Perbedaan Penanganan Kasus Ade Armando, Habib Riziq dan Ahmad Dhani

Perbedaan Penanganan Kasus Ade Armando, Habib Riziq dan Ahmad Dhani

SHARE

Publik-News.com – Penanganan kasus Habib Rizieq Muhammad Shihab, Ahmad Dhani dan Ade Armando cukup berbeda. Betapa tidak, Sub Direktorat Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya sudah mengehentikan penyidikan kasus dugaan penyebaran isu SARA yang menjerat Ade Armando, pengajar ilmu komunikasi Universitas Indonesia.

Ade Armando diketahui sebagai pendukung Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Sementara Rizieq dan Ahmad Dhani dikenal sebagai pihak yang anti Ahok.

Sementara, kasus yang menjerat Habib Rizieq dan Ahmad Dhani masih terus dilanjutkan. Permohonan pengacara Habib Rizieq, Kapitra Ampera yang meminta kepolisian untuk menerbitkan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) yang menjerar kliennya, tak mendapat respon positif dari Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Mochamad Iriawan.

Iriawan bilang tidak tahu cara menghentikannya proses penyidikan kasus Habib Rizieq. Dia bahkan meminta agar diajari cara menghentikan pengusutan Rizieq. Tak sampai di situ, Iriawan juga menyebut wajar jika pengacara Rizieq membela kliennya,

“Sekarang saya tanya caranya menghentikan gimana caranya. Ajarin saya. Itu tugas pengacara memang membela kliennya, pasti begitu. Tidak mungkin begini pak ini bisa dikirim kejaksaan, tidak mungkin dia ngomong gitu. Saya tidak mengerti gimana menghentikannya penyidikan, Anda tanya penyidiknya langsung coba,” ucapnya.

Hal yang sama juga dikatakan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, di Mapolda Metro Jaya ketika ditanya kasus Ahmad Dhani. Menurut Argo, ada syarat yang harus ditemput pihaknya ketika penghentikan atau mengelurakan SP3.

“Hentikan bagaimana? Kan ada syarat sendiri. SP3 itu kalau pertama tersangka mati. Kedua, kedaluwarsa dan tidak cukup bukti. Nyatakan sekarang sudah kita berkaskan. (Penyidikan) masih (berlanjut),” pungkas Argo.

Untuk diketahui, Ade Armando pernah dijadikan tersangka dugaan penyebaran isu SARA. Ade dijerat pasal 28 ayat (2) UU 11/2008 tentang ITE yang telah diubah menjadi Undang-undang nomor 19 tahun 2016 karena di media sosial Ade menulis “Allah bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayat-Nya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, China, Hip Hop, Blues.”

Kemudian, Sub Direktorat Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat mengatakan, penghentian itu setelah pihaknya meminta keterangan saksi ahli.

“Iya benar sudah ada SP3, tapi itu sudah lama dikeluarkan. (Ade) sudah tersangka, lalu kami memeriksa saksi ahli karena ada keterangan yang tidak masuk pada pemeriksaan sebelumnya,” katanya.

Habib Rizieq sudah menyandang status tersangka pelecehan simbol negara, Pancasila dan Proklamator RI, Soekrno di Mapolda Jawa Barat. Dia dijerat dengan Pasal 154a dan 320 KUHP dengan ancaman hukuman paling berat empat tahun penjara.

Adapun Ahmad Dhani dijadikan tersangka atas dugaan makar dan pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. (HR)

Comment