Perang Berdimensi Agama

Perang Berdimensi Agama

SHARE

Menurut Eric Brahm, “In virtually every heterogeneous society, religious difference serves as source of a potential conflict”.

Di Myanmar, ada 135 etnis. Di antaranya: Burma (68%), Shan (9%), Karen (7%), Rohingya (4%). Belakangan, di sana terjadi konflik asimetrik (tidak seimbang). Central Government, yang didukung organisasi Buddha, menggempur etnik minoritas Rohingya.

Alhasil, menurut United Nations, minimal 38 ribu orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Ratusan warga sipil tewas dibunuh.

Konflik di Myanmar ditriger rancunya pola “desekularisasi politik” dan “depolitisasi agama”. Adanya aktor macam Bhikkhu Ashin Wiranthu (The Face of Buddhist Terror), 969 Movement dan Ma Ba Tha (Comitte to Protect Race and Religion) membuktikan itu. Presiden Thein Sein adalah beking Wirathu. Benar kata Luc Reychler, “Power also corrupts religious organizations”.

Ashin Wirathu dan Myanmar bukan “New Kid on The Block” di soal ini. Wirathu serupa dengan Rabbi Meir Kahane (pemimpin Kach Party) yang aktif menyerang Palestina.

Bila John Paul II menyebut Protestan sebagai “rapacious wolves” di Pertemuan Domingo, Wirathu memberi label “Jackals” dan “Ular Beracun” kepada muslim.

Tidak ada sesuatu yang disebut “pure religious conflict”. Namun Violent Conflict berdimensi elemen agama bukan barang baru. Terjadi di mana-mana. Biasanya bersifat konflik ethno-national, inter-state, dan berkaitan dengan masalah ekonomi, teritorial dan eksistensi budaya.

Desember 1992, AKUF-Kriege-Datenbank menghitung ada 24 perang dengan “religious background” pecah dalam setahun. Klasifikasinya adalah violent conflict within or between religions and central government.

Sekali pun, di antara 1763 notable wars versi Encyclopedia of Wars karya Charles Phillips dan Alan Axelrod, hanya ada 123 perang agama (7%). Sekitar 2% orang terbunuh dalam Perang Agama. Termasuk 3 juta korban selama Crusades.

Perang berdimensi agama antara lain Burma: Buddhist vs Christian (1948), Bangladesh: Buddhist vs Kristen (1973), Ethiopia (Oromo): Muslim vs Central Govt (1976), dan Mali-Tuareg Nomads: Muslim vs Central Govt (1990).

Diamnya komunitas Buddhist internasional bukan sikap yang benar. Baru HH Dalai Lama dan Lieus Sungkharisma (Tokoh Buddha Indonesia) yang mengutuk potentially genocide Burma terhadap Muslim Rohingya. Selebihnya, mereka bermain kata-kata, dengan menyatakan itu bukan Perang Agama. Malah ada biksu Thailand bernama Maha Aphichat terbuka mendukung agitasi Wirathu.

Padahal, peran bystanders bisa mempengaruhi situasi. Contohnya, ekspresi simpati atau antipati dari Kepala Cittadel del Vaticano Pius XII, sebagai representatif 500 juta Katolik, bisa mencegah eskalasi kekerasan di World War II.

Hans Kung benar saat menyimpulkan, “world peace is impossible without religious peace, and that the latter require religious dialogue”.

Oleh: Zeng Wei Jian

SHARE
Comment