Pilkada Untuk Rakyat, Oleh Rakyat dan Dari Rakyat

Pilkada Untuk Rakyat, Oleh Rakyat dan Dari Rakyat

SHARE

2017 tahun depan, Sebanyak 101 daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA). Sebagaimana kita ketahui bahwa ini adalah Pilkada serentak kedua setelah Pilkada serentak pertama dilaksanakan pada akhir tahun 2015 lalu.

Hajatan tersebut tentu kemeriahannya-pun sudah mulai kelihatan melalui pemasangan spanduk, poster, famplet, brosur dan berbagai media-media periklanan lainnya, serta mengambil tempat yang tak pandang bulu, apakah itu jalan raya, tiang listrik, tembok-tembok, bahkan sarana ke-agamaan seperti masjid maupun gereja (begitulah kira-kira). Pilkada memang telah mendapatkan perhatian dan fenomena baru dalam sistem kehidupan bermasyarakat Indonesia.

Perubahan sistem politik yang selama era Orde Baru bersifat dari atas kebawah berubah drastis menjadi dari bawah ke-atas. Jika dulu sistem perwakilan yang menjadi lumbung dari ”aspirasi rakyat” maka kini secara langsung, masing-masing individu selama memiliki persyaratan yang diatur dalam undang-undang pemilihan kepala daerah memiliki haknya masing-masing untuk menentukan sikap siapa yang akan mereka percayakan menjadi ”imam” dalam memimpin daerah selama lima tahun kedepan.

Siapapun ia, petani-kah, pedagang-kah, dosen-kah, orang kaya-kah, orang miskin-kah, laki-laki-kah, perempuan-kah, dsb memiliki hak yang relatif sama dalam momentum pilkada ini.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimanakah pelaksanaan pra pilkada dapat diarahkan semata-mata demi hadirnya kehidupan demokrasi yang senantiasa lebih dan lebih baik lagi bagi masyarakat didaerah dimana pilkada berlangsung?

Pra Pilkada

Masa sebelum pelaksanaan pilkada, adalah masa dimana para kandidat bersama tim sukses berupaya untuk memperluas dan memperlebar pengaruh-pengaruh politik terhadap konstituen. Dalam berbagai kajian ilmu politik, hal ini disebut kampanye.

Dalam linguistik Jerman, Kampanye disebut “Wahlkampf” yang makna harfiahnya dapat diartikan “perang pemilihan umum”. Selanjutnya tesis filosofis Carl Von Clausewitz, seorang Jendral dan penulis dibidang militer menyatakan bahwa angkatan perang merupakan sarana untuk mencapai tujuan perang, yaitu kemenangan, namun kemenangan hanyalah tujuan antara untuk mencapai tujuan akhir yaitu kedamaian.

Senada dengan perang ala militer, maka perang pemihan kepala daerah (pilkada) seharusnya juga dijiwai dengan semangat perang sebagaimana disebutkan sebelumnya, yaitu semangat untuk mencapai kemenangan, dimana kemenangan hanyalah merupakan target antara, untuk mencapai target yang hakiki yaitu menyejahterakan kehidupan masyarakat yang bernaung dibawahnya. Sebagaimana yang tercantum didalam pembukaan undang-undang dasar-45, yang berbunyi

”… untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia…”

Menyejahterakan dan mencerdaskan merupakan dua kata kunci, yang wajib hadir menjiwai semangat dan niat para calon-calon kepala daerah, sebagai mana hadist Rasulullah SAW ”sesungguhnya segala amalan itu tergantung pada niatnya”. Mempertegas kembali, maka menyejahterakan dan mencerdaskan adalah dua niat utama yang harus ”dilafadzkan” oral, di cam-kan dalam kepala serta di-integralkan dalam jiwa para calon kepala daerah, selain niat besar yang menyelimuti kedua niat luhur tersebut, yaitu upaya mengabdi dan beribadah kepada Tuhan YME, sekiranya niat ibadah tersebut hanya berada dalam oral sang pelaku, sedangkan kepala dan hatinya menyimpan maksud buruk yang tak lebih dari urusan duniawi, maka bersiaplah akan sesuatu yang buruk menimpanya, sebagaimana ucapan Leo Tolstoy ”Tuhan Tahu tapi Menunggu” .

Selanjutnya niat tersebut haruslah juga didukung oleh kemampuan ”visioner”. Dalam kaidah Jawa, maka Raja dianggap sebagai titisan dewa, sehingga hal-hal baik-lah yang berada didalam dirinya. Pada keyakinan lain, Sokrates menyatakan bahwa

”Dewa mencampurkan emas kepada beberapa orang, perak kepada orang lain sejak saat mereka dilahirkan, tetapi perunggu dan besi kepada mereka yang ditakdirkan sebagai pengrajin dan petani”.

Penulis-pun berkeyakinan, bahwa jiwa dan kemampuan memimpin adalah sesuatu yang diberikan oleh Tuhan, sekali lagi sifatnya pemberian, dan tidak banyak orang yang memperoleh bakat mulia tersebut. Sehingga sebagaimana yang dikatakan Tzun Zu, dalam “The Art of War” kenali dirimu, maka seseorang yang memiliki maksud untuk menjadi calon kepala daerah harus benar-benar meyakini bahwa diri-nya memiliki kemampuan untuk memimpin, bukan hanya faktor uang, popularitas, keluarga yang besar, dukungan yang banyak dan sebagainya, lebih dari pada itu, keyakinan akan kemampuan untuk dapat membangun jiwa dan badan rakyat (sebagaimana syair lagu Indonesia Raya) memang dimilikinya.

Kampanye Hitam

Kampanye politik yang diidasari oleh hal-hal diatas, dimana calon melakukan komunikasi langsung dengan konstituen, penyampaian visi misi (janji-janji), juga dituntut untuk dapat menyampaikan hal-hal yang benar-benar akan mampu direalisasikan, bukan sebagaimana cerita ayah mengenai seorang pengkhayal yang bermimpi memiliki sepasang bebek, lalu diternakkan hingga berjumlah ribuan ekor, yang kemudian telurnya dijual dan dibelikan sapi dan beroleh hasil yang serupa, namun setelah terjaga dari tidur keesokan harinya si pengkhayal kembali melakukan aktifitas yang sama yaitu menganggur dan kembali berkhayal, akan tetapi janji-janji tersebut memanglah diketahui calon bagaimana strategi dan taktik untuk dapat menggapainya.

Sebagai catatan (btw) sebagian besar para calon kepala daerah dalam berkampanye selalu menjanjikan pendidikan murah, pelayanan kesehatan murah, sembako murah dsb yang murah-murah. Penulis khawatir, janji-janji ”murah” ini keluar dari kandidat yang juga ”murahan”. Atau kemudian janji untuk menyejahterakan petani, pedagang, pegawai negeri sipil atau kelompok masyarakat lainnya.

Siapa yang tidak mau murah ataupun sejahtera, masalahnya ketika sang pengucap janji-pun tidak memahami janjinya, sekedar omong besar pepesan kosong yang nyaring sebagaimana ”tong kosong yang nyaring bunyinya”. Jika dipertanyakan secara serius, bagaimana memungkinkan visi misi itu menjadi kenyataan, bagaimana strateginya, dari mana dananya, apa kira-kira hambatannya dan bagaimana solusi menghadapinya, lalu tergagapnya dia, celaka sudah.

Bagi penulis inilah yang merupakan bagian pertama dari kampanye hitam (black campaign), ketika janji-janji yang diucapkan, tak lebih dari bualan belaka dan sangat manipulatif. Memberikan harapan kosong kepada masyarakat yang pasti sangat berharap akan hadirnya kehidupan yang lebih baik.

”Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Menghargai Jasa Para Pahlawan”. Terlepas bagaimana memandang Bapak Soeharto, kalimat ini adalah kalimat yang bagi penulis sangat meng-Indonesia, yaitu menghargai dan menghormati sekecil apapun jasa yang telah diberikan seseorang (para pemimpin).

Terlepas dari mendukung atau menolak, tentu dengan model politik yang demikian tidak mendidik, biar bagaimanapun semangat hidup kita sebagai Bangsa yang beradab, yang diajarkan untuk saling menghargai dan menghormati harus dijunjung tinggi.

Seandainya-pun ada kesalahan yang dilakukan oleh pemimpin sebelumnya, jika secara hukum biarlah proses hukum yang menindaklanjutinya, sedangkan jika berupa minimnya kebijakan-kebijakan, maka sampaikan secara baik, jangan langsung melecehkan karena belum tentu kita bisa berbuat yang lebih baik dari orang yang kita lecehkan.

Sesuatu yang baik, jika disampaikan secara baik, maka pasti akan baik pula penerimaannya oleh masyarakat dan sebaliknya jika sesuatu yang baik disampaikan dengan tidak baik, maka tentu tidak baik pula penerimaan dari masyarakat.

Oleh karenanya perlu sportifitas yang tinggi jika ingin menjadi pemimpin pada suatu daerah (Kab/Kota/Provinsi) karena esensi dari seorang pemimpin, bagaimana dia memberi tauladan kepada yang dipimpinnya.

Jangan memberikan slogan-slogan yang akan mengeruhkan akal sehat masyarakat, sekali lagi kita harus saling mengingatkan, tidak ada satu biji zarah kejahatan-pun yang tidak akan mendapat balasan dari Allah, dan sebaliknya, dan seperti apa yang dikatakan Leo Tolstoy ”Tuhan Tahu tapi Menunggu”, maka ketahuilah, siapa yang memberi “angin surga” maka pastilah ia akan menuai hasil dari itu juga. jangan kita menafikan prestasi dan jasa yang telah diperbuat orang, itu prinsip dasar kemanusiaan (humanisme).

Pilkada hanyalah momentum beberapa saat, yang harus menjadi pemikiran serius dan beban berat adalah bagaimana proses memimpin yang akan dijalankan kedepan jika terpilih nantinya. Sehingga memulai suatu proses niatan yang baik, jika dimulai dengan menebar benih kebencian maka dkhawatirkan apa yang nantinya akan dituai.

Bagi penulis inilah yang merupakan bagian ke-dua dari kampanye hitam (black campaign), menjual diri dengan metode menjatuhkan seseorang, dan hal tersebut bukanlah sesuatu perbuatan yang terpuji.

Mengulang pernyataan sebelumnya, bahwa pilkada hanyalah momentum sesaat dari momentum panjang dan besar yang lebih lama. Objek pembangunan adalah masyarakat, maka masyarakat yang bersatu, bahu membahu dan memiliki semangat persaudaraan yang tinggi adalah salah satu kunci dari suksesnya perjalanan pemerintah daerah mewujudkan visi dan misinya ketika berkampanye dahulu.

Dalam konteks ini, maka para calon kepala daerah, janganlah sampai memaksakan kehendaknya melalui masyarakat. Pada beberapa momentum pilkada, masyarakat dibawa kedalam alur pikiran dukungan anarkhis.

Selayaknya pertarungan maka pastilah ada yang kalah dan menang, dan masalah mendasarnya bukanlah bagaimana menang atau kalah tersebut, namun lebih daripada itu adalah bagaimana menyikapi kemenangan dan kekalahan tersebut dengan bijak. Ketika kemenangan disikapi dengan kesombongan, menghina pihak yang kalah, atau ketika kekalahan disikapi dengan tidak sewajarnya, mengistruksikan massa pendukung merusak, menghancurkan, mengancam dan sederet aktifitas lainnya, maka berduka citalah atas matinya semangat ber-demokrasi.

Kondisi dan fakta buruk demikian akan membawa perpecahan pada kelompok masyarakat, manusia dapat berencana namun Tuhan jua yang tentukan segalanya. Bagi penulis, ketika calon kepala daerah dan tim sukses tidak siap menang dan tidak siap kalah, hingga menyeret prilaku buruk dari pendukungnya merupakan bagian ketiga dari kampanye hitam.

Kesimpulan

Daerah/Kota mana yang tidak mendambakan pemimpin yang amanah, vissioner, berkomitmen dan loyal terhadap pengembangan daerah/kota dan kesejahteraan serta kecerdasan masyarakatnya. Penulis yakin hal tersebut merupakan cita dan mimpi bersama seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia dimanapun mereka berada.

Menurut Harun Yahya, ”Tidak ada sesuatu didunia ini yang terjadi secara kebetulan”, maka untuk mencapai mimpi tersebut, haruslah ada syarat yang dipenuhinya. Input yang baik, proses yang maksimal sudah barang pasti akan menghasilkan output yang luar biasa.

Kepada seluruh masyarakat yang daerahnya ikut Pilkada awal tahun depan selamat ber-pilkada, cerdaslah dalam menentukan pilihan, sebagaimana nasehat orang di Ibukota sana, bahwa 5 menit di Tempat Pemungutan Suara (TPS), akan menentukan 5 tahun nasib kita kedepan. Kepada Tuhan kita bermohon petunjuk dan perlindungan.
Oleh: Luthan TH. Daulay

SHARE
Comment