Parasian Sebut Delapan Negara Yang Tak Terpaku Agama dalam Menentukan Calon Pemimpinnya

Parasian Sebut Delapan Negara Yang Tak Terpaku Agama dalam Menentukan Calon Pemimpinnya

SHARE

Publik-News.com – Ketua Umum DPN Gepenta, Brigjen Polisi (Purn) Parasian Simanungkalit menyangkan adanya pihak-pihak yang masih memberlakukan adanya perbadaan agama dalam menentukan kepemimpinan di Indonesia.

“Di Negara Indonesia berdasar Pancasila, masih terpaku kepada perbedaan agama untuk menjadi Pemimpin yang dikaitkan dengan Al-maida ayat 51,” ujar Parasian, Rabu (12/10/2016).

Menurut Parasian, di sejumlah negara, baik nagara Islam dan Kriten, kepemimpinan tidak terpaku pada pebedaan agama. Masyarakat memilih pemimpin di negara-negara tersebut berdasarkkan prestasi.

“Di Negara lain tidak dipersoalkan lagi perbedaan agama itu tetapi memilih Pemimpin yang dapat menciptakan rakyatnya aman, damai, makmur dan sejahtera,” sebutnya.

Berikut beberapa negara yang disebut Parasian yang penduduknya tidak terpaku pada perbadaan agama dalam menentukan pemimpinnya.

Pertama, di Turki penduduk mayoritas Islam 96.5 persen. Di Kota Mardin seorang perempuan Kristen terpilih sebagai Wakil walikota. Tidak diteriaki kafir. Kinerjanya bagus rakyat senang.

Kedua, di Bahrain Alice Samaan seorang Kristen terpilih sebagai Ketua Majelis Tinggi Parlemen Bahrain yang penduduknya 70 persen Muslim.

Ketiga, di Pakistan dipilih Menteri Pelabuhan dan Pengiriman seorang beragama Kristen Kamran Michael. Pakistan 96,4 persen beragama Islam.

Keempat, Bhoutros bhoutros Ghali seorang Kristen diangkat menjadi Menteri Luar Negeri Mesir, yang kemudian Sekjen PBB, pada tahun 1992-1996.

Kelima, di Senegal berpenduduk 92 persen Muslim memilih Presidennya “Leopold Sedar” selama 20 tahun jadi Presiden terpilih terus.

Keenam, di Lebanon yang penduduknya Muslim 54 persen memilih Presidennya “Micel Suleiman” beragama Kristen tahun 2008-2014.

Ketujuh, di Palestina Walikota Ramallah memilih walikotanya “Janet Mikhail” seorang Katholik.

Kedelapan, di Inggris yang mayoritas Katholik dan Kristen memilih Sadiq Khan beragama Muslim menjadi Walikota London.

Kesembilan, di Indonesia Gubernur Dki Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) agama Kristen dan Wakilnya Djarot Syaiful Hidayat beragama Muslim.

“Mau memasuki Pilkada sepertinya kita bukan Negara berdasar Pancasila, mengapa harus melihat Al-Maida ayat 51,” kata Parasian mengutip pernyataan Nusron Wahid.

“Sedangkan Negara berdasar Islam atau yang mayoritas penduduknya Muslim di jazirah Arab tidak mempersoalkan,” katanya lagi.

Terakhir, Parasian mengajak semua elemen masyarakat bersatu menciptakan negara ini menjadi aman, nyaman, harmonis dan tidak anarkis. Dengan demikian, kemakmuran dan kesejahteraan akan dapat dirasakan oleh semua masyarakat.

“Hindari pertikaian dan perpecahan untuk tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Jayalah Indonesia,” tutup Parasian.
(Fikri)

Comment