Perguruan Tinggi Sebagai Penggerak K-economy

Perguruan Tinggi Sebagai Penggerak K-economy

SHARE

Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa pendidikan mempunyai peranan sangat penting dalam mengisi seluruh sektor pembangunan. Intinya ada dua esensi pendidikan, yakni penataan perilaku serta penguatan keterampilan seseorang (peserta didik). Secara sistem keduanya difasilitasi melalui pendidikan dasar, menengah, dan tinggi dengan berbagai variannya.

Hasil pendidikan itu kelak akan mengisi berbagai sektor kehidupan baik sebagai warga negara ataupun sebagai warga dunia. Maka dari itu, negara-negara maju selalu memprioritaskan aspek pendidikan ini secara serius. Contoh yang akhir-akhir ini sering kita lihat adalah kesungguhan negara-negara Scandinavia dalam menangani pendidikan.

Pendidikan karakter akan menjadi fondasi seseorang dalam menjalankan berbagai kegiatan kehidupan dimanapun berada. Secara sistem, fondasi ini diberikan dalam porsi yang banyak di tingkat pendidikan dasar. Kemudian porsi ini menurun digantikan oleh komponen keilmuan dan keterampilan pada jenjang pendidikan berikutnya. Jadi, pendidikan dasar ini menekankan soft competence (kompetensi lunak).

Pada jenjang menengah dan tinggi, walaupun kompetensi lunak akan tetap ada, komponen keilmuan dan keterampilan sudah mulai masuk. Dengan bekal kompetensi lunak yang sudah cukup baik, jenjang pendidikan tinggi fokus ke komponen kompetensi keras (hard competence) secara komprehensif.

Di sinilah letak penguatan sains dan teknologi untuk pengembangan ilmu serta aplikasinya di dunia usaha dan industri. Model ekonomi inilah yang disebut K-economy atau ekonomi berbasis sains dan teknologi. K-economy ini ditandai dengan tingginya indeks kompleksitas ekonomi dan kompetitif global sebuah negara.

Kompleksitas ekonomi berkaitan dengan nilai ekspor- impor serta penetrasi sains dan teknologi terhadap industri. Bila suatu kegiatan industri tidak mengandung banyak teknologi atau teknologinya masih sederhana, maka nilai kompleksitasnya rendah. Nilai kompleksitas ini berkorelasi positif dengan nilai tambah produk, ekspor produk bernilai tinggi, bukan sekedar bahan baku berbasis luas hamparan atau kekayaan sumber daya alam (SDA).

Dari sini terlihat betapa pentingnya riset dan inovasi dalam meningkatkan indeks kompleksitas ekonomi sehingga negara semakin maju, kaya, dan sejahtera. Secara umum bisa dikatakan “the more innovative the nation, the more advance the country”. Semakin inovatif sebuah negara, semakin maju negara itu. Artinya, kemajuan negara itu sangat berkaitan dengan SDM bukan SDA.

Negara-negara maju walaupun tidak mempunyai kekayaan SDA yang melimpah, tetapi sangat kuat dalam penetrasi sains dan teknologi ke dunia industri. Negara-negara inilah yang dapat mengatur berbagai harga komoditas dalam perdagangan dunia. Negara model ini semakin kuat dan bebas (powerful independent country). Adapun negara yang hanya mengandalkan kekayaan SDA tanpa kekuatan sains dan teknologi akan terus menjadi negara tergantung dan lemah (powerless dependent country).

Banyak riset menunjukan bahwa kompleksitas ekonomi itu berkaitan dengan kekuatan Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi yang hanya menekankan pada pengajaran, apalagi berpola konvensional, tidak mempunyai kekuatan riset, akan sulit menggerakkan roda ekonomi dan industri negara. Pada intinya riset itulah yang bisa mencari jawaban atau solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh industri. Untuk itu PT tidak boleh jauh dari industri.

Kedekatan PT dengan industri diperlukan untuk pengembangan-penguatan kurikulum serta kegiatan riset. Dalam hal kurikulum, PT yang tidak mengajak industri, tidak akan mampu meramu kurikulum sesuai dengan kebutuhan lapang. Selain itu, kasus-kasus nyata industri dapat memperkaya buku teks, contoh kasus di kelas, serta keterbukaan mahasiswa dan dosen dalam menghadapi kenyataan.

Kedekatan PT dan industri dapat melibatkan langsung praktisi industri pada perkuliahan, sehingga bisa memperkaya informasi praktis. Begitu juga PT dapat menugaskan dosen untuk magang di industri supaya dosen mempunyai pengalaman lapangan.

Dalam hal riset, tentu PT sangat memerlukan industri. Sesuai dengan siklus keilmuan, perkembangan teori dan aplikasinya banyak distimulir oleh kebutuhan lapang. Dalam konteks ini, tentu industri mempunyai kebutuhan riel baik untuk mencari solusi atau pengembangan produk. Produk apapun pasti memerlukan perbaikan akibat berbagai perubahan dunia termasuk pasar, perilaku manusia, lingkungan alam, dan model bisnis internasional.

Dus kerjasama PT dan industri semakin mendesak. PT yang tidak melibatkan industri akan sulit berkembang. Akan begini-begini saja, tidak memberikan kontribusi SDM yang handal, kreatif, dan inovatif.

Lalu bagaimana dengan pemerintah? Tentu akan sangat diperlukan karena berkaitan dengan kebijakan,regulasi, dan perijinan. Mindset aparat harus terbuka, bertindak cepat, dan berpikiran maju, bukan mencari kekayaan dari perijinan dan birokrasi yang “njelimet”. Pemerintah harus memfasilitasi kemudahan perijinan serta insentif pajak bagi PT dan industri yang melakukan kerjasama.

Kebijakan-kebijakan yang pro pada K-economy niscaya akan meningkatkan indeks kompleksitas ekonomi dan kompetitif global. Keharmonisan antara PT, pemerintah, dan industri inilah yang disebut triple-helix. Saat ini model triple-helix ini tidak begitu berjalan, sehingga indikator-indikator Indonesia yang berkaitan dengan kemajuan ekonomi selalu rendah.

Oleh: Asep Saefuddin
(Penulis adalah Rektor Universitas Trilogi/Guru Besar Statistika FMIPA IPB)

SHARE
Comment