Pokemon, Inspirasi Serangga yang Jadi Wabah Dunia

Pokemon, Inspirasi Serangga yang Jadi Wabah Dunia

SHARE
http://cdn.gamer-network.net/2016/usgamer/Pokemon-Go-Shot-01.jpg

Pokemon diburu, Pokemon dimainkan. Sejak kehadiran Pocket Monsters (Pokemon): Red and Green merebak, pada 1996, banyak orang tersihir olehgame yang satu ini, bahkan hingga dua dekade kemudian.

Tak sebatas game, Pokemon juga beredar dalam wujud komik, film dan serial televisi. Semuanya membuat orang tertarik dan tekun menyimak kehidupan suatu mahkluk yang dapat dipelihara dan dilatih, bahkan memiliki kemampuan unik.

Sesuai cerita dan game-nya, setiap makhluk tersebut dapat disimpan dalam bola yang disebut pokeball. Nah, pokeball ini dapat disimpan dalam saku. Maka tak salah bila siPocket Monster juga dikenal di Indonesia dengan sebutan Monster Saku.

Sementara itu, game Pokemon sendiri terus berkembang, dari Pokemon X/Y, Pokemon Alpha Saphire sampai Pokemon Omega Ruby. Kini, adaPokemon Go yang menjadi game tersukses ke-dua dunia setelah Mario Bros. Keduanya dirilis oleh Nintendo.

Pokemon dikreasikan oleh Satoshi Tajiri dalam kurun enam tahun. Kepada Time Asia, sang pria asal Machida, Tokyo, Jepang, mengaku membutuhkan waktu begitu lama untuk terlebih dulu mempelajari sistem dan program Nintendo, juga membuat gamelain.

Ketika membuat game Pokemon, Tajiri mengaku terinpirasi serangga. Kepada Time Asia, ia mengaku sejak kecil sudah tergila-gila pada serangga. “Mereka memikat saya,” kata Tajiri yang sering mencari serangga untuk dikoleksi.

Jadi Tajiri sudah mengantongi serangga sejak lama, jauh sebelum mengenal manga serta karakter rekaan khas Jepang, dari Godzilla sampai Ultraman, sampai akhirnya mengkreasikan game Pokemon. Kini, ia mengajak banyak orang ‘mengantongi’ monster.

“Setiap kali menemukan serangga baru, itu jadi hal misterius bagi saya,” kata Tajiri kepada Time Asia. Dulu, di Jepang, menurutnya, banyak anak-anak bermain di luar ruang dan menangkap tawon dengan umpan madu di batang pohon.

“Penemuan kecil semacam itu membuat saya bersuka cita,” katanya. Lalu, ide membuat Pokemon pun muncul lantaran kini tempat berburu serangga sudah jarang akibat urbanisasi. Hutan mulai jarang, begitu pula arena bermain anak-anak.

“Kini, anak-anak kecil hanya bisa bermain dalam rumah, dan kebanyakan mereka melupakan kegiatan menangkap serangga. Tidak seperti saya,” kata Tajiri. “Saat membuatgame, ada sesuatu yang nyambung dan saya memutuskan membuat game dengan konsep itu.”

Pengalaman menangkap serangga, juga menyimak manga, Godzilla dan Ultraman, diakui Tajiri, menjadi bahan baku pembuatan game Pokemon. Kala itu, era 1996, game Pokemon hanya bisa dimainkan lewat Game Boy, lalu dikembangkan untuk banyak konsol game.

Dari game, pamor Pokemon merambah ke berbagai sektor dunia hiburan. Komik, serial kartun televisi dan film juga menyajikan cerita berbasis Pokemon dengan maskot Pikachu. Ada perbedaan cerita di setiap sektor dengan perubahan beberapa nama karakter.

Di serial televisi, diceritakan anak muda bernama Ash Ketchum yang ingin menjadi master Pokemon terbaik di dunia. Ia meninggalkan rumahnya dan keliling dunia untuk menangkap jenis Pokemon dan menaklukan master Pokemon yang lain.

Tak bertualang sendirian, Ash ditemani Brock dan Misty yang juga master Pokemon. Tajiri menjelaskan, bahwa saat serial itu dirilis, Jepang dan Amerika memiliki pemahaman berbeda. Ia merasa Amerika lebih memahami konsep Pokemon daripada Jepang.

“Di Jepang, semua orang menyukai Pikachu, di Amerika semua orang menyukai Pikachu dan Ash. Penjualan produk di Amerika pun dalam bentuk Ash dan Pikachu, tidak hanya Pikachu. Tapi saya rasa yang penting adalah aspek manusia, Anda membutuhkan Ash,” kata Tajiri.

Sementara serial televisi tetap berjalan, penggemar Pokemon juga  membeli komik dan menonton filmnya di bioskop. Mereka mencari tahu dan selalu ingin dekat Pokemon di sektor mana pun. Bahkan kartu bergambar Pokemon pun laris dijadikan benda koleksi.

Kini, dua dekade berlalu, Pokemon tetap eksis. Tentu saja ini merupakan prestasi sendiri bagi sebuah game bisa bertahan selama 20 tahun. Tajiri menjelaskan, Pokemon bagai sesuatu yang dimiliki oleh anak kecil dan ingin disimpan.

“Ketika kecil dan Anda memiliki sepeda pertama, Anda ingin pergi ke suatu tempat yang belum dikunjungi. Seperti itu lah Pokemon. Setiap orang berbagi pengalaman yang sama, tetapi setiap orang ingin membawa itu ke suatu tempat dan Anda bisa melakukan itu.” [vga/vga/cnnindonesia.com]

SHARE
Comment