Pemikiran Adi Sasono: Menerobos Fundamental Ekonomi Rakyat

Pemikiran Adi Sasono: Menerobos Fundamental Ekonomi Rakyat

SHARE
http://assets.tokohindonesia.com/berita/ti_1949365ADI-SASONO4-04780x390.JPG
http://assets.tokohindonesia.com/berita/ti_1949365ADI-SASONO4-04780x390.JPG

Oleh Adi Sasono (Mantan Menteri Koperasi dan UKM)

 

Pengantar:

Tulisan Adi Sasono ini akan menelaah dan memberikan analisis bagaimana jalan keluar yang sebaiknya bagi aktivitas ekonomi rakyat. Tindakan-tindakan strategis ditawarkan untuk mengoptimalisasikan potensi ekonomi rakyat ke depan.

 

Ekonomi rakyat adalah kegiatan atau mereka yang berkecimpung dalam kegiatan produksi untuk memperoleh pendapatan bagi kehidupannya. Mereka itu adalah petani kecil, nelayan, peternak, pekebun, pengrajin, pedagang kecil dan lain-lain, yang modal usahanya merupakan modal  keluarga (yang kecil), dan pada umumnya tidak menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga. Kendati potensinya luar biasa besarnya, namun akses untuk mengembangkan dirinya terbentur pada persoalan fundamental baik yang bersifat internal maupun eksternal.

Sesungguhnya istilah ekonomi rakyat atau ekonomi kerakyatan sudah lama diperkenalkan. Yang paling populer diperkenalkan oleh Bung Hatta, terutama tatkala beliau menulis di koran Daulat Rakjat pada tahun 1931.

Setelah sekian lama tenggelam dalam wacana publik (public discourse), tiba-tiba secara formal istilah ekonomi kerakyatan diintrodusir kembali tahun 1997 oleh seorang konglomerat, yang sangat berkuasa, untuk mengganti istilah ekonomi rakyat yang tidak disukainya.

Kemudian berhasillah konsep itu masuk TAP MPR yaitu TAP Ekonomi Kerakyatan No. XVI/1998. Dan istilah ekonomi kerakyatan ini kemudian semakin dimantapkan dalam banyak TAP-TAP MPR berikutnya termasuk kemudian UU No. 25/2000 tentang Propenas. Bahwa konsep Ekonomi Kerakyatan ini merupakan konsep politik yang dipaksakan, nampak kemudian dari penggunaannya yang simpang siur. Dan puncak dari kesimpang siuran ini berupa keraguan (Presiden Megawati dalam pidato kenegaraan 16 Agustus 2001).

Istilah ekonomi rakyat, suatu istilah baku yang sudah dimengerti siapapun, tentunya mereka yang mau mengerti. Di fakultas-fakultas Pertanian dikenal istilah smallholder terjemahan dari perkebunan rakyat, disamping istilah-istilah pertanian rakyat, perikanan rakyat, pelayaran rakyat, industri rakyat, dan tentu saja perumahan rakyat (Mubyarto, 2001).

Istilah ekonomi rakyat adalah istilah ekonomi sosial (social economics) dan istilah ekonomi moral (moral economy), yang sejak jaman penjajahan dimengerti mencakup kehidupan rakyat miskin yang terjajah. Bung Karno menyebutnya sebagai kaum marhaen. Jadi ekonomi rakyat bukan istilah politik populis yang dipakai untuk mencatut atau mengatas namakan rakyat kecil untuk mengambil hati rakyat dalam Pemilu.

Ekonomi rakyat adalah kegiatan atau mereka yang berkecimpung dalam kegiatan produksi untuk memperoleh pendapatan bagi kehidupannya. Mereka itu adalah petani kecil, nelayan, peternak, pekebun, pengrajin, pedagang kecil dan lain-lain, yang modal usahanya merupakan modal keluarga (yang kecil), dan pada umumnya tidak menggunaan tenaga kerja dari luar keluarga.

Tekanan dalam hal ini adalah pada kegiatan produksi, bukan konsumsi, sehingga buruh pabrik tidak masuk dalam profesi atau kegiatan ekonomi rakyat, karena buruh adalah bagian dari unit produksi yang lebih luas yaitu pabrik atau perusahaan. (Sritua Arif, 1997,23). Meskipun sebagian yang dikenal sebagai UKM (Usaha Kecil Menengah) dapat dimasukkan ekonomi rakyat, namun sebagian besar kegiatan ekonomi rakyat tidak dapat disebut sebagai usaha atau perusahaan (firm) seperti yang dikenal dalam ilmu ekonomi perusahaan. (Roland Claphamnd,1991,45). [bersambung]

1
2
3
4
5
6
7
SHARE
Comment