Pengamat: Tambah Bobot Sapi Dinilai Tidak Efektif Menurunkan Harga

Pengamat: Tambah Bobot Sapi Dinilai Tidak Efektif Menurunkan Harga

SHARE

Publik-News.com – Pengamat Peternakan dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) Rochadi Tawaf menanggapi perihal pemerintah melalui Kementan dan Kemendag merevisi Peraturan Menteri Pertanian Nomor 49/2016 tentang Pemasukan Ternak Ruminansia Besar ke dalam Wilayah Negara RI di akhir bulan Desember ini.

Dalam aturan itu, pemerintah merivisi terkait bobot sapi bakalan yang akan diimpor dari 350 kilogram menjadi 250 hingga 500 kilogram. Namun terkait waktu pemeliharaannya tetap sama yakni 120 hari.

“Ini yang selalu saya katakan, pemerintah tidak melakukan kajian insentif terhadap persoalannya secara akademik. Harusnya diperhatikan. Kalau bakalan, berat badan 350 kilogram itu sudah maksimal. Kalau sapi bakalan menjadi 400 kilogram, dia sudah bukan jadi bakalan lagi sebetulnya, sudah masuk proses penggemukan. Kalau dipelihara akan menimbun lemak, bukan menimbun daging,” ujar Rochadi, Sabtu 31 Desember 2016.

Rochadi menambahkan, apabila bobot sapi bakalan beratnya di atas 350 kilogram, justru nanti bobot dagingnya berkurang karena sapi itu sudah mengandung lemak yang banyak.

“Itu tidak efisien dan harga daging tentu tidak menjadi lebih murah, karena lemak itu enggak dimakan, dibuang. Harga dagingnya, ya tetap jadi mahal,” ucapnya.

Sedangkan harapan pemerintah untuk mengubah revisi aturan terkait bobot sapi bakala ini nantinya bisa menekan harga daging sapi di pasar. Yakni dengan menyisiasati turunnya harga sapi bakalan yang akan dibeli feedlotter dari Australia. Hal ini karena pemerintah Australia akan menurunkan harga AUD1 per kilogram, dengan harga US$3,5 per kilogram.

Pada harapan akhirnya,  feedlotter Indonesia bisa membeli per ekor sapi bakalan menjadi US$2,5.

Sedangkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), harga daging sapi di pasar tradisional tahun ini berksisar antara Rp110 ribu hinga Rp116 ribu per kilogram. Sementara Pemerintah berupaya menekan harga di bawah Rp 100 ribu per kilogram. (Fq)

SHARE
Comment