Penjelasan Kemenag Soal Terjemahan Awliya Sebagai “Teman Setia”

Penjelasan Kemenag Soal Terjemahan Awliya Sebagai “Teman Setia”

SHARE

Publik-News.com – Pada beberapa edisi terbitan Terjemahan Al-Quran yang beredar saat ini, kata awliya pada QS Al Maidah: 51 diterjemahkan sebagai “teman setia”. Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kemenag, Muchlis M. Hanafi, menjelaskan bahwa terjemahan Al-Quran tersebut merujuk pada edisi revisi 2012 Terjemahan Quran Kementerian Agama yang telah mendapat tanda tashih dari LPMQ.

Hal ini ditegaskan Muchlis menanggapi beredarnya postingan di media sosial tentang terjemahan kata “awliya” pada QS Al Maidah:51 yang disebutkan telah berganti dari “pemimpin” menjadi “teman setia”. Postingan intu menyertakan foto halaman terjemah QS: Al maidah:51 dengan keterangan yang menyebutnya sebagai “Al-Quran palsu”.

“Tidak benar kabar yang menyatakan bahwa telah terjadi pengeditan tejemahan Al-Quran belakangan ini. Tuduhan bahwa pengeditan dilakukan atas instruksi Kementerian Agama juga tidak berdasar,” ujar Muchlis dalam keterangannya yang tersebar di kalangan wartawan, Minggu (23/10/2016).

Menurut Muchis, kata “awliya” di dalam Al-Quran disebutkan sebenarnya 42 kali dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada terjemahan Al-Quran Kemenag edisi revisi 1998-202, pada QS. Al Imran/3/:28, QS. Al-Nisa/4:139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5:57, misalnya, kata “awliya” diterjemahkan dengan “pemimpin”. Sedangkan pada QS. Al-Maidah/5:51 dan QS. Al-Mumtahanah/60:1 diartikan sebagai “teman setia”.

“Pada QS. Al:Taubah/9:23 dimaknai dengan “pelindung” dan pada QS: Al-Nisa/4:80 diterjemahkan dengan “teman-teman,” tambahnya.

Terjemahan Al-Quran Kemenag, menurut Muchlis, pertama kali terbit pada 1965. Pada perkembangannya, terjemahan ini telah mengalami dua kali proses penerbitan dan penyempurnaan, yaitu pada 1989-1990 dan 1998-2012. Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama dan ahli dibidangnya, sementara Kemenag sebagai fasilitator.

“Penyempurnaan dan perbaikan tersebut meliputi aspek bahasa, konsistensi pilihan kata atau kalimat untuk lafal atau ayat tertentu, subtansi yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat, dan aspek transiliterasi,” terangnya.

Pada terjemahan Kemenag edisi perdana 1965, kata awliya pada QS: Ali-Imran/3:28 dan QS: Al-Nisa/4:144 tidak diterjemahkan.
(Hasan)

Comment