Penjelasan Ustadz Felix Tentang Islam Universal

Penjelasan Ustadz Felix Tentang Islam Universal

SHARE

Publik-News.com – Ustadz Felix Siauw kembali menjelaskan soal Islam Universal. Dalam penjelasannya, dia menekankan bahwa Islam tidak membedakan rasa, suku, jabatan, bangsa, negara apalagi harta.

Penjelasan Islam Univestal yang demikian itu ditulis Ustadz Felix melalui akun fanpage facebokknya @ustadzFelixSiau, Senin (12/2/2018). Berikut penjelasan ustadz Felix selengkapnya.

Asalkan dia Muslim, dan memenuhi syarat, maka dimanapun dia, kapanpun zamannya, dia layak dan mampu untuk mengimami manusia dalam shalat, tak peduli siapapun makmumnya, dari negara mana, apa jabatan, atau kekayaannya

Islam tidak membedakan ras, suku, jabatan, bangsa, negara, apalagi harta. Yang paling takwa adakah yang paling tinggi. Ukurannya adalah ketaatan, sebab manusia lahir tak membawa sesuatu, pun meninggal tak membawa juga

Sama seperti saat seorang Muslim masuk ke Masjid, semua sama dihadapan Allah. Sama-sama melepas alas kaki, ruku dan sujud dengan sejajar, tahiyyat dengan waktu yang sama, menyembah Allah teratur terarah di kiblat yang padu

Dalam syariat kita tunduk pada Allah dan Rasul, adapun variasi bukannya haram dalam Islam, tapi diatur tempatnya. Indonesia punya ciri, Turki punya ciri, Cina punya tanda, Arab juga tersendiri dalam variasi cara penyembahan itu

Bila Arab punya Masjid kotak, Turki mengembangkan Masjid berkubah, Indonesia dengan Masjid beratap, ini variasi yang dibolehkan, sebab bentuk Masjid sangat terpengaruh geografis, mana bentuk yang paling cocok

Tapi tak ada yang boleh berbeda dalam syariat yang sudah baku, shalat tetap dalam bahasa Arab walau kita di Indonesia, haji tetap di Arafah meski kita lebih betah di Nusantara, itu sudah ketentuan Allah Yang Mahabenar

Haji dan umrah pun punya ketentuan, semua dari Rasulullah, dan saat melakukan sa’i Rasulullah tidak berikan batasan saat melantunkan dzikir, bahkan bercakap-cakap pun boleh. Tapi membaca teks Pancasila? Sangat berlebihan

Apa yang ingin ditunjukkan? Apa yang ingin disampaikan dengan itu? Bukankah lebih banyak kalimat thayyibah yang bisa dilafadzkan? Khawatir niat di dalam hati kita ingin menunjukkan sesuatu yang tak pantas, besok ada yang membaca UUD45 sekalian?

Islam itu universal, janganlah dibagi-bagi dengan syiar yang tak etis

Andaikan Rasulullah di depan kita, apakah Pancasila yang kita bacakan di depan beliau? atau adakah yang ingin kita katakan di hadapan beliau? Di depan Rabb pencipta kita, pemilik kabah, apa yang ingin kita sampaikan? Ya Rabb, ampuni kami, lisan kami, lintasan sombong dalam hati kami. (PN).

Comment