Peringati Sumpah Pemuda, Nusantara Riset 97 Gelar Diskusi “Merajut Tali Kebangsaan”

Peringati Sumpah Pemuda, Nusantara Riset 97 Gelar Diskusi “Merajut Tali Kebangsaan”

SHARE

Publik-News.com – Lembaga Nusantara Riset 97 menggelar diskusi bertajuk “Merajut Tali Silaturahmi” pada Jumat (28/10/2016). Diskusi dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-88, ini dilaksanakan di Hotel Sofyan, Cikini, Jakarta Pusat.

Hadir sebagai narasumber adalah Mantan Ketua Umum PB HMI, Hasanuddin, Mantan Ketua Umum KAMMI Taufik Amrullah, dan Direktur Riset Nusantara 87, Deni Yusuf.

Hasanuddin dalam kesempatan itu berbicara panjang lebar soal kepemimpinan dan pemilihan kepala daerah, khususnya Pilkada DKI, yang akan berlangsung pada 2017 mendatang. Menurut dia, warga Jakarta harus memilih pemimpin yang siap bekerja keras untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Nilai-nilai atau norma-norma pancasila harus dijalankan. Jangan jadi Gubernur sebagai pribadi, sama dengan Ratu Prancis yang digulingkan karena mengaku “aku adalah negara”, katanya.

Dalam konteks DKI, Hasanuddin juga menyinggung soal Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahja Purnama alias Ahok. Sebagai seorang Gubernur, Ahok tidak boleh mengelola DKI layaknya perusahaan pribadi. Ahok juga harus siap bekerjasama dengan DPRD DKI sebagai mitra kerja dalam mengambil keputusan pemerintahan yang dipimpinnya.

“Ahok itu pribadinya, Gubernur itu jabatannya. Bagaimana dia bekerjasama dengan DPRD. Itu tak bisa diabaikan. Megelola pemerintahaan jangan kayak perusahaan dia. Bagaimana dia menjadi tauladan dari nilai-nilai Pancasila itu. Itu yang harus dilakukan seorang pemimpin.

Dalam kesempatan yang sama, Taufik memaparkan tentang fase dan momentum pergerakan pemuda. Menurutnya, hampir 20 tahun perjalanan reformasi, namun belum ada momentum yang diketemukan oleh anak-anak muda kembali.

“Orde reformasi belum menemukan momentum seperti 98. 98 itu ada yang menyebut kutukan dan juga yang menyebut berkah bagi yang lain. Siklus sejarah ini adalah alarm bagi anak-anak muda,” sebutnya.

Pemuda selalu menjadi motor pergerakan. Hal tersebut tercatat dalam sejarah dan perlu dibaca kembali tentang spirit pemuda masa lalu yang sudah memperjuangan negara ini dari penjajahan.

“Kita akan menghadapi momentum dan gairah anak-anak muda seperti HMI, KAMMI dan lain sebagainya. Itu akan terbentuk satu solidaritas, penguatan dalam diri mereka, ada apa sebenarnya di dalam negara ini kok begini-biginia saja,” ucapnya.

Taufik yakin, kaum muda akan terus melakukan konsolidasi untuk bangkit untuk menata negara ini ke arah yang lebih baik. Kendati ada kelemahan anak-anak muda dalam membangun narasi, dia menegaskan bahwa anak-anak muda akan mampu membangun Indonesia.

“Kita sendiri harus menuliskan sejarah-sejarah itu. Soekarno itu anak muda saat memproklamirkan indonesia, umur 27 memproklamirkan PNI. Konsolidasi akan memudahkan untuk mempercepat, kalau tidak, generasi kita akan mempercepat momentum dan membentuk sejarah. Momentum itu bukan untuk menggulingkan kekuasaan,” tukasnya.
(Hurri Rauf)

SHARE
Comment