Polda Metro Jaya Resmi Keluarkan Surat Penangkapan Habib Rizieq

Polda Metro Jaya Resmi Keluarkan Surat Penangkapan Habib Rizieq

SHARE

Publik-News.com – Penyidik Polda Metro Jaya telah mengeluarkan Surat Perintah Penangkapan terhadap tersangka kasus dugaan pornografi, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan pengeluaran Surat Perintah Penangkapan terhadap Habib Rizieq tersebut karena Habib Rizieq tak kunjung kembali ke tanah Air, Indonesia.

“Perkembangan tindak lanjut dari pada penyidik berkaitan dengan kasus tersangka Pak Rizieq Shihab, penyidik sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan,” ungkap Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (30/5/2017).

Menurut Argo, aparat kepolisian akan menjemput Habib Rizieq dimanapun dia berada, termasuk di Luar Negeri. Jika tidak ada di dalam negeri, penyidik akan berkoordinasi dengan pihak Imigrasi. Sementara itu, polisi yang ditugaskan menangkap akan dibekali surat perintah.

“Kemudian setelah dari rumah tersangka akan ke Imigrasi akan menanyakan, mencari informasi kira-kira memastikan keberadaan tersangka itu dimana,” katanya.

Untuk diketahui, Habib Rizieq menjadi tersangka kasus dugaan penyebaran percakapan dan foto berkonten pornografi oleh penyidik Polda Metro Jaya. Polisi mengaku sudah memiliki dua alat bukti yang cukup untuk menetapkan Habib Rizieq sebagai tersangka.

Dalam kasus ini, Habib Rizieq dijerat Pasal 4 ayat 1 junto Pasal 29 dan atau Pasal 6 junto Pasal 32 dan atau Pasal 9 juncto Pasal 34 Undang Undang RI nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

Seperti diketahui, Polda Metro Jaya telah resmi menetapkan Habib Rizieq sebagai tersangka dalam kasus video chat mesum yang juga melibatkan ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana Firza Husein.

Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu dijerat Pasal 4 ayat 1 junto Pasal 29, Pasal 6 junto Pasal 32 dan Pasal 9 junto Pasal 35 UU Nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara. (TK)

SHARE