Pesona Theologia Negativa

Pesona Theologia Negativa

SHARE

Oleh Mohd. Sabri AR

Teologi, adalah ilmu yang berhasrat merengkuh Tuhan. Tapi mungkinkah? Setidaknya Dia mewartakan Diri-Nya melalui kalam yang dipilih-Nya: bermula dari senyap ke bunyi, bunyi ke aksara, aksara yang menyusur pada sebilah arus sungai sejarah literasi yang dingin, lalu menubuh pada Kitab. Sebab itu, Rudolf Otto menyebutNya Mysterium, Tremendum et Fascinosum: Kegaiban yang menautkan antara getir dahsyat dan rindu yang menyengat.

St. Thomas Aquinas dalam selarik gagas mistik mendaku: “Quasi ignotus cognoscitur—Tuhan dikenal sebagai Dia yang tak dikenal.” Kelak inilah yang menjadi landasan theologia negativa. Jika teologi mainstream sejauh ini mengakui Tuhan dengan menampilkan sisi positifnya atau via affirmativa—baik melalui nama-nama, sifat, atau pun cipta-Nya—maka teologi ini mengakui Tuhan dari sisi negatif atau via negativa. “Teologi negatif” memang wacana  yang sedikit ganjil dalam studi agama. Denys Turner, dalam The Darkness of God (1995) lebih memilih untuk tidak mendefinisikannya, dan mengisyaratkan satu hal: not-saying, “tidak berkata apa-apa tentang Tuhan.”

Dalam tradisi Kristiani—penulis Mystical Theology—Dionisius Aeropagit, disebut-sebut sebagai tokoh terpenting yang mengonstruk teologi negatif. Kontribusi teoretis Dionisius terletak pertama-tama pada distingsi yang dibuatnya antara dua bentuk teologi: teologi apofatik dan teologi katapatik. Teologi apofatik mengandaikan cara berteologi yang mendekati Tuhan, berangkat dari kesadaran tentang ketidaktahuan kita tentang-Nya. Itu sebab, teologi ini mendekati Tuhan via negativa, dengan cara dan bentuk pengungkapan yang negatif. Sementara, teologi katapatik adalah cara berteologi mendekati Tuhan dengan ungkapan yang ekspresif tentang Tuhan contohnya, “Yang Maha Agung” atau “Yang Maha Bijaksana”; ungkapan-ungkapan yang ingin melukiskan kemuliaan Tuhan secara hiperbolik dan ekspresif.

Dionisius mengandaikan, pengalaman bersama “yang Ilahi” adalah pengalaman tak terlukiskan dan tak tunai dalam kalam: Tuhan adalah mysterion, misteri yang terlampau sulit untuk dijelaskan. Dia adalah Deus Absconditus, “Dia Yang Tersembunyi”. Karena itu, untuk mendekatinya, seseorang harus melepaskan segala pengetahuan yang mungkin tentang-Nya.

Bagi Dionisius, setiap uangkapan yang kita pilih tentang Tuhan akan menyisakan paradoks pada intinya. Maka iapun menyebut kondisi itu sebagai, the brilliant darkness of a hidden silence: “cemerlang kelamnya kesenyapan yang tersembunyi”. Memasuki perjumpaan dengan “yang Ilahi” berarti memasuki “kekelaman yang cemerlang”. Karena paradoks itu, maka Dionisius menasihatkan seseorang untuk menegasikan apa pun tentang Tuhan dan menggunakan negasi dalam mengungkapNya.

Tapi eloknya, bagi Dionisius, negasi itu sendiri tidaklah memadai dan musti dilampaui. Tuhan, bagi Dionisius, dapat disebut sebagai “Kegelapan dan Cahaya”, namun “Ia bukan kedua-duanya”. Dengan begitu, bukan hanya ungkapan positif tentang Tuhan yang harus dinegasikan, tetapi bahkan negasipun juga harus dinegasikan. Karena itu secara diksi dapat dikatakan, jika ungkapan positif “Tuhan adalah…” dinegasikan menjadi “Tuhan bukan…”, maka menurut pendakuan Dionisius, “Tuhan bukan adalah…” sekaligus “Tuhan bukan bukanlah…”. Di sini tampak jelas jika pemikiran Dionisius ini memberi landasan penting bagi teologi negatif sekaligus kritik atas teologi negatif.

Tokoh teologi negatif lain yang menonjol adalah seorang penulis anonim buku terkenal dari abad ke-14 yang dingin, The Cloud of Unknowing (“Awan Ketidaktahuan”), metafor yang digunakan Alkitab dalam melukiskan “perjumpaan” Musa dengan Tuhan. Dalam kondisi ini, seseorang tidak akan pernah dapat mencapai Tuhan dengan pengetahuan yang diperolehnya. Mengulang kembali semangat Dionisius, Tuhan, bagi penulis The Cloud of Unknowing  adalah mysterion. Untuk itu, penulis buku ini menganjurkan satu tahapan penting sebelum seorang masuk pada state of unknowing (“kondisi tidak mengetahui”) adalah state of forgetting (“kondisi melupakan”), yakni melupakan segala gambaran, konsep, dan imajinasi tentang Tuhan yang sejauh ini ia terima dan pikirkan.

Melewati dua kondisi tersebut—yang keduanya merupakan “kondisi pengingkaran”, state of denial—seseorang, kata sang penulis The Cloud of Unknowing, akan sampai pada “cinta”, suatu tahap yang menurutnya merupakan fase tak tercakapkan dalam pendakian ketuhanan. Cinta, disini, adalah suatu negativitas sublim di mana Tuhan telah terbebas dari apa pun yang diimajinasikan dan anggitan manusia tentang-Nya.

Mungkin itu sebab, tradisi Al-Quran menyebut Tuhan dalam nafas negasi yang mutlak: Lam yakun lahu kufuwan ahad (“Tak satu apapun yang setara Dia”—Qs.112:4) atau laysa kamistlihi syai’ (“Tak satu apapun yang dapat dimisalkan Dia”).

Tuhan via negativa, karena itu, mengandaikan  Dia yang tak terjangkau, tak terkonsepkan, tak terimajinasikan, tak tercakapkan: sebuah kesunyian mutlak yang maha senyap, tapi juga Maha Lain Penuh Cinta. Jangan-jangan, Tuhan via negativa adalah misterium yang dialami kaum mistikus: episentrum yang menyedot setiap rindu yang membuncah untuk “tercelup secara ontologis” dengan-Nya, di setiap napas waktu. Itu sebab, jalan menemui-Nya, membentang sebanyak detak jantung para perindu-Nya.[]

Comment