Pembaca Sastra di Indonesia Hanya 6 Persen

Pembaca Sastra di Indonesia Hanya 6 Persen

SHARE

Cukup terpaku saya membaca hasil survei opini publik Lingkaran Survei Indonesia, November 2017. Pembaca sastra di Indonesia hanya 6 persen. Ketika ditanya lebih detail, apakah saudara/saudari ingat judul atau penulis/penyair karya sastra yang dibaca di tahun ini? Yang menjawab ingat hanya separuhnya.

Dengan kata lain, pembaca sastra di Indonesia, yang masih ingat judul karya yang dibacanya (prosa, puisi, drama), dan ingat nama penulisnya, hanya 3 persen saja.

Jumlah ini jauh lebih sedikit dengan pembaca sastra di Amerika Serikat. National Endowment setiap tahun membuat riset dengan pertanyaan yang sama. Saudara-saudari apakah di tahun ini anda setidaknya membaca satu buku sastra (puisi, prosa, drama)?

Di tahun 2015, yang menjawab membaca sastra sekitar 43 persen. Jumlah ini menurun dibandingkan sekitar 30 tahun sebelumnya, di tahun 1982, sebanyak 57 persen.

LSI mengulangi riset model National Endowment ini. LSI melakukan riset dengan metodelogi yang sama dan pertanyaan yang sama di tahun 2017. Bedanya populasi yang diriset adalah keseluruhan penduduk Indonesia, dari Aceh hingga Papua, di 34 propinsi.

Metode dan kualitas sama digunakan LSI dalam riset ini, yang berhasil memprediksi SBY menang satu putaran di tahun 2009. Dan SbY akan mengalahkan Megawati di tahun 2004. Dan Jokowi akan kalahkan Prabowo di tahun 2014.

Akurasi survei LSI dengan metode it sudah teruji. Ini mungkin riset pertama yang menggunakan metode survei opini publik untuk mengetahui pembaca sastra di seluruh 34 propinsi Indonesia.

Pertanyaannya: benarkah dalam populasi Indonesia, yang berminat dengan kisah fiksi yang selama ini dikategorikan dalam sastra hanya 6 persen? Ataukah definisi sastra itu sendiri harus diperluas karena zaman sudah berubah?

Tulisan ini yang berdasarkan riset justru ajakan ke arah sana. Definisi sastra itu yang harus diubah, mengikuti zaman yang sudah berubah.

***

Saya mencoba melacak perdebatan akademik dan intelektual seputar definisi sastra dalam sejarah dunia. Sampailah saya pada buku yang ditulis Jim Meyer di tahun 1997: What is Literature? A Definition Based on Prototype.

Ujarnya begitu banyak definisi sastra sudah dilakukan dalam sejarah. Yang pasti definisi itu sangat relatif dan berubah-ubah sesuai dengan zamannya.

Saya pun sampai pada buku yang ditulis oleh Terry Eagleton; Literary Theory: an Introduction, 1983. Ia juga menyimpulkan, setelah mempelajari discourse soal definisi sastra sepanjang sejarah.

Ujarnya, ketika kita memberikan variabel “value judgement” kepada sebuah karya: bahwa yang termasuk sastra itu hanyalah yang punya kualitas seni yang tinggi, maka tak ada standard yang pasti. Segala hal bisa termasuk sastra. Dan segala hal yang selama ini dinilai sebagai sastra bisa dianggap bukan sastra.

Definisi mainstream soal sastra selama ini, sebagai kata benda, sudah berusia sekitar 2500 tahun. Plato dan Aristoteles yang pertama kali mendefisikannya secara sistematik. Sastra didefinisikan sebagai kata benda, mencakup teks yang berbentuk puisi, prosa atau drama.

Namun dalam tulisan dua raksasa pemikir itu, dapat ditelusuri, sastra juga didefinisikan sebagai kata sifat: karya tertulis yang bernilai seni tinggi.

Kedua pemikir itu membatasi diri pada karya tertulis dan teks saja. Itu bisa dipahami. Sejenius-jeniusnya seorang pemikir ia tetap dibatasi oleh keterbatasan zamannya.

Belum terbayang oleh Plato dan Aristoteles di masa itu akan tiba era datangnya teknologi yang bisa merepresentasikan drama secara visual yang direkam dalam film, misalnya.

Untuk itulah dalam studi sosiologi dikenal apa yang disebut the social origin of ideas. Bahwa setiap ide, gagasan, termasuk definisi, ia anak kandung zamannya. Warna dari ide itu sangat dipengaruhi dan dibatasi oleh level kesadaran sosial zaman itu, baik level pengetahuan dan kepentingannya.

Oleh sebagian definisi Plato dan Aristoteles soal sastra ini diikuti seolah mantra gaib. Definisi sastra itu diperlakukan sebagai jimat, dipahat dibatu. Seolah definisi itu sabda Tuhan, yang umat manusia akan murtad jika ada satu orang saja yang lancang ingin mengubahnya. Sastra dibatasi hanya untuk karya tertulis saja.

***

Awalnya adalah perdebatan dalam bentuk celotehan di Facebook Apresiasi Sastra. Itu facebook yang membatasi diri hanya ingin mempercakapkan karya sastra saja.

Saat itu saya membuat tulisan enam seri, yang mereview 65 serial film House of Cards. Anggota yang lain banyak yang protes. Mengapa Denny JA dibiarkan menulis resensi film yang bukan karya sastra di laman facebook untuk hanya karya sastra.

Saya katakan bahwa film itu juga sastra dalam bentuk visual. Perdebatan pun terjadi. Lebih dari dunia politik, sebagian anggota memutuskan keluar dari laman Facebook itu karena admin membiarkan saya terus menulis.

Satrio Arismunandar sempat merekam perdebatan itu dalam tulisan yang dipublikasi online: Apa itu Sastra dan Bukan Sastra (Debat di Facebook).

Setelah selesai riset LSI November 2017 soal jumlah pembaca sastra, saya semakin yakin dengan proposal saya. Saatnya definisi sastra diperluas dan keluar dari penjara definisi yang dirumuskan 2500 tahun lalu. Sastra tak hanya mencakup lisan atau tulisan, tapi juga visual. Film pun termasuk karya sastra.

Ini beberapa argumen dasarnya.

Pertama, definisi tentang ekpresi hati manusia itu hidup dan tumbuh bersama dengan hidup dan tumbuhnya peradaban. Zaman yang berubah meminta definisi yang berubah juga.

Saya berikan dua contoh penting. Dalam sejarah manusia, tak ada kata yang lebih penting dari Tuhan. Seorang peneliti menelusuri arti kata Tuhan itu berubah ubah sesuai zamannya. Ia tuliskan hasil risetnya dalam buku The Evolution of God (Robert Wright, 2009)

Contoh kedua arti kata literacy, yang dekat dengan literature. Awalnya literacy ini diartikan sekedar sebagai melek (bisa) baca tulis dan aritmetika saja. Dengan datangnya era komputer, definisi literacy oleh sebagian diperluas juga sebagai melek komputer. Mereka yang tak bisa atau belum menggunakan komputer di zaman ini dianggap illiterate, sama dengan mereka yang tak bisa baca tulis di abad 18, misalnya.

Ini era sudah semakin berpindah dari teks kepada visual. Populasi, terutama anak anak muda milineal, lebih memilih info yang visual, ketimbang hanya teks saja. Saatnya sastra juga diperluas definisinya mencakup visual. Film pun termasuk sastra.

Kedua, kebutuhan manusia akan seni dan kisah fiksi itu melekat pada syaraf species homo sapiens. Usia homo sapien ini sudah 300 ribu tahun. Sementara usia peradaban tulis menulis baru sekitar 10 ribu tahun.

Apakah sepanjang sejarah manusia (300 ribu tahun – 10 ribu tahun), tak kenal sastra karena belum ada teks tertulis? Saya beranggapan sastra itu setua homo sapiens.

Sejak lahirnya kemampuan berimajinasi species homo sapiens, sastra sudah dikenal. Namun bentuknya hanyalah lisan. Sepanjang 290 tahun sejarah manusia, hanya kenal sastra lisan saja. Memaksakan definisi sasta sebagai teks tertulis semata, itu menghina species manusia selama 290 ribu tahun yang belum mengenal tulisan.

Sepanjang 10 ribu tahun kemudian, barulah dikenal sastra teks tertulis. Definisi sastrapun meluas mencakup teks dan karya tertulis.

Sepanjang 100 tahun belakangan ini, peradaban pun tumbuh dengan teknologi visual. Drama dalam teater yang dipentaskan dalam panggung dapat direkam, diedit, ditambah dengan adegan lain, menjadi film.

Sekali lagi, definisi sastra meluas mencakup visual.

Berdasarkan sejarah homo sapiens, saya beranggapan sastra itu ekspresi seni baik dalam bentuk lisan, tertulis ataupun visual.

Ketiga, ini menyangkut trend manusia manusia modern. Survei LSI 2017 menanyakan apakah ibu bapak pernah membaca setidaknya satu buku sastra (puisi, prosa atau drama) setahun belakangan ini? Yang menjawab membaca hanya 6 persen.

Tapi jika ditanya apakah ibu dan bapak menonton setidaknya satu film atau sinetron di TV atau di bioskop dalam setahun ini? Yang menjawab menonton di atas 80 persen.

Inilah realita zaman baru, suka atau tak suka. Manusia modern era milineal semakin Di bacaan fiksi panjang teks dan memilih medium visual.

Sebagian berkesimpulan sastra sudah ditinggalkan karena hanya dibaca 6 persen. Saya menjawab, sastra tak pernah ditinggalkan. Hanya mediumnya yang berubah. Medium yang dipilih zaman milineal adalah sastra berbentuk visual.

Definisi yang saya ikut majukan tentu saja hanya satu bentuk variasi definisi saja. Sekaligus ini sebuah seruan. Jika ingin menulis sastra dan menjangkau audience yang lebih luas, buatlah karya sastra dalam bentuk visual. [November 2017]

Oleh: Denny JA

SHARE
Comment