemudian Tuhan yang tak terjaring makna, Hadir, menanam kode dalam kancah yang nihil: Dia Yang Maha Bukan. Dalam perjumpaan yang sekejap dengan aksara batin dari langit, corpus dei, percakapan tentang Tuhan barangkali memang hanya idea yang terlontar dari kesunyian mutlak, yang tak tunai dalam kalam.

Tapi dari pojok abad ke-7 Hijriyah yang beku, gurun adalah rongga yang asing, menjelma sebilah kesaksian atas simpul kalam teosof genial Ibn ‘Arabi: “Penampakan Tuhan paling sempurna terjadi pada diri perempuan.” Sebuah dentuman yang mengguncang, di tengah kuatnya arus otoritarianisme religius kaum laki-laki. Inilah titik silang diagonal dari doktrin Ibn ‘Arabi tentang Tuhan: tanzih (theologia negativa) dan tasybih (theologia positiva). Pernyataan Ibn ‘Arabi dalam Fushûsh al-Hikâm tersebut, lebih merupakan aksara yang menghentak sembari meneguhkan satu hal: tajalli, sebuah doktrin ‘irfani tentang citra dan “manifestasi” Tuhan. Ibn ‘Arabi mendaku, wujud hanya dinisbatkan kepada Al-Haqq. Selain Al-Haqq, dimaknai sebagai tajalli  atau manifestasi Al-Haqq.

Mungkin memang musti begitu, selalu ada yang tak selesai dalam sejarah: ajaran yang pernah soliter jadi beku. Dan yang liar harus ditaklukkan dalam tertib. Religiusitas “maskulin” lalu menjadi paradigma dominan pada cakrawala Islam Abad Tengah. Mungkin, karena pembacaan yang landai dan nafas teratur terhadap identifikasi Tuhan sebagai “Dia maskulin”, menyebabkan laki-laki merebut hak “istimewa” dari pada perempuan: laki-laki mendapatkan hak waris lebih  besar dua kali lipat; laki-laki berhak menjadi imam shalat, sementara perempuan tidak; suara perempuan dianggap aurat; dan seterusnya. Dalam hal kebertubuhan, perempuan juga mengalami “stereotip” yang mengenaskan: hukum agama menerapkan tak sedikit aturan yang cenderung meletakkan tubuh perempuan  sebagai sesuatu yang kotor dan najis, berbeda dengan tubuh laki-laki yang mudah suci, dan karenanya lebih “terhormat”.

Ada kecemasan tertentu pada agama sehingga perempuan harus dilindungi dan disucikan demikian rupa  agar ia setara dengan laki-laki. Dalam hukum agama, akar semua kelemahan perempuan agaknya terletak pada tubuhnya yang potensial menjurus pada dosa. Tubuh perempuan dianggap berbahaya karena dapat mendorong laki-laki untuk melakukan perbuatan terlarang. Godaan perbuatan tak senonoh, tidak terbit dari imajinasi laki-laki, tapi tubuh perempuan yang sensual. Fiqh menjadi lembaga yang jumawa dan cerewet, menjadi struktur religiusitas yang membatu. Dan dalam struktur kita mafhum, selalu ada yang sibuk berlindung di balik selubung: tendensi otorita.

Di sini, tradisi ‘irfani Islam membentangkan gagas alternatif lalu mengembuskan tanya radikal: Benarkah perempuan itu makhluk sekunder? Apa akar ontologis dari perbedaan gender? Apakah Tuhan itu maskulin atau feminin, keduanya sekaligus, atau bukan kedua-duanya? Memang, dalam literasi Al-Qur’an, Tuhan selalu dirujuk  dengan “Dia maskulin” seperti Yang Mahaperkasa (al-Qahhar), Yang Mahaagung (Akbar), dan Yang Mahagagah (al-‘Azis). Kaum ‘irfani seperti Ibn ‘Arabi menyadari jebakan maskulinitas itu.

Dalam Futuhât al-Makkiyah Ibn ‘Arabi mendaku, perempuan memiliki kedudukan yang setara, dan bahkan dalam derajat spiritual tertentu, mengungguli laki-laki. Ia lebih jauh menafsirkan secara spiritual kata mar’ah yang berarti “perempuan”. Menurutnya, jika laki-laki  disebut dalam Al-Qur’an mar’ dan perempuan mar’ah (dengan tambahan huruf ha’), itu dilakukan Tuhan bukannya tanpa hikmah. Imbuhan ha’  pada kata mar’ah melambangkan satu tingkat kesempurnaan yang ditambahkan Tuhan kepada perempuan. Uniknya, ha’ itu bersifat aktif dan pasif sekaligus, karena ketika dibaca ia menjadi “penyambung” bagi kalimat sesudahnya. Tetapi ha’ juga bersifat pasif, karena menandai saat-saat ketika pembaca berhenti dan mengakhiri bacaannya pada titik itu. Dengan kata lain, ha’  adalah Kehidupan dan Kematian sekaligus, yang menyambung harapan kepada apa yang akan datang, tapi juga berakhir dan mengakhiri dirinya dalam ketiadaan dan kekosongan.

Dalam permenungan mistiknya, Ibn ‘Arabi melihat jika citra “Tuhan maskulin” berakar demikian kuat dalam jantung kesadaran agama monoteis, hingga mengaburkan kenyataan sesungguhnya, bahwa Tuhan pun “mengandung” anasir feminin. Memang, nama Tuhan tertinggi adalah Allah yang bersifat maskulin, tapi dalam level lain Allah juga disebut dengan nama feminin al-Dzat, yang mengandaikan esensi Tuhan yang tak terjangkau dan tak tercakapkan. Tapi uniknya, ketakterjangkauan Tuhan dan kemustahilannya untuk “dinamai”, justru dirujuk dengan nama feminin yang sangat dekat dengan degup jantung manusia: Yang  Mahalembut (al-Lathîf), Yang Mahakasih (al-Rahmân), Yang Mahasayang (al-Rahîm) adalah episentrum dan nafas feminitas Tuhan, yang merengkuh segenap keluh, derita, luka, dan rindu manusia dalam “ketercelupan ontologi” yang sempurna, dalam dekapanNya yang sublim.

Comment