Home Opini Politik Pragmatis Vs Revolusi Mental

Politik Pragmatis Vs Revolusi Mental

Dengan perkembangan dunia politik tanah air saat sekarang, kita bisa menyadari bahwa pergeseran oreantasi politik yang dulu memperjuangkan hak-hak rakyat saat ini hampir musnah, ada dasar sehinga pergeseran itu muncul. Perkembanagn dunia politik akhir akhir ini memunculkan tafsir-tafsir pragmatisme politik yang berlebihan, sadar atau tidak pergeseran itu udah jauh melenceng, pertayaanya apa bisa pergeseran itu kita balikan, atau kita cari jalur lain untuk membuat jalur baru sehinga pergeseran itu tidak terlalu jauh dan kembali sesuai jalur lagi.

Perkembagan politik saat ini dimana hasil pemilu kemarin melahirkan penguasa baru, dimana jokowi dan jusuf kalla memenangkan kompetesi pemilihan presiden dan wakil presiden, mengantikan rezim sebelumnya di era sby bodiono. Lahirnya penguasa baru melahirkan pergeseran politik nasional yang sangat daksyat dimana pemilihan legislative dimenangkan oleh lawan politik (demokrat rezim sby ) dimenangkan oleh

PDIP dimana di era sby PDIP menjadi partai yang menamakan dirinya partai oposisi, walaupun di kita tidak dikenal adanya partai oposisi, tetapi PDIP waktu itu memerankan dan menjuluki dirinya sebagai partai oposisi. Era sby telah berakhir saat ini era jokowi diman rezim ini baru berjalan hamper 2 tahun, diera jokowi ini banyak program dan kebijakan yang dilahirkan yang mereduksi program era sby.

Telah beralihnya pemerintahan apa telah menjawab dan bisa mengeser politik pragmatis ataukah menciptakan politik pagmatisme baru yang sama-sama keluar dari jalur cita-cita pendiri bangsa yang mengiginkan kesejahteraan rakyat dan memperjuangkan bangsa ini menjadi bangsa maju. Untuk menjawab pertanyaan besar ini kita harus melihat dari semua aspek, pergeseran politik pragmatisme itu muncul karena politik tidak menjadiakn landasan untuk berjuang dengan memiliki nilai, sedangkan politik idologis bagaimana politik diterapkan dengan memilki nilai yang kuat apa yang mendorong politik pragmatisme saat sekarang menjamur sedangkan politik idiologis terkesan hilang dan hampir musnah.

Kita menyadari bahwa politik itu alat untuk berkuasa dan mengatur Negara, tetapi kenapa politik saat sekarag di tafsirkan menjadi sempit, terkesan politik adalah alat untuk memperjuangkan kepentingan masing-masing, untuk kepentingan kelompok dan golonganya tertentu dan lebih terkesan memperjuangakan keingin individu-indivitu yang memilki kepentingan pribadi yang sembunyi dikepentingan rakyat.

Politik pramatisme sekarang tidak hanya dilakukan oleh penguasa semata tetapi partai politik sebagai lokomotif perpolitikan kita saat sekarang hampir semua partai mempraktekan politik pragmatisme,apa ini tanda dari politik kita udah kehilangan roh perjuanganya dalam berpolitik, ataukan partai politik terlena dengan berbagi kekuasaan yang mereka inginkan untuk sama-sama dapat manfaat dari politik yang mereka ingginkan serta melupakan apa yang seharusnya mereka perjuangkan.

Politik pragmatisme tentu tidak semuanya salah, Karena bagaimanapun politik bagi kaum politisi itu adalah alat bagaimana memperjuangkan kepentigan rakyat,tetapi memang kita sadari bahwa kebayakan kaum politisi terlena dan asik sendiri bahwa mereka hanya memperjungakan kepentinganya sendiri-sendiri dan pasti melupakan orientasi yang seharusnya mereka lakukan,maka wajar banyak sekarang orang sinis dan apriori terhadap kaum politisi terutama orang-orang yang aktivitasnya didunia politik, seperti dipartai politik

Lahirnya jokowi yang dilahirkan dari kaum biasa saja menjadi pemimpin bangsa ini menjadi titik awal adanya pergeseran, jokowi lahir menjadi presiden yang ditandai dengan meningkatnya partisipasi rakyat terhadap sosok jokowi. Jokowi menbawa harapan baru bagi rakyat yang mengiginkan perubahan kesejahteraan mereka, lahirnya jokowi bukan berarti SBY waktu memerintahnya tidak baik tetapi rakyat mengiginkan perubahan yang sangat cepat dalam merubah dirinya (rakyat).

Pertanyaanya apakah di era jokowi yang baru kurang lebih 2 tahun ini bisa menjawab harapan rakyat, atau nantinya jokowi juga melahirkan kekecewaan baru bagi rakyat. Tentu jawabanya nanti bisa dilihat dari aksi dan kebijakan jokowi selama memimpin.

Untuk mengeser kaum politis pragmatisme sebenarnya dalam pogram jokowi ada dimana dia sering gembar-gemborkan soal revolusi mental,sepemahaman saya selaku penulis bahwa yang dimaksud oleh jokowi dengan revolusi mental adalah merubah pola pikir yang cenderung stagnan dan cenderung mempertahankan status quo, yang mereka nyaman dengan keadaan yang sekarang yang serba pragmatis dan melupakan bahwa bangsa ini masih banyak kesenjagan antara kaum menengah dan kaum miskin, apa lagi kalau dibandingkan dengan kaum kaya makin kelihat perbedaanya.

Adanya pogram revolusi mental jokowi yang mengingikan adanya perubahan pola pikir yang berakibat adanya perubahan prilaku masyarakat disemua aspek. penulis melihat pogram jokowi dalam revolusi mental ini menandakan bahwa jokowi memandang bahwa kaum politisi pagmatis yang mendominasi telah menjadi jati diri yang merusak keberlangsungan bangsa ini.

Kita semua berharap diera jokowi ini bisa memberi harapan bagi rakyat.dengan mengeser kaum politisi pramatisme tidak merajarela, ataukah nanti malah diera jokowi ini melahirkan kaum politik pragmatisme baru, yang tentunya tidak kita harapkan. Mari kita simak bersama-sama kedepan apa kebijakan-kebijakan presiden sebagai lokomotif bangsa ini bisa mewujudkan pergeseran prilaku politik pramatisme menjadi politik berbasis nilai dan cita-cita luhur bangsa ini.sifat optimisme harus kita kedepankan melihat perkembagan pemerintahan jokowi yang sedang berjalan, mari kita semua kawal bersama-sama proses perjalanan bangsa ini.

Oleh: Deni Yusup, MSi
(Penulis adalah Peneliti di Nusantara Riset)

Comment