Pasar Tradisional Dalam Budaya Kekeluargaan Kita

Pasar Tradisional Dalam Budaya Kekeluargaan Kita

SHARE

Perlawanan oleh pasar tradisional dari pencaplokan pasar modern memang harus mendapat dukungan dari warga masyatakat. Kesadaran perlunya perlawanan dapat dipahami sebagai eujud solidaritas, gotong royong atau implementasi dari rasa nasionalisme dalam wujud keberpihakan pada sesama warga masyarakat yang patut mendapat perlindungan oleh negara atau pemerintah. Apalagi beragam bentuk usaha pasar modern itu dominan pemiliknya adalah bangsa asing.

Kalau pun pemilik usaha pasar modern itu adalah warga bangsa Indonesia sendiri — lantaran sifat dan sikapnya sudah seperti predator — tetap tidak layak dibiarkan hidup ditengah warga masyarakat miskin yang semakin tidak berdaya, karena peluang usaha sekecil itu pun juga dicaplok oleh mereka yang berduit.

Dalam kaitan kewajiban pemerinrah inilah perlindungan yang sepatutnya diberikan semakin meyakinkan bahwa ketidak adilan telah diabaikan. Dan pemerintah abai pada hak rakyat, apalagi hendak diharap keberpihakan pemerintah pada wong cilik.

Pasar rakyat perlu dilindungi, karena rakyat telah memenuhi kewajiban, termasuk membayar pajak. Kecuali itu, amanat UUD 1945 pun cukup tegas menyatakan bahwa keinginan luhur dari proklamasi bangsa Indonesia adalah agar segenap warga bangsa dapat menikmati kesejahteraan yang berkeadilan dalam pengertian lahir maupun bathin.

Pasar eceran modern telah membunuh rinuan pasar tradisional serta warung tetangga kita yang selama ini telah menjadi bagian dari benteng ketahanan ekonomi keluarga dari beragam himpitan, termasuk tetangga sebelah kita yang lain sebagai penikmat jasa, atau konsumen. Karena dengan adanya pasar tradisional serta warung tetangga, sistem penggunaan jasa masih mungkin memberi peluang terbangunnya budaya kekeluargaan. Sebab di pasar tradisional dan warung tetangga tidak semata-mata berlangsung transaksi bisnis, tetapi juga transaksi budaya, kekeluargaan.

Bukan rahasia umum, misalnya dalam kondisi darurat — bulan tua — tetangga sebelah yang lain, atau bahkan kita sendiri bisa minta gula dan kopi secukupnya, karena mendadak stock di dapur habis, sementara tamu atau kerabat kita yang datang perlu disuguhi hidangan kopi. Begitu juga dengan keperluan mendesak rumah tangga kita yang lain.

Atas dasar kesadaran serupa inilah, agak sulit dipahami bila keinginan untuk mempertahankan keberadaan pasar tradisional maupun eksistensi dari warung tetangga ini tidak bisa kita lakukan. Karena masalahnya mau atau tidak kita ikut berbelanja di pasar tradisional atau di warung tetangga disebelah rumah kita. Apalagi diantara mereka yang berjualan itu adalah kerabat dekat atau keluarga serta kawan dan kenalan kita sendiri.

Oleh: Jacob Ereste
(Penulis adalah Pegiat Atlantika Institut Nusantara)

SHARE
Comment