Peringatan Untuk 9 Naga

Peringatan Untuk 9 Naga

SHARE

Saat ini, rakyat Indonesia sudah terlalu sering menjadi korban penjajahan para kapitalis hitam yang dijuluki dengan nama 9 Naga. Para 9 Naga ini dikenal sangat rakus, tidak pernah puas dengan kekayaannya yang sudah melimpah ruah.

Berdasarkan data dari World Bank tahun 2016 kekayaan 4 orang terkaya setara dengan kekayaan 100 juta rakyat Indonesia. Mereka menguasai sumber daya alam, perdagangan, industri manufaktur, perbankan, asuransi, perkapalan, properti, dan sektor-sektor lainnya. Negara menjadi semakin tidak berdaulat dan semakin tunduk terhadap perintah 9 Naga. Terbukti pemerintah tidak berani tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran hukum yang mereka lakukan.

Salah satunya yaitu kelembutan Pemerintah terhadap Aguan yang sempat dicekal KPK terkait kasus reklamasi di tahun lalu. Pemerintah malahan mengundang Aguan ke istana untuk dirayu agar melaporkan pajak dengan benar. Presiden seolah-olah tidak berani menggunakan perangkat hukum untuk menjerat para penunggak pajak besar itu.

Beberapa waktu lalu Sri Mulyani pernah mengatakan, diantara orang terkaya ada 8 orang yang tidak memiliki NPWP, namun faktanya Sri Mulyani pun tidak bisa tegas menindak orang-orang kaya tersebut yang tidak memiliki NPWP. Namun sebaliknya, pemerintah keras terhadap rakyat kecil. Subsidi listrik dihapus, petani tebu dipajaki, penunggak rumah susun diusir, dst. Atas dasar ini rakyat berkesimpulan pemerintah sudah tunduk di bawah lutut para sembilan naga ini, mirip seperti patung Jendral Sudirman yang tingginya hanya di bawah lutut patung Jendral perang China di Tuban.

Sembilan Naga adalah musuh Rakyat Indonesia, mereka penjajah bangsa Indonesia, merekalah yang selalu menghambat kenaikan upah minimum regional kaum pekerja, merekalah yang selalu merekayasa harga pasar rumah yang begitu tinggi sehingga tidak terjangkau oleh kaum pekerja, merekalah yang suka mencuri ikan para nelayan, merekalah yang membawa lari uang Indonesia keluar negeri untuk menghindari pajak, merekalah antek-antek neoimperiaalis neolkolonialis Cina yang tidak memperdulikan hak-hak rakyat pribumi bahkan mereka telah merampas aset negara dan tanah-tanah rakyat secara ilegal, masih banyak lagi daftar dosa yang sudah dicatat oleh para aktivis yang cinta bangsa dan negara Indonesia. .

Kami Rakyat Indonesia, baik dari kelompok Islam maupun kelompok nasionalis pribumi Indonesia, saat ini masih menunggu dan mencoba untuk tetap bersabar, karena kami masih percaya bahwa demokrasi lah jalan terbaik buat bangsa Indonesia untuk menggapai cita-cita Proklamasi kemerdekaan 1945, meskipun demokrasi telah dicabik-cabik dengan kecurangan-kecurangan secara sistematis dan terencana, kami masih tetap bersabar. Kami masih menunggu kesadaran pemerintahan Jokowi. Apakah Jokowi berani melawan sembilan naga? Meskipun sebenarnya kami pesimis, “jangankan 9 Naga, merobohkan patung saja Jokowi tidak berani”.

Jokowi hanya berani menangkap para aktivis yang anti terhadap hegemoni Cina di Indonesia dengan penggunaan pasal karet, yaitu tuduhan makar, kejahatan ITE dan ujaran kebencian menyangkut SARA. Jika pemerintah tidak berani melawan 9 Naga maka rakyat sudah pasti akan turun ke jalan untuk berperang melawan 9 negara.

Hari ini kami memberikan peringatan kepada Sembilan Naga untuk menyerah dan tidak lagi mengintervensi pemerintahan, setelah itu mengembalikan aset-aset bangsa indonesia yang selama ini telah dikuasai secara ilegal.

Tentunya rakyat Indonesia tidak akan tinggal diam menyaksikan ambisi 9 naga yang ingin menguasai segala sektor di Indonesia, ibarat bom waktu yang kapan saja bisa meledak, kemarahanan rakyat bisa mencapai puncaknya jika pemerintah masih tidak peka terhadap keinginan rakyat.

Ingat musuh 9 Naga bukan 1.000 orang atau 10.000 orang, melainkan ratusan juta Bangsa Indonesia dari sabang sampai Merauke, yang menginginkan perubahan dan merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. “Hey 9 Naga menyerahlah sebelum semuanya terlambat!”

Oleh: Bastian P Simanjuntak
Penulis adalah Presiden GEPRINDO

SHARE
Comment