Home Opini Pendidikan Karakter dan Kecerdasan Spiritual

Pendidikan Karakter dan Kecerdasan Spiritual

Apa yang disebut manusia, pada hakikatnya, adalah bagaimana karakternya. Bisa saja ia berbentuk manusia, tapi kalau karakternya seperti anjing – suka menjilat ludahnya sendiri – apakah ia pantas disebut manusia?

Realitasnya dalam kehidupan sehari-hari, tak sedikit orang yang bentuknya manusia, tapi karakternya seperti anjing; seperti babi (suka makan kototoran, bahkan makan kotorannya sendiri); seperti kecoa (senangnya berada di tempat kotor); dan lain-lain. Manusia seperti itu, pinjam istilah Qur’an, adalah manusia yang sangat rendah derajatnya (At-Tin 5).

Bagaimana sosok manusia yang karakternya rendah itu? Lihatlah kalau orang itu sedang marah. Orang yang jika marah dari mulutnya keluar kata-kata “aneka binatang” maka pada hakikatnya sifat orang tersebut “mirip-mirip” dengan nama-nama binatang yang dilontarkan mulutya. Itulah sebabnya Rasulullah Muhammd SAW, mengajarkan, jika orang beriman marah, ucapkan Astaghfirullah. Maafkan hamba Ya Allah! Bukan kata, anjing lo; bangsat lo; kecoa lo!

Dari pendekatan inilah, pendidikan karakter amat penting untuk memanusiakan manusia. Karenanya, pendidikan karakter merupakan inti dari tujuan pendidikan itu sendiri. Karena pendidikan karakter merupakan inti dari tujuan pendidikan, maka seharusnya semua aspek pendidikan harus mengarah pada pendidikan karakteter.

Pelajaran matematika yang menekankan aspek logika matematis, misalnya, harus berujung pada pembentukan karakter manusia yang logis. Pelajaran ekonomi yang menekankan aspek kemanfaatan dan utilitas sebuah benda untuk kemudian dinilai secara ekonomi, maka ujung dari pelajaran itu, harus membentuk manusia yang bermanfaat untuk kehidupan sesama.

Begitu pula dengan pendidikan fisika, engineering, kedokteran, ekonomi, dan lain-lain. Tujuan intinya adalah membentuk karakter manusia yang lebih baik, yang berguna untuk kehidupan . “Aku sesungguhnya diutus Allah untuk memperbaiki karakter (akhlak manusia),” sabda Rasulullah.

Rasulullah, misalnya, dikenal sebagai pebinis yang handal dan jujur; sehingga saudagar kaya seperti Khadijah mempercayakan pemuda Muhammad untuk menjadi “manajer perusahaan dagangnya”. Tapi ujung dari semua itu, setelah berkecimpung dalam dunia bisnis, Muhamaad pun tumbuh menjadi manusia yang sidiq (benar, perkatan in line dengan perbuatan), tabligh (informatif, apa adanya), fathonah (cerdas, smart), dan amanah (jujur, kredibel).

Harvard Business School, sekolah bisnis ternama di AS, kini tengah mengembang “sekolah bisnis” dengan basis empat sifat Rasulullah tersebut. Karena hanya bisnis yang jujur, kredibel, dan peduli kemanusiaan – tulis Joseph Stiglitz, nobelis ekonomi (2001) — yang akan abadi dan memperbaiki kehidupan manusia. Rasulullah telah melakukannya 15 abad lalu. Jadi, pendidikan karakter adalah muara dari semua tujuan pendidikan itu sendiri.

Dunia saat ini semakin kompleks. Dalam dunia yang makin kompleks ini manusia tidak hanya butuh kecerdasan intelektual dan emosional untuk mengatasi persoalan kehidupannya, tapi juga butuh kecerdasan spiritual (spiritual quotient). Dan kita tahu, kecerdasan spiritual adalah inti dari tujuan pendidikan karakter tadi. Ini terjadi karena pada dasarnya, pinjam Teilhard de Chardin, manusia adalah makhluk spiritual.

Menurut Imam Ghazali, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan ruhani untuk mencapai kesucian jiwa. Dan kecerdasan spiritual – ungkap Stephen R. Covey, penulis Seven Habits The 7 Habits of Highly Effective People — adalah basis dari kecerdasan yang lain. Kecerdasan spiritual inilah, lanjut Covey, yang mewakili kerinduan manusia akan makna hidup dan hubungannya dengan Yang Tak Terbatas. Jika kerinduan kepada Yang Tak Terbatas itu telah membuncah pada hati manusia, maka yang muncul di permukaan adalah karakter manusia sempurna; insan kamil yang berakhlak mulia.

Itulah tujuan akhir dari pendidikan karakter; pendidikan untuk membentuk manusia berakhlak mulia. Seperti akhlak para kekasih Tuhan yang menyintai kehidupan dan kemanusiaan.

Oleh: Reni Marlinawati
(Penulis adalah Ketua Poksi Pendidikan Komisi X DPR RI/Ketua Fraksi PPP)

Comment